let it go

Seni “merelakan pergi”

Let it go. Let it happen. Let it be…

Pernah menangisi sesuatu yang disayangi karena hilang? Pastinya ya. Bodoh benar pertanyaan ini.

Kalau “sekadar” uang atau barang, mungkin sedihnya cepat hilang. Pengecualian untuk barang-barang bersifat memoar atau memorabilia, yah. Nah, kalau orang? Aduh…ini sungguh topik yang tidak asyik didiskusikan. Sebab, kalau bisa, inginnya kita selalu bersama-sama dengan orang-orang yang kita sayang. Kalau bisa selamanya. Benar kan? Continue reading

Reuni

Beberapa hari lalu saya mendatangi sebuah acara pameran seni di sebuah hotel di Jakarta. Niat awalnya sih menonton pertunjukan kelompok teater boneka seorang teman, tapi tak disangka, berubah jadi ajang jumpa.

Di antara mereka yang saya temui, ada wajah yang saya jumpai terakhir seminggu lalu, bulan lalu, tapi ada juga yang bertahun-tahun lalu. Bahkan, masing-masing wajah itu tidak semua dari lingkup yang sama. Menakjubkan, betapa banyak relasi ditemukan kembali dalam sebuah acara untuk umum tanpa sengaja.

Hal ini membikin saya berpikir, rupanya, agenda publik semacam itu tak disangka lebih berhasil mempertemukan kawan lama ketimbang reuni yang disengaja. Mungkin, karena saya tak punya ekspektasi besar. Niat awalnya kan memang menghadiri pameran, lalu mungkin bertemu beberapa teman yang sudah janjian. Eh, rupanya saat eksekusi, ada lebih banyak orang yang saya kenal, ditemui di sana. Continue reading

Karena Neuer (Never) Give Up!

Jerman mengalahkan Argentina 1-0 dan akhirnya memboyong piala dunia setelah 24 tahun! Maaf, mungkin saya adalah penggemar bola musiman, tapi saat ini saya sangat senang Jerman menang!!! Banyak yang bilang bosan karena sampai memasuki tambahan waktu kedua, nyaris tak ada gol yang disarangkan kedua tim. Ada sih, gol pertama Argentina yang sempat bikin saya jantungan, tapi syukur tidak dihitung karena pemain Argentina ternyata offside, ha!

Mungkin saja, Jerman dilindungi dewa keberuntungan kali ini. Tapi saya yakin, faktor permainan tim yang dibina Joachim Löw (pelatih super cool sejagat piala dunia :P) sangat solid dan stabil walaupun pertahanannya sering kedodoran. Nah, kalau ngomong soal pertahanan, maaf saya harus tarik napas….UNTUNG Jerman PUNYA Neuer!!! Continue reading

Begini begitu, ternyata ada sebabnya

Sudah tiga hari saya tidak bisa ketawa. Bibir saya kering bukan main dan robek di tengah. Tambah pula, sariawan perih di pipi dalam sebelah kiri yang selalu tergesek kawat gigi saat saya berusaha buka suara. Sungguh pekan penuh cobaan akibat lalai mengonsumsi air dan vitamin dalam jumlah cukup.

Karena tak tahan sakit, akhirnya saya putuskan mencari obat sariawan dalam perjalanan menuju kantor. Saat menimbang rute, saya teringat ada sebuah apotek tak jauh dari kantor, di sisi kiri jalan sehingga mudah bagi saya untuk mampir tanpa perlu menyeberang. Apotek itu selalu tampak sepi bagi saya yang melaluinya nyaris setiap hari. Padahal ia punya halaman cukup luas, pun letaknya di pinggir jalan. Ah, sekali-sekali ke apotek umum, sekalian ‘nglarisi’ (bawa hoki dengan membeli barang), pikir saya.

Kala itu sudah cukup malam, namun belum memasuki waktu tutup toko pada umumnya. Sekitar 20.15 waktu setempat. Setelah memarkir motor di halaman apotek, saya masuk ke apotek yang kosong. Hanya ada seorang perempuan sekitar 30an tengah mencocokkan nota dan menekan tuts-tuts kalkulator.

Ia mendongakkan kepala saat saya menuju arahnya dan menyapa, “malam mbak, ada obat sariawan?” kata saya. Dengan intonasi datar ia menyahut, “seperti apa?” karena saya tidak terpikir merek tertentu, saya coba saja dari obat yang paling familiar: obat bubuk hijau. Tahu kan? Yang dalam tabung kaca kecil, bubuknya mirip ekstrak teh hijau dan rasanya pahit. “Oh, enggak ada,” ujar si pramuniaga itu sambil menekuni hitungannya lagi.

Hah? Cuma begitu? Tidak ada saran alternatif? Pikir saya. Lalu saya coba lagi bertanya, “lalu apa adanya?” dan ia menyebutkan satu merek. Nah, setahu saya, merek yang ia sebutkan memang direkomendasikan untuk mengobati sariawan. Tapiiiiii rasanya seperti ditusuk seribu jarum! Pedih jenderal! Tapi lagi, versi terbaru obat itu juga sudah menjamin bebas rasa perih tersebut.

Makanya saya tanya lagi, “obatnya yang (versi) baru atau lama mbak?” kemudian si mbak mengernyit sambil membalas, “maksudnya?” Belum saya selesai menjelaskan perbedaan keduanya, ia sudah melengos sambil mengucap, “wah, nggak tahu ya.”

Detik itu pula saya memaki dalam hati dan segera angkat kaki dari apotek yang nyaris punah itu.

Sekarang saya mengerti. Mengapa apotek itu selalu tampak sepi. Apakah kamu mengerti juga? Dengan demikian, terbukti lagi satu hukum “sebab-akibat” yang menghinggapi bumi ini sejak lama…

Arry Potcher!

Waktu saya berumur 7 tahun, bapak saya meninggalkan rumah. Sejak itu saya tidak pernah melihat atau mendengar lagi kabar tentang bapak saya. Saya juga sudah hampir lupa wajahnya selain dari sepotong foto lama yang masih disimpan ibu di balik tumpukan baju di lemari tuanya. Sendirian, ibu saya membesarkan saya dan adik sampai lulus kuliah dan bisa mandiri.

Tapi, sekitar 1,5 tahun lalu, tante (adik bapak) mendapat kabar kalau ada kenalannya yang melihat Bapak di London, Inggris. Sepertinya takdir sedang berpesan bahwa saya harus menemuinya di sana. Di Inggris.

Bohong.

Yah, sepertinya saya memang tidak berbakat mengarang cerita. Belum apa-apa saya sudah takut kalau cerita di atas kejadian betulan. Saya juga tidak pintar membumbui detil aksi supaya ceritanya “terasa” asli. Tidak, bapak saya masih ada. Terakhir bertemu pekan lalu, beliau masih gendut, sehat dan gembira. Memang, waktu kecil bapak saya sering pergi, tapi selalu kembali. Persis kayak bumerang Australia: dilempar…eh balik lagi. Garing.

Soal Bapak saya yang pergi memang bohongan, tapi keinginan ke Inggrisnya betulan. Mirip sari tebu: 100% asli. Hmm, mungkin rasa itu tidak sekuat yang dirasakan oleh mereka yang ingin ke sana untuk menemui seseorang…eits, tunggu. Saya…juga ingin bertemu seseorang.

Saya dan orang ini bertemu hampir 20 tahun lalu. Saat itu saya masih SD dan diajak ayah ibu jalan-jalan ke toko buku. Di sanalah saya melihatnya pertama kali. Berbaju merah dan emas, tersempil di jajaran rak buku: Harry Potter and The Chamber of Secrets. Seri kedua dari tujuh seri Harry Potter karya J.K Rowling.

Lalu sejak itulah saya menjalin hubungan pertemanan, lebih dari sahabat, dengan bocah berkacamata bulat dengan luka petir di dahinya ini. Petualangan Harry menemani masa kecil saya sampai jelang remaja. Cinta pertama saya pada tokoh cerita sampai sekarang saya sudah dewasa.

Saking piawainya Ibu Rowling merangkai cerita, saya sungguh bisa membayangkan suasana kehidupan Harry di Inggris. Perpaduan dunia muggle di London dan sekitar Hogwarts yang sureal dan magis. Aduh, saya jatuh cinta.

Ada waktu-waktu saat saya berharap Hogwarts betulan ada. Pasti saya akan menekuni aneka mantra yang hebat dan membuat dompet serba ada milik Hermione Granger. Saya juga ingin menemani Mr. Weasley keliling dunia muggle dan makan hotdog bersama di bawah Big Ben. Berlari menembus peron 9 3/4 dengan membawa burung hantu seputih salju.

Saat Warner Bros Studio mengumumkan membuka studio setting yang digunakan dalam penggarapan film Harry Potter beberapa tahun lalu, saya seperti gila. Saya harus kesana! Walaupun hanya sehari, walaupun hanya sejam menikmati! Saya harus melihat King’s Cross Station dan mencari sendiri peron 9 3/4. Saya ingin naik kereta dengan kompartemen sambil ngemil cokelat kodok. Saya juga harus melihat London Bridge (The Millennium Bridge) yang sempat dihancurkan Lord Voldemort. Lebih lagi, saya harus menengok Hogwarts! Kalau bisa!

Dalam impian saya, saya juga akan merasakan jadi muggle saat saya menginjakkan kaki di negara Ratu Elizabeth itu. Merasakan sendiri aura kebudayaan yang kuno dan romantis, Mencoba bercakap dengan aksen British (yang selalu saya tirukan seperti “‘Arry Potcher!”), juga suasana muram mendung yang selalu diceritakan kawan saya. Meski saya sudah menerima kenyataan bahwa semua itu fiksi, tapi London dan Inggris yang jadi latar belakang cerita sungguhan nyata kan?

Inggris di benak saya juga tentang era Victoria. Saya membayangkan berkeliling kota dengan kereta kuda. Berlagak bangsawan dengan gaun menggembung,  menjinjing payung renda, berjalan sambil mendongakkan dagu dan mengangkat rok sedikit. Tepat pukul empat, saya akan duduk dengan secangkir teh dan aneka kue yang dideskripsikan dalam novel roman seperti scone, crumpet dengan aneka selai tradisional dan banyak lagi! Saya mau mencoba semua itu!

Kalau dirangkum, alasan-alasan di atas sangat kekanakan ya? Tapi saya sudah memasukkannya dalam daftar “hal yang harus dilakukan sebelum mati” dan bertekad akan mewujudkannya meski usia tak muda lagi. ‘Arry Potcher, tunggu aku ya!

 

Watching Harry Potter movie's with MrPotato

Ngemil Mister Potato sambil nonton film Harry Potter ke-917 kalinya

 

 

*tulisan ini sebagai partisipasi lomba “Ngemil eksis pergi ke Inggris” yang diadakan @MisterPotato_ID semoga kesampaian ketemu Harry nih! :D

Aman versus Bahagia

Saya tidak terpikir frase apa lagi untuk menyebut kedua hal yang menghantui pikiran saat ini. Ada rantaian kejadian, pengalaman hingga renungan diam-diam yang membuat saya mempertentangkan dua hal: logika dan rasa (perasaan).

Lalu, entah darimana saya menarik hubungan deduktif, bahwa logika berpasangan dengan “aman”, sementara rasa bergandengan dengan “bahagia”. Ini sifatnya relatif dan mungkin hanya saya yang mengalami.

Begini, saya coba sampaikan dengan kasus yang kadang paradoks dan bisa diputarbalikkan sedemikian rupa. Taruhlah Anda mencari pasangan (ini contoh paling gampang). Logika mengatakan, carilah pasangan yang mapan, yang cukup materinya dan memiliki modal alias biaya menghadapi kehidupan. Dengan demikian Anda akan “aman”. Aman dari apa? Ya aman secara finansial atau materi.

Tapi, kalau menuruti rasa, pasti inginnya seseorang yang tampang sesuai selera, saling cinta meski sederhana. Karena melibatkan lebih banyak subjektivitas, maka implikasinya, Anda “bahagia”. Sederhana? Tidak, saya yakin. Karena Anda akan protes, “saya bahagia kok dengan yang mapan, kaya raya dan kebetulan sesuai selera.” Atau, “kami sudah yakin akan sukses bersama setelah berjuang bersama,” dan seterusnya.

Makanya tadi saya bilang relatif. Ada banyak contoh kasus lain tapi saya tidak ingin jadi terlampau personal. Nanti ada saja yang rumongso (merasa) disindir, padahal tidak.

Tapi, buat saya, logika dan rasa ini adalah makhluk yang sama-sama berteriak kuat di kepala. Kadang suara yang satu mengalahkan suara lainnya. Logika memenuhi pikiran saya dengan rasa takut dan kecemasan serta kemungkinan-kemungkinan terburuk yang bisa saya pikirkan.

Sementara rasa, menarik saya dengan dorongan tiba-tiba, impulsif, optimisme dan tak peduli resiko. Mana yang lebih baik? Tidak ada, buat saya. Soalnya, saya memilih mana yang paling nyaman atau tepat, atau setidaknya terbaik dari terburuk untuk saya pegang saat ini. Bisa jadi saya kurang bahagia saat memilih mengikuti logika, tapi setidaknya saya merasa aman. Bisa mengatur strategi langkah selanjutnya.

Kadang-kadang juga, saya mengizinkan rasa yang memimpin dan menarik saya menyusuri harapan, perasaan, dan mimpi. Lalu menggandeng nalar untuk mencari caranya. Tapi jangan salah, kedua hal ini juga bisa berkamuflase dan menyamarkan diri.

Kita merasa melakukan sesuatu berdasarkan logika padahal dipicu oleh keinginan kuat yang bahkan tidak logis maupun normatif. Sebaliknya, apa yang tampak dilakukan dengan perasaan justru sebetulnya dorongan dari nalar panjang yang ingin melakukan sesuatu dengan benar.

Selamanya mereka seperti melakukan baratayudha abadi. Perang yang tak pernah usai. Ah capek juga mikir begini.