let it go

Seni “merelakan pergi”

Let it go. Let it happen. Let it be…

Pernah menangisi sesuatu yang disayangi karena hilang? Pastinya ya. Bodoh benar pertanyaan ini.

Kalau “sekadar” uang atau barang, mungkin sedihnya cepat hilang. Pengecualian untuk barang-barang bersifat memoar atau memorabilia, yah. Nah, kalau orang? Aduh…ini sungguh topik yang tidak asyik didiskusikan. Sebab, kalau bisa, inginnya kita selalu bersama-sama dengan orang-orang yang kita sayang. Kalau bisa selamanya. Benar kan? Continue reading

Cara Bikin Musim Panas Ala Jepang

Hampir sebulan belakangan, rasanya matahari lagi PDKT sama planet Pluto (Yup, dia masuk geng planet lagi gitu). Kita yang di tengah ini nih yang tidak kuaaaat dengan panasnya api asmara si matahari. Geraaaah!

Enggak cuma gerah, kayaknya serangan serangga makin merajalela juga. Semut merah? Cek! Semut terbang? Cek! Nyamuk! Cek banget! Arghhh frustasi kalau mau tidur rasanya mau sauna!

Tapi kalau mau belajar optimistik, mungkin ini kesempatan bagus untuk menikmati kemarau selayaknya musim panas di Jepang. Penggemar manga atau komik serial pasti lumayan akrab lah dengan suasana ini walaupun belum pernah ke Jepang (hahahahasamahahaha!)

Lalu, kalau mau bikin momen ala ala musim panas di Jepang, apa yang kudu disiapkan?

Semangka

Buah satu ini sudah jadi trademark alias ciri khas musim panas di Jepang. Berdasarkan survei (atas tokoh-tokoh manga), mereka semua makan semangka di musim panas! Nah, beruntung semangka mudah ditemukan di negara kita tercintah! Pilih yang merah, renyah, kalau perlu tanpa biji dan dinginkan di kulkas. Wihhh…bayangin aja seger banget!

Kaos kutung dan celana pendek

Anak-anak di Jepang sana (di komik) suka terlihat wara-wiri pakai bikini, kaos kutung alias tanpa lengan dan celana pendek plus sandal. Tujuannya sih biar asik santai di pantai atau cari serangga di tiang telepon :p nah, rumus outfit ini bisa banget menghalau gerah. Yaaah paling enggak, keteknya enggak keliatan basah hahahaha!

Furin alias keluntungan

Red furin!!! Awww!

Ini nih yang bikin kesan imitasi musim panas ala Jepang makin terasa: keluntungan! Kalau di Jepang, nyaris tiap rumah punya furin (lagi-lagi berdasarkan komik ya hahaha). Fungsinya apa sih? Ya biar hati jadi adem aja kalau dengar dentingnya yang tertiup angin walaupun udara gerah. Ting…kling ting..anting..enting..penting ahhhh sejuk dengernya!

Kipas bambu!

Terakhir, senjata untuk melawan panas adalah kipas! Biar lebih tradisional, pilih yang manual dong. Kalau enggak punya kipas bulat-bulat itu, kipas sate atau kipas kondangan juga boleeeh! Kalau tangannya udah pegel, ulur kabel, lalu keluarkan kipas angin-cintailah-produk-produk-Indonesiamu!

Nah, kalau persiapan kelar, bawa semuanya. Enggak usah jauh-jauh sampai ke pantai, cukup sampai beranda rumah saja. Selonjoran di lantai, sepiring semangka dingin di kiri, kipas di tangan, bersenjata kaos kutungan, nikmati musim panas ala Jepang di rumahmu sendiri! Semangat!!!

Enggak sengaja nemu gambar ini di wallcoo.net X) COCOK!!!

Featured Image -- 2006

23 Things Only People Who Love Spending Time Alone Will Understand

Elga Ayudi:

This has to be my second re-blog that I rarely do! Why you could describing this accurately?

Originally posted on Thought Catalog:

1. A weekend in which you have no plans, no responsibilities, and nowhere at all to be, ranks as one of the best weekends you’ll ever have.

2. Sometimes friends will try to make plans with you and you have no reason to decline except for the fact that you just want to be alone that day. (Your plan is to have no plans, people need to understand that by now, right?)

3. A good album, book, or television show can keep your attention far longer than any party, club, or bar could.

4. Going away to a remote cabin in the middle of the woods to just exist for a period of time sounds like the best idea for a vacation that you can think of.

5. There is nothing more exciting than planning a long, solo road trip, because you know you’re going to be…

View original 635 more words

Tantangan Frugal Living, Setelah 30 Hari

Akhirnya! Hari ke-30 sudah tiba!! Selesai sudah tantangan frugal living alias hidup hemat yang saya canangkan bulan ini. Lo, kok tahu-tahu sudah hari terakhir? Cerita sepanjang 30 hari mana? Ya enggak ada. Suka-suka saya ceritanya ha ha ha!

Sebelumnya, saya sudah pernah cerita bahwa saya mengawali tantangan ini dengan situasi minus. Maksudnya, awalan buruk karena duit saya juga sudah ngepas. Jadi sebetulnya, enggak bisa dilacak sahih juga sih, seberapa besar penghematan yang bisa saya lakukan. Tapi setidaknya saya bisa kasih tahu seperti apa rasanya hidup (terpaksa) hemat itu.

Pertama, rasanya seperti orang yang biasa makan nasi lalu diminta ganti kentang. Ya enggak kenyang, tanggung dan ada yang kurang. Akibatnya kadang saya suka curang. Misalnya, dengan menggunakan kartu kredit. Mengalihkan pembayaran bulan ini ke bulan depan. Jadi pos pengeluarannya jadi enggak terhitung di tantangan. Wah, bisa dikeplak nih hi hi hi!

Eitss tapi saya juga dengan bangga menyatakan penggunaan kartu kredit saya sudah berkurang lo, sekitar 30%! Saya juga tetap menabung dan berinvestasi walaupun masih belum berhasil menyisihkan dana darurat. Seharusnya, dengan durasi bekerja yang sudah saya alami, setidaknya saya sudah bisa menyimpan dana darurat sebesar tiga kali pengeluaran bulanan. Tapi namanya saya, suka saja mengorek tabungan itu untuk keperluan yang sama sekali tidak darurat. Fiuhhh…

Lha terus, apa prestasi saya selama sebulan ke belakang? Yah, walaupun kecil, ternyata tantangan 30 hari Frugal Life ini lumayan mengubah situasi dan cara pikir saya. Berikut hal-hal yang berhasil saya upayakan: Continue reading

Berpisah dengan Barang Kesayangan

Nothing last forever. Pada saatnya nanti, kita harus merelakan sesuatu atau seseorang pergi. Saya yakin, Anda semua pernah memiliki barang kesayangan, entah apapun bentuknya. Tapi namanya barang, suatu waktu ia akan berhenti berfungsi, rusak, atau hilang bukan? Sama seperti tas carrier Polo saya.

Hari ini saya memutuskan sudah waktunya untuk berpisah dengannya, lalu jadi merasa sedikit melankolis. Tas ransel ini sudah melewati tahun-tahun penuh cerita, dipanggul bahu yang berbeda-beda (karena dipinjam teman tentunya), bahkan sudah berjalan lebih jauh dari saya.

Saya membelinya sekitar tahun 2005, tidak ingat persis kapan. Saat itu, ia tergantung di salah satu bagian penjualan tas di Ramayana, Jalan Malioboro Jogja. Ukurannya besar, warnanya abu dominan hitam. Polo, mereknya. Saya jatuh cinta seketika. Apalagi, saat itu ada label potongan harga tujuh puluh persen. Keren (dan murah)!

Kalau dipikir lagi, mungkin tas itu bukan Polo asli karena seingat saya Polo hanya menerbitkan tas kopor, ransel kantoran dan baju. Atau memang ada tas-tas gunung? Ah, tidak penting. Buat saya yang baru senang-senangnya ikut unit kegiatan mahasiswa (UKM) pecinta alam, pertemuan dengan tas ini seperti sudah ditakdirkan.

Ukuran besar si Polly, sebut saja begitu (saya baru kasih nama sekarang), sangat cukup membawa banyak barang. Bahkan saya baru sadar kalau ukuran ini sepertinya lebih cocok untuk cowok dibanding untuk saya. Kalau dikira-kira, mungkin Polly muat untuk 70-90 liter. Euh, pantas kalau diisi penuh rasanya punggung mau patah hahaha!

Salah satu yang langka dari desain si Polly adalah jenisnya yang dapat dibuka baik dari depan (front load) atau dari atas (top load). Kalau dibawa pergi, pokoknya enak saja untuk mengambil-ambil barang. Strap atau pegangannya cukup lebar dan nyaman digunakan. Ada kantong kecil di bagian bantalan sabuknya. Sebenarnya, ini adalah jenis yang sangat cocok untuk backpacking. Hiks.

Polly sudah menemani saya menjelajah gunung-gunung di Jawa Tengah, satu gunung di Jawa Timur dan satu di Jawa Barat. Untuk membawa ransum makanan dari ibu kalau saya pulang ke rumah. Dia pernah ikut teman saya ke Rinjani walaupun saya belum sampai ke sana. Pernah pula ikut ekspedisi. Saya juga menggunakan Polly untuk mengangkut barang saat pindah dari Jogja ke Jakarta. Dia ikut teman saya yang lain keliling Thailand sampai Kamboja. Saya? Kemarin tidak bawa dia pas ke Vietnam karena ukurannya terlalu besar.

Juga, karena ia sudah tidak prima…

Strap untuk mengikat pinggang Polly sudah berserabut, bagian depan sobek-sobek karena dimakan tikus (hih). Lalu bagian pengunci pinggangnya pernah patah. Polly sudah terlalu tua. Karena itu saya tidak lagi bisa menyimpannya karena hanya akan teronggok dan menimbun debu.

Jadi saya menggulungnya, memasukkannya dalam tas plastik dan menaruhnya di sisi tong sampah yang akan diangkut Bapak Tukang Sampah setiap pagi. Bila ada yang menemukan dan memutuskan memakainya, biarlah Polly menambah sisa umur. Bila tidak, semoga ia istirahat dengan tenang. Terima kasih Polly, sudah menemaniku lamaaa sekali…

Mendadak haru,
EA

Mengenang Pak Pram

Siang ini saya terhenyak menatap postingan kabar di laman grup alumni SMA saya, we are STECE. Mantan guru saya, Bapak Ig. Pramono meninggal dunia. Ah, rasanya ada yang melesak ke dada dan membuat sebagian fungsi otak berhenti.

Benarkah? Saya sampai perlu memastikan berkali-kali siapa yang dibicarakan. Lalu saya mengenali foto almarhum di profil Facebook yang dihubungkan ke postingan tersebut. Ternyata beliau sungguh tiada. Menurut seorang siswi, almarhum mengeluh masuk angin dan punggung sakit. Beliau lalu pulang namun justru tak sadar diri lalu dibawa ke RS Panti Rapih. Beliau terkena serangan jantung. :'(

Pak Pram, begitu kami menyebutnya, adalah guru yang jarang marah dan sangat sabar. Tiga tahun saya diajarnya, saya hanya sempat sekali melihatnya hilang sabar dalam bentuk kernyitan dahi yang tak kentara. Pak Pram punya pembawaan kalem. Sehari-hari sampai sekarang gayanya tak berubah: potongan rambut seluruhnya disisir ke belakang dan kacamata persegi yang selalu bertengger di telinga. Sosoknya jangkung dan langsing. Cukup cakep dan masih muda (di masa saya) sehingga sempat jadi idola masa remaja kami semua. Tiga belas tahun lalu.

Karena sekolah khusus perempuan, menjadi guru laki-laki selalu ada tantangan tersendiri. Pak Pram pasti tahu itu. Karena ia juga sering dikibuli dan digoda murid-muridnya yang bengal itu. Tapi ia hanya tertawa-tawa. Seolah maklum kalau remaja-remaja perempuan kelakuannya memang wajar begitu.

Pernah suatu waktu, pelajaran kelas saya kosong. Saya memanfaatkan waktu itu untuk tidur telungkup di bangku. Entah bagaimana, samar-samar saya dengar suara Pak Pram. What the...? Rupanya teman sebangku saya, Yolanda, kelupaan membangunkan saya dan Pak Pram sudah memulai pelajaran PPKn sekitar 20 menit! Argh! Saya malu sekali, tapi sepanjang saya tidur, Pak Pram sama sekali tidak menegur.

Kali lain, kami istirahat di dalam kelas dan sibuk makan di bangku masing-masing. Maklum, kelas Bahasa ada di lantai 2,5 (sedikit lebih tinggi dari lantai 2 tapi bukan di lantai 3) dan di pojokan gedung. Sehingga kami malas turun ke kantin dan lebih suka membeli makanan yang dijual kawan-kawan sendiri. Favorit kami adalah nasi goreng kulit ayam bakar yang bisa dibuat ibunya Alit.

Namun kami belum selesai makan, Pak Pram sudah masuk. Ia tidak berkomentar apa-apa sementara kami menyembunyikan makanan masing-masing di laci. Sesekali menyuapkan ke mulut dan menutupi dengan buku. Lapar sih! Eh, Pak Pram menyeletuk dengan gaya khasnya yang sedikit mendongak seolah berpikir. “Kok bau nasi goreng ya,” katanya? Kami cuma menyahut, “perasaan bapak aja deh,” he he he.

Kami tidak pernah tahu apa yang sebetulnya dirasakan atau dipikirkan Pak Pram saat itu. Tapi kesabaran semacam itu jarang saya temukan pada orang lain yang memilih jalan pendidik. Ia juga merupakan pendamping OSIS yang bisa diajak negosiasi. Dan sekarang sosok ramah penuh senyum itu sudah pergi…

Sugeng tindak Pak Pram…maaf atas kebandelan kami dulu. Semoga Tuhan menerangi jalan Bapak ke surga, mengampuni dosa dan salah yang pasti tak seberapa banyaknya, serta menghibur dan menguatkan keluarga Bapak yang masih di Jogja.

Selamat jalan Pak Guru….istirahatlah dengan tenang…

image

Jakarta, 5 September 2014
Dengan duka mendalam..