Seni “merelakan pergi”

Let it go. Let it happen. Let it be…

Pernah menangisi sesuatu yang disayangi karena hilang? Pastinya ya. Bodoh benar pertanyaan ini.

Kalau “sekadar” uang atau barang, mungkin sedihnya cepat hilang. Pengecualian untuk barang-barang bersifat memoar atau memorabilia, yah. Nah, kalau orang? Aduh…ini sungguh topik yang tidak asyik didiskusikan. Sebab, kalau bisa, inginnya kita selalu bersama-sama dengan orang-orang yang kita sayang. Kalau bisa selamanya. Benar kan? Continue reading

Cerita Orang-Orang New York

Soal street photography atau fotografi jalanan pasti sudah cukup familiar bagi kita. Bidikan kamera dengan subjek acak di jalanan. Selama beberapa waktu, saya sempat menjadi pengunjung setia The Sartorialist, sebuah blog fashion yang menampilkan jepretan Scott Schuman selama “berburu” mode jalanan.

Schuman bukan desainer baju ataupun jurnalis sungguhan. Tapi sebagai pengamat sekaligus pengabadi gaya para pejalan di berbagai kota di seluruh dunia, ia cukup dihormati di kalangan pelaku mode.

Continue reading

Toples Kebahagiaan

Tahun depan, saya mau mengikuti saran seorang teman. Membuat ‘toples kebahagiaan’. Iya, sebutan lain dari ‘jar of happiness’ hehe!

Teman saya yang sudah membuatnya setahun ini bilang, setiap ia merasa senang atau bahagia, ia akan menuliskannya ke secarik kertas lalu memasukkan ke toples tersebut. Nanti, di akhir tahun ia akan “memecah celengan kebahagiaan” itu dan mengingat ulang apa saja yang membuatnya bahagia sepanjang tahun.

Saya rasa ini ide bagus. Karena ada banyak hal kecil yang perlu kita syukuri. Supaya tidak lupa. Supaya bisa merasakan lagi kebahagiaan kebahagiaan kecil, sekecil apapun itu…ketimbang mengingat saat-saat malang.

Jadi, 2014 nanti, saya akan memiliki toples kebahagiaan ini. Semoga di ujung tahun isinya berlimpah.

Cheers!

EA

Anak Asrama, Apaaaa Aja Bisa! (2)

Begitu tahun ajaran pertama dibuka, mulailah kehidupan masa remaja SMA yang penuh warna kayak lagunya Chrisye “Engkau masih anak seeekolah satu SMA…Belum tepat waktu tuk begitu beginiiii” :D

Kali ini saya mau bocorin sedikit bagaimana kehidupan asrama gadis-gadis liar  manis dan penuh tata krama khas sekolah khusus perempuan. Maklum saja ya kalau maju-mundur. Biar kayak plot flashback gitu lhooo. Setelah mengalami kehidupan asrama, saya menyadari sesuatu: anak asrama itu kreatif dan bisa apa saja.

Karena sekolah kami swasta Katolik, maka bisa dipastikan asrama kami juga tak jauh-jauh dari tujuan menjadikan putri-putri yang manis dan religius. Iyalah, yang mengawasi saja suster ya kaaan! *dibekep kerudung* Makanya, tiap hari Jumat kami mengadakan misa bersama. Panitianya bergantian antar unit. Nah, misa ini ujung-ujungnya jadi ajang “pamer” antar unit juga.  Continue reading

Anak Asrama, Apaaaa Aja Bisa! (1)

Helo, it’s me again! Tiba-tiba mau cerita secuil lagi masa-masa sewaktu muda remaja di SMA. Waktu tinggal di asrama tepatnya. Yeaaah!

Saya sudah pernah cerita ya, SMA saya itu sekolah khusus perempuan. Yap. Nggak ada batangan, adanya bulatan (sensor). Nah, enggak semua siswi yang jumlahnya ratusan itu penduduk asli Jogja. Banyak juga yang ‘impor’ dari luar Jogja bahkan luar pulau Jawa.

Nah, siswi-siswi impor ini bisa memilih tinggal mandiri di indekos atau asrama. Asrama? Dih, mana ada anak yang mau masuk asrama? Asrama itu kan ketat aturannya, enggak bebas pergi-pergi, harus begini-begitu. Pokoknya, enggak ada gadis muda yang sedang mekar dan penuh gairah melihat dunia mau dikunci di balik tembok asrama.  Continue reading

Pulang

13 Desember 2013.

Di luar kantor hujan menderas. Celana jinsku masih terasa dingin dan lembab dari sisa menerobos jalanan siang tadi. Bajuku sudah kuganti. Untunglah paket baju hangat pesanan online-ku masih tersimpan di bawah meja. Cardigan biru dan sweater kuning kupakai sekaligus. Bukan karena kedinginan, tapi aku tak mau dadaku terbuka sedangkan sweater kuning itu memiliki lubang-lubang aksen tembus pandang. Ha ha.

Hatiku tersuntik semangat entah dari mana. Sepuluh hari dari sekarang, pada jam begini, aku akan berada di taksi atau bus Damri yang akan membawaku ke Bandara. Natal kali ini, aku akan pulang. Tak cuma aku, kakakku juga. Kali ini Natal akan lengkap berempat.

Beberapa hari sebelum ini, ibuku memasang foto kami berdua sebagai foto profil chatline.  Dituliskannya: I miss u. Udara serasa menciut sebentar. Sementara aku mencurahkan segala konsentrasiku untuk bekerja, ibuku di sana merindukanku.

Kali ini, aku akan pulang. Tidak terlalu lama, namun juga tidak sebentar. Aku mau bertemu mereka: ayah dan ibu. Selagi masih punya waktu.

Ya, Natal kali ini kami lengkap berempat. Aku sudah tak sabar menunggu.

EA