Seni “merelakan pergi”

Featured

Let it go. Let it happen. Let it be…

Pernah menangisi sesuatu yang disayangi karena hilang? Pastinya ya. Bodoh benar pertanyaan ini.

Kalau “sekadar” uang atau barang, mungkin sedihnya cepat hilang. Pengecualian untuk barang-barang bersifat memoar atau memorabilia, yah. Nah, kalau orang? Aduh…ini sungguh topik yang tidak asyik didiskusikan. Sebab, kalau bisa, inginnya kita selalu bersama-sama dengan orang-orang yang kita sayang. Kalau bisa selamanya. Benar kan? Continue reading

Saya (salah) masuk tol

Pas kejadian, cerita ini sama sekali enggak lucu.

Jadi, kemarin lusa saya salah masuk tol. Lha terus, masalahnya apa? Tinggal keluar pintu berikutnya saja beres, kan?

Masalahnya pak, bu, mbaksis, mbakbro, saya naik motor, bukan mobil. Oh ya, kalau punya pacar/temen/saudara pak/bu polisi, please jangan bilang-bilang ya. Diem aja. Soalnya selain saya selamet badan, saya juga enggak kena sempritan. *fiuhhh*

Yep. Beruntung.

Nah, sekarang pertanyaannya: kok bisa? Continue reading

Kalau kamu harus tinggal di ibukota #4

Aaah, sudah berbulan-bulan tak ada pembaruan kabar. Maklum yah, selain berganti pekerjaan, saya juga berganti kendaraan he he he.

Sekarang saya bukan bus-er tapi motor-er :D Tapi bukan berarti saya nggak nemu hal-hal menarik lagi tentang Ibukota. Banyak nih, tapi suka lupa buat nulisnya. Kita coba beberapa yang saya ingat yah. Here we go!

Kalau kamu harus tinggal di Ibukota, seperti saya: kelas pekerja, gaji tak seberapa, tak punya atap atas nama pribadi dan selalu berkendara dengan bus kota dan motor roda dua, kira-kira inilah yang akan kita temui di sana:

16. Koridor Transjakarta superrrrr panjang! Continue reading

Resmi pelari?

Siang ini saya resmi jadi pelari. Kok bisa?

Bisa. Soalnya, saya baru beli sepatu lari yang mahal sekali (walaupun sudah diskon 40%) he he he!

Memang sih, jadi pelari tidak ada inisiasinya. Tidak ada patokan berapa kilometer jarak sudah dilalui supaya kita resmi dicap pelari. Apalagi saya, baru mulai lari 3 bulan terakhir. Minus 1 bulan absen. Hih.

Tapi, saya ya baru menemukan kesenangan berlari baru-baru ini juga. Padahal, momok terbesar saya adalah olahraga. Ingat betul dulu waktu SD kalau disuruh lari rasanya mending pura-pura pingsan daripada pingsan beneran di jalan.

Ngos-ngosan itu lho.

Tapi, setelah di Ibukota, entah kenapa saya malah rajin lari. Mungkin karena di sini temannya banyak ya. Maksudnya yang bener-bener niat lari. Habis, di Jogja dulu saya jaraaaaang banget nemu orang yang hobi lari. Ada sih, satu-dua, tapi mereka….polisi :D

Lagi, jam kerja dan lokasi tempat tinggal saya sekarang strategis sekali. Gelora Bung Karno itu nyaman sekali lho waktu pagi. Sumpah, rasanya kayak nemu oase sejuk di tengah belantara pencakar langit. Daaan, saya bisa mencapainya hanya dengan 20 menit jalan kaki! Hiks, terharu…

Satu lagi penyemangat lari saya adalah motivasi untuk mencapai target. Teman saya ada yang berhasil menempuh jarak puluhan kilo tanpa henti. Apalagi hobi saya akhir-akhir ini nonton variety show Korea: Running Man. Mereka punya tagline: don’t walk, run!!. Wuoosshh!!! Makin terbakar deh semangatnya! Pengen juga sih ikut lari-lari di acara itu. (Jadi artis dulu gih!)

Eh iya, saya juga sudah ketemu langsung dan ngobrol sama pak Sandiaga Uno dan makin termotivasi lho. Untungnya enggak teralihkan sama wajah si bapak ya *grin*

Kata dia, berlari itu bisa memotivasi diri. Semacam meraih pencapaian prestasi yang diusahakan sekuat tenaga untuk diri sendiri. Betul kan? Siapa yang enggak bangga bisa menyelesaikan maraton 42 kilometer tanpa henti? Bukan buat pamer, tapi effort yang diperlukan untuk itu memang besar. Tidak bisa ditipu hasilnya.

Kalau teman pak Sandiaga berhasil menempuh maraton di usia 50, saya pengen sebelum 40. Enggak perlu maraton internasional. Yang 10Km atau half marathon juga tak apa. Kali ini saya yakin bisa. Soalnya, sebelum beli sepatu mahal dan tetek-bengek lainnya, saya sudah melangkahkan kaki dan berlari.

Masih sangat lambat. Masih sangat singkat. Dan masih terpatah-patah dengan jalan kaki dan nafas yang terengah-engah. Tapi, saya yakin akhir tahun ini saya bisa lakukan 1 kilometer lari tanpa berhenti. *jiah, udah sesumbar gini malu ya kalau gagal* hahaha!

Doakan saya ya! Let’s run!

Sepatu lari pink ceria

Sepatu lari pink ceria

Sekali jalan, lalu ketagihan

Sejujurnya, saya belum pernah menginjakkan kaki melampaui batas teritori Indonesia. Lebih jujur lagi, nyaris-tak-pernah-keluar-Jawa. Jika pernah menyeberang antar pulau, maka prestasi saya hanya sejauh Bali (saat tur sekolah) dan Madura (saat kanak-kanak. Itupun sampai pelabuhan saja).

Tapi, hasrat untuk melihat dunia kelamaan tertanam di benak gara-gara banyak cerita mengenai sebuah perjalanan. Tujuan utamanya mungkin wisata. Awalnya. Tapi kemudian para pejalan (traveler) ini juga mengikutkan unsur interaksi yang intens dengan penduduk lokal. Mereka bercerita tentang banyak hal di luar buku pedoman perjalanan. Kisah-kisah menarik, menyenangkan, seru, juga sedih dan bikin terharu. Continue reading

Jadi Kutu Loncat

Alkisah, beberapa minggu belakangan saya kerap dapat kabar seseorang mengundurkan diri dari pekerjaan. Entah teman, kenalan, atau rekan. Obrolan selalu diawali dengan percakapan semacam, “eh si A mau resign (berhenti kerja) lho,” kemudian diikuti faktor penyebab: “kayaknya dia mau nikah/pindah ke perusahaan X/pindah kota,” dan seterusnya.

Menariknya buat saya, kabar macam itu tak lagi membuat kaget atau bengong. Yap, sudah biasa. Bahkan dalam runtutan daftar karir saya, belum ada satu jenis pekerjaan yang saya lakukan lebih dari setahun. Saya mudah bosan sih.Yah, karena saat itu saya masih kuliah dan mencari-cari (entah apa), saya anggap semua jenis posisi di perusahaan/institusi apapun itu sekedar magang. Makan roti panggang.

People come and go, right? Continue reading