let it go

Seni “merelakan pergi”

Let it go. Let it happen. Let it be…

Pernah menangisi sesuatu yang disayangi karena hilang? Pastinya ya. Bodoh benar pertanyaan ini.

Kalau “sekadar” uang atau barang, mungkin sedihnya cepat hilang. Pengecualian untuk barang-barang bersifat memoar atau memorabilia, yah. Nah, kalau orang? Aduh…ini sungguh topik yang tidak asyik didiskusikan. Sebab, kalau bisa, inginnya kita selalu bersama-sama dengan orang-orang yang kita sayang. Kalau bisa selamanya. Benar kan? Continue reading

Berpisah dengan Barang Kesayangan

Nothing last forever. Pada saatnya nanti, kita harus merelakan sesuatu atau seseorang pergi. Saya yakin, Anda semua pernah memiliki barang kesayangan, entah apapun bentuknya. Tapi namanya barang, suatu waktu ia akan berhenti berfungsi, rusak, atau hilang bukan? Sama seperti tas carrier Polo saya.

Hari ini saya memutuskan sudah waktunya untuk berpisah dengannya, lalu jadi merasa sedikit melankolis. Tas ransel ini sudah melewati tahun-tahun penuh cerita, dipanggul bahu yang berbeda-beda (karena dipinjam teman tentunya), bahkan sudah berjalan lebih jauh dari saya.

Saya membelinya sekitar tahun 2005, tidak ingat persis kapan. Saat itu, ia tergantung di salah satu bagian penjualan tas di Ramayana, Jalan Malioboro Jogja. Ukurannya besar, warnanya abu dominan hitam. Polo, mereknya. Saya jatuh cinta seketika. Apalagi, saat itu ada label potongan harga tujuh puluh persen. Keren (dan murah)!

Kalau dipikir lagi, mungkin tas itu bukan Polo asli karena seingat saya Polo hanya menerbitkan tas kopor, ransel kantoran dan baju. Atau memang ada tas-tas gunung? Ah, tidak penting. Buat saya yang baru senang-senangnya ikut unit kegiatan mahasiswa (UKM) pecinta alam, pertemuan dengan tas ini seperti sudah ditakdirkan.

Ukuran besar si Polly, sebut saja begitu (saya baru kasih nama sekarang), sangat cukup membawa banyak barang. Bahkan saya baru sadar kalau ukuran ini sepertinya lebih cocok untuk cowok dibanding untuk saya. Kalau dikira-kira, mungkin Polly muat untuk 70-90 liter. Euh, pantas kalau diisi penuh rasanya punggung mau patah hahaha!

Salah satu yang langka dari desain si Polly adalah jenisnya yang dapat dibuka baik dari depan (front load) atau dari atas (top load). Kalau dibawa pergi, pokoknya enak saja untuk mengambil-ambil barang. Strap atau pegangannya cukup lebar dan nyaman digunakan. Ada kantong kecil di bagian bantalan sabuknya. Sebenarnya, ini adalah jenis yang sangat cocok untuk backpacking. Hiks.

Polly sudah menemani saya menjelajah gunung-gunung di Jawa Tengah, satu gunung di Jawa Timur dan satu di Jawa Barat. Untuk membawa ransum makanan dari ibu kalau saya pulang ke rumah. Dia pernah ikut teman saya ke Rinjani walaupun saya belum sampai ke sana. Pernah pula ikut ekspedisi. Saya juga menggunakan Polly untuk mengangkut barang saat pindah dari Jogja ke Jakarta. Dia ikut teman saya yang lain keliling Thailand sampai Kamboja. Saya? Kemarin tidak bawa dia pas ke Vietnam karena ukurannya terlalu besar.

Juga, karena ia sudah tidak prima…

Strap untuk mengikat pinggang Polly sudah berserabut, bagian depan sobek-sobek karena dimakan tikus (hih). Lalu bagian pengunci pinggangnya pernah patah. Polly sudah terlalu tua. Karena itu saya tidak lagi bisa menyimpannya karena hanya akan teronggok dan menimbun debu.

Jadi saya menggulungnya, memasukkannya dalam tas plastik dan menaruhnya di sisi tong sampah yang akan diangkut Bapak Tukang Sampah setiap pagi. Bila ada yang menemukan dan memutuskan memakainya, biarlah Polly menambah sisa umur. Bila tidak, semoga ia istirahat dengan tenang. Terima kasih Polly, sudah menemaniku lamaaa sekali…

Mendadak haru,
EA

Mengenang Pak Pram

Siang ini saya terhenyak menatap postingan kabar di laman grup alumni SMA saya, we are STECE. Mantan guru saya, Bapak Ig. Pramono meninggal dunia. Ah, rasanya ada yang melesak ke dada dan membuat sebagian fungsi otak berhenti.

Benarkah? Saya sampai perlu memastikan berkali-kali siapa yang dibicarakan. Lalu saya mengenali foto almarhum di profil Facebook yang dihubungkan ke postingan tersebut. Ternyata beliau sungguh tiada. Menurut seorang siswi, almarhum mengeluh masuk angin dan punggung sakit. Beliau lalu pulang namun justru tak sadar diri lalu dibawa ke RS Panti Rapih. Beliau terkena serangan jantung. :'(

Pak Pram, begitu kami menyebutnya, adalah guru yang jarang marah dan sangat sabar. Tiga tahun saya diajarnya, saya hanya sempat sekali melihatnya hilang sabar dalam bentuk kernyitan dahi yang tak kentara. Pak Pram punya pembawaan kalem. Sehari-hari sampai sekarang gayanya tak berubah: potongan rambut seluruhnya disisir ke belakang dan kacamata persegi yang selalu bertengger di telinga. Sosoknya jangkung dan langsing. Cukup cakep dan masih muda (di masa saya) sehingga sempat jadi idola masa remaja kami semua. Tiga belas tahun lalu.

Karena sekolah khusus perempuan, menjadi guru laki-laki selalu ada tantangan tersendiri. Pak Pram pasti tahu itu. Karena ia juga sering dikibuli dan digoda murid-muridnya yang bengal itu. Tapi ia hanya tertawa-tawa. Seolah maklum kalau remaja-remaja perempuan kelakuannya memang wajar begitu.

Pernah suatu waktu, pelajaran kelas saya kosong. Saya memanfaatkan waktu itu untuk tidur telungkup di bangku. Entah bagaimana, samar-samar saya dengar suara Pak Pram. What the...? Rupanya teman sebangku saya, Yolanda, kelupaan membangunkan saya dan Pak Pram sudah memulai pelajaran PPKn sekitar 20 menit! Argh! Saya malu sekali, tapi sepanjang saya tidur, Pak Pram sama sekali tidak menegur.

Kali lain, kami istirahat di dalam kelas dan sibuk makan di bangku masing-masing. Maklum, kelas Bahasa ada di lantai 2,5 (sedikit lebih tinggi dari lantai 2 tapi bukan di lantai 3) dan di pojokan gedung. Sehingga kami malas turun ke kantin dan lebih suka membeli makanan yang dijual kawan-kawan sendiri. Favorit kami adalah nasi goreng kulit ayam bakar yang bisa dibuat ibunya Alit.

Namun kami belum selesai makan, Pak Pram sudah masuk. Ia tidak berkomentar apa-apa sementara kami menyembunyikan makanan masing-masing di laci. Sesekali menyuapkan ke mulut dan menutupi dengan buku. Lapar sih! Eh, Pak Pram menyeletuk dengan gaya khasnya yang sedikit mendongak seolah berpikir. “Kok bau nasi goreng ya,” katanya? Kami cuma menyahut, “perasaan bapak aja deh,” he he he.

Kami tidak pernah tahu apa yang sebetulnya dirasakan atau dipikirkan Pak Pram saat itu. Tapi kesabaran semacam itu jarang saya temukan pada orang lain yang memilih jalan pendidik. Ia juga merupakan pendamping OSIS yang bisa diajak negosiasi. Dan sekarang sosok ramah penuh senyum itu sudah pergi…

Sugeng tindak Pak Pram…maaf atas kebandelan kami dulu. Semoga Tuhan menerangi jalan Bapak ke surga, mengampuni dosa dan salah yang pasti tak seberapa banyaknya, serta menghibur dan menguatkan keluarga Bapak yang masih di Jogja.

Selamat jalan Pak Guru….istirahatlah dengan tenang…

image

Jakarta, 5 September 2014
Dengan duka mendalam..

Saya belum/tidak mau nge-Path

Belakangan ini saya merasa makin “tua” karena makin enggan cari tahu informasi terbaru. Saya membatasi aktivitas sehari-hari hanya pada pekerjaan dan ketertarikan. Jadi, saya enggak terlalu ngeh saat ada “Insiden F” yang dirisak (bully) masyarakat internet gara-gara mengumpat di Path.

Oh well, itu persoalan lain yang nanti jadi perdebatan panjang karena kasusnya jadi rumit dan keruh. Simpan untuk lain kali. Karena menyinggung soal Path, maka saya mau ngobrol saja soal itu dan kawan-kawannya: aplikasi dunia maya.

Saya tidak menggunakan Path. Continue reading

Ulas singkat: Midori Traveler’s Notebook

Kali ini saya mau ulas (review) singkat saja tentang objek obsesi baru saya akhir-akhir ini: Midori Traveler’s Notebook! Yayyyy! Barangnya sudah sampai dan langsung diapa-apain dalam sehari! Terima kasih mbak Rani yang baik hati kayak ibu peri! *joget India*

Midori Traveler’s Notebook (MTN) ini adalah produk alat tulis (stationery) dari Jepang. Produsennya Travelers Factory, desainernya Design Phil. Kalau taruh kata kunci itu di Google dan Youtube, sudah ada ratusan orang lain yang mengulas. Jadi, saya tidak perlu jelaskan detil sejarah dan lainnya ya. ¬†Pokoknya ini cuma sekilas info saja hahaha!

Saya membeli MTN ini pada sebuah toko di Amsterdam, Belanda dengan harga 44.9 Euro. HAH?! He eh, silahkan saja harga itu dikonversi ke dalam rupiah hahaha! Memang semahal itu. Mungkin ini adalah barang yang paling mahal saya beli dalam 2 tahun terakhir selain motor , komputer tablet dan Blackberry.

Lalu, apa istimewanya? Continue reading

Menantang diri 30 hari Frugal Living

My name is Elga, and I’m an impulsive buyer and heavy hoarder.”

Mungkin kalau saya berhadapan dengan psikiater atau klub terapi, itulah yang akan saya katakan. Saya memang bukan Rebecca Bloomwood, tokoh rekaan Sophie Kinsela yang menggemari baju-tas-sepatu hingga bangkrut karena berhutang. Tapi saya juga harus mengakui, bahwa saya tak jauh beda. Saya penggemar pernak-pernik lucu dan punya ketertarikan berganti-ganti yang memicu pengeluaran uang secara impulsif. Pengeluaran yang tidak ada dalam anggaran. I’m messed up. Continue reading