Logat


Logat. Aksen. Gaya bicara. Katanya setiap orang memilikinya…

wayangkancil.tripod.com

Saya sudah tinggal lebih dari 9 tahun di Jogjakarta. Saya hanya tumbuh di kota kelahiran saya di Jawa Timur sampai SMP saja. Masih di pulau Jawa atau kalau orang-orang ibukota bilang, “Orang daerah” atau “orang dari Jawa“. Heran juga sih, mereka kan juga masih menghuni pulau Jawa…nyadar gak sih yaaa? hahahaha!

Semasa kecil, ayah dan ibu saya tidak pernah menggunakan bahasa Jawa pada saya. Percakapan harian dalam keluarga kami adalah Bahasa Indonesia (ACI = Aku Cinta Cewek Indonesia) :D Maka saya tumbuh dewasa dengan hanya memahami (dan menguasai) bahasa Jawa umum edisi terbatas. Itupun karena jasa pergaulan sehari-hari. Selebihnya? Saya hanya bisa nggah nggih nggah nggih saja kalau diajak ngobrol orang yang lebih tua. Gagap jawabnya cuy! :P

Saya paham (atau merasa paham) omongan mereka. Tapi sebenarnya saya punya ke-sotoy-an dan gegar bahasa cukup parah. Meski karena alasan harga diri (Harga diri!Cinta Mati!) tidak mau saya akui terang-terangan, dan itu! membuat saya rawan jadi bahan tertawaan.

Contohnya saja nih ya, saya pernah mengucapkan selamat ulang tahun pada dosen saya dengan ucapan “Sugeng tanggap warso Pakmugi enggal sedaya.” Frase pertama benar, tapi otak kanan saya mencerna kata ‘enggal’ dengan padanan definisi ‘baik, atau bagus’. Lalu dosen saya menjawab,”wah, ya jangan enggal sedaya mbak“. Hah? Adakah yang salah? ternyataaaa sodara-sodaraaaa…enggal itu artinya ‘baru‘! Yap! Saya mencoreng arang pada wajah saya sendiri. Hahahhaha!Masa saya mengharapkan dia punya istri baru?keluarga baru? Wakakakakkakak!!Malunyaaa :D

Kali lain, saya dan teman yang berasal dari luar Jawa mengunjungi sebuah keluarga di desa. Sang istri menyambut dan menanyakan sesuatu dalam bahasa Jawa halus krama, lalu saya jawab “inggih“. Saya pikir beliau tanya saya mau minum atau tidak? Nah, agak lama..kok tidak disajikan apa-apa ya? Si suami sepertinya tanggap lalu tanya sama istrinya kok kami tidak disuguhi minum. Ternyata istrinya menjawab dalam bahasa ngoko, katanya ia sudah bertanya apa saya dan teman saya puasa atau tidak. Ealaaahhh! Karena saya jawab “inggih” yang mengindikasikan kami ikutan puasa, jadi kami tidak disuguhi! Oalah tobat!hahahah!Sang istripun merasa malu karena dikiranya ia yang salah dengar. hehehe maaf ya bu, saya sotoy sih! :D

Dengan latar belakang suku Jawa dan tinggal di Jawa pula, Jogja apalagi, sudah sepantas dan seharusnya saya memiliki aksentuasi medhok Jawa. Saya punya, tapi sedikit berbeda…sebenarnya,saya punya semua logat yang diperlukan dalam situasi atau kondisi berbeda mirip senjata rahasia Jems Bon atau sebanyak Jebakan Betmen :D.

So, in a nut shell…*nggayaaa pake istilah Enggres segalaa!* saya berlogat sekaligus tidak.

Dalam kondisi setelan bahasa Indonesia, saya nyaris tidak mencerminkan logat apapun. Ini membingungkan orang yang bicara dengan saya. Ngakunya orang Jawa kok gak ada logatnya? Nanti, giliran saya bercakap pakai bahasa Jawa “diprotes” lagi. Ngakunya orang Jawa Timur tapi kok ga ada logat Suroboyoan-nya? Malah kalau lagi praktek logat Batak atau tiru-tiru nyobain ngomong bahasa Kupang saya cukup meyakinkan untuk hal logat. Jadi saya ini sebenarnya siapa?

Saya rasa, orang memahami logat sebagai cerminan identitas diri. Ini yang penting. Dengan memperlihatkan logat tertentu, ia menunjukkan akarnya. Ini lo, saya bangga sebagai orang Jawa..logat saya Jawa dengan bahasa Jawa yang baik dan benar. Kadang kalau baca komik saya sering melihat hal itu. Identitas orang Jepang dilihat dari logatnya: Kansai, Hokkaido atau Tokyo.

Terkadang identitas itu semacam tiket perkenalan pertama. Mula-mula kita membawa logat seperti KTP atau kartu nama dan menyodorkannya dengan orang yang berjumpa dengan kita. Dengan begitu ada pertukaran kartu nama atau bertukar cerita. Kalau kebetulan sama, wuih bisa langsung akrab cuap-cuap! Jika tidak, ya inilah waktunya belajar tentang hal yang baru dan berbeda bukan?

dan pada akhirnya, saya ini bisa bangga karena tidak punya logat tertentu sehingga saya bisa lebih mudah melebur…ya kan? Atau sebenarnya saya hanya semacam bayang-bayang transparan tanpa bentuk tetap yang terlalu mudah berubah warna hingga tidak punya warna dasar alias tukang ikut-ikutan? Kalau bergaul lama dengan orang Batak logat saya jadi Batak, kalau bercakap lama dengan orang Kupang saya ikutan aksen timurnya…atau kalau kelamaan di Ibukota, logat saya jadi campuran Sunda dan loe-gue Betawi? Sebenarnya saya ini mau kemana?

wayang.wordpress.com
Ibarat wayang,akhirnya  saya ini cuma jadi wayang penggembira yang bisanya ihak-ihik saja
Jogja, dengan kesadaran gempita cinta bahasa dan logat Endonesa yang membahana!

5 thoughts on “Logat

  1. saya heran dg lembaga kursus bahasa inggris yg juga mengajarkan logat inggris ke siswanya, terus terang dulu saya suka takut praktek bahasa inggris karna logatnya gak pas dan intonasi nya juga gak pas. padahal ya.. di malaysia, singapura, india, meksiko dan negara lain mereka tetap mempertahankan dialek atau logatnya. yang penting kan lawan bicara ngerti ya.

    • Halo halo..salam kenal :)

      well, memang mereka (lembaga-lembaga kursus itu) dituntut mengajarkan pronounciation atau pengucapan yang benar. Lagipula kalau belajar bahasa Asia (Mandarin terutama) lagu atau nada suku kata penting bukan? Tapi kalau urusannya dialog lisan, ya…logat memang tidak penting, yang penting maksud tersampaikan.

  2. ngebaca ini, jadi ikutan berpikir.. karena aku juga nggak berlogat, alias fleksibel.
    identitas diriku yang mana?!
    walo bangga dbilang anak seribu pulau, tapi… yah, diambil positifnya saja.
    Kita bisa tinggal dmana saja, dan adaptatif ^_^

Jadi, bagaimana menurutmu?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s