Seni “merelakan pergi”


Let it go. Let it happen. Let it be…

Pernah menangisi sesuatu yang disayangi karena hilang? Pastinya ya. Bodoh benar pertanyaan ini.

Kalau “sekadar” uang atau barang, mungkin sedihnya cepat hilang. Pengecualian untuk barang-barang bersifat memoar atau memorabilia, yah. Nah, kalau orang? Aduh…ini sungguh topik yang tidak asyik didiskusikan. Sebab, kalau bisa, inginnya kita selalu bersama-sama dengan orang-orang yang kita sayang. Kalau bisa selamanya. Benar kan?

Tapi teman, begitulah cara hidup bekerja. Sama sajalah seperti pertemanan di Facebook. Berapa sih, jumlah riil orang yang benar-benar Anda kenal, akrab, bertemu rutin? Saya yakin separuh saja tak ada. Tapi, jumlah ribuan permintaan pertemanan yang akhirnya Anda terima itu juga nyata. Hal itu menandakan, (setidaknya) jumlah orang yang Anda temui dalam kehidupan hingga detik ini. Lebih dari sekadar kenalan atau orang asing yang papasan di jalan. Hebat kan? Untuk ukuran ‘orang awam’ bisa bertemu dan kenal orang sampai ribuan. Berstatus teman pula :)

Duh, kenapa tiba-tiba saya ingin membahas topik yang selalu saya hindari ini ya?

Umm.. karena…sudah lama sebenarnya, keyakinan ini bercokol di benak saya dan menunggu “kecurigaan saya” terbukti benar sembari menunggu waktu berlalu. Bahwa, orang memang datang dan pergi.

Tak peduli mereka adalah teman, keluarga, rekan kerja, atau seseorang yang sempat menjalin hubungan spesial.

Karena…tiba-tiba kemarin saya terpaku pada sebuah artikel berbahasa Inggris di situs Hello Giggles tentang Letting Go of Fading Friendships yang ditulis lugas dan jujur oleh Becca Rose dan merasa ingin menangis. Artikel itu menuturkan tentang membiarkan pergi sebuah persahabatan yang memudar…

Kira-kira prosesnya begini, sama seperti sepatu yang tak terhentikan menjadi rusak, atau baju yang semakin pudar tanpa diniatkan. Begitu juga dengan sebuah ikatan, hubungan atau perasaan. Perubahan, sayangnya, sering tak terhentikan. Ia melaju seiring waktu, diam-diam mengejek kita yang berusaha menggenggam erat sesuatu. Tanpa menyadari saat kepalan terbuka, sudah tak ada apa-apa di sana…

Lenyap. Tanpa bekas. Bahkan kadang, tanpa pemicu, bahkan tak meninggalkan kebas.

Ketika mengalami hal itu, biasanya ucapan Ayah yang lama menancap di sudut kepala saya berteriak ke muka, “hati-hati berteman dengan perempuan, sebab mereka tidak setia.” Tenang, yang dimaksud Ayah saya bukan kamu atau kamu. Omongan ini jelas tak bisa dipukul rata sebagai sifat universal makhluk berbuahdada ini. Tapi pendapat itu saya diam-diam amini pula dalam hati.

“Benar juga,” batin saya, walaupun rasanya ingin menyangkal habis. “Enggak kok, kami masih bersahabat seperti biasa.” Ujung-ujungnya saya mengetahui, tak hanya saya yang pernah merasa begini. Setidaknya sekali dua kali, tiap penduduk bumi pernah mengalami.

Kapan? Tergantung. Yang jelas, saat setiap orang memasuki fase yang tak lagi seragam. Yah, misalnya: menikah, memiliki anak, pindah kerja, pindah negara, atau sekedar tak lagi satu lingkaran pertemanan. Fase-fase ini bisa datang cepat atau lambat, tanpa sempat kita mempertanyakan apakah waktunya tepat? Kurang ajar betul. Lancang.

Menurut Rose, dengan mengutip temannya yang beranalogi dengan tanaman, “kalau hanya kamu yang menyirami, tak apa membiarkannya mati…” Jadi, begitulah. Yang perlu dilakukan hanyalah membiarkan apa yang secara alami akan terjadi, terjadi.

Memang, takkan pernah ada aba-abanya, tahu-tahu antar sahabat sudah saling menjauh padahal tak bertengkar. Tahu-tahu kita tak lagi bertegur sapa dan menganggapnya wajar saja.

Bahkan terakhir saya dapat kesempatan kontak seorang sahabat di SMP, betapa kagetnya saat saya mendapat informasi anaknya sudah dua. Kapan? Tidak tahu. Sudah lama tidak berkabar.

Kadang kita berusaha keras, bahkan sangat keras, untuk mempertahankan jargon semasa SD “best friend forever” yang disulam di atas hati merah di dada boneka beruang. Kado ulang tahun sahabat sebangku dulu.

Lalu saya pun berhenti berusaha terlalu keras “menjalin komunikasi” atau “keep in touch” yang omong-omong, makin terasa seperti basa-basi, ketika…nyaris tak ada lagi hal yang bisa dibicarakan selain cerita lama. Makin dipaksakan, makin terluka. Ah, apa iya? Kadang tak terasa apa-apa selain clekit senang yang samar bukan?

Maka, sudah waktunya saya belajar melepas, merelakan, dan membiarkan. Biarlah hidup ini bekerja dengan caranya sendiri. Suatu saat nanti saya diijinkan bersimpang jalan lagi dengan dia, mereka, kamu, kalian…pastilah itu akan tetap jadi hari yang mengesankan. Satu bagian lagi untuk disimpan di kotak kenangan. Ah, sedih amat sih! Sudah ah!

When the time is come, we can practicing…the art of “letting go”

Jakarta, Ketika sapaan “apa kabar” terasa hambar,

my signature

15 thoughts on “Seni “merelakan pergi”

  1. ih, aku menemukan blog-mu yg ini! kemarin-kemarin cuma nemu yg peracik itu.

    Hmmm… aku bukan orang yang menjalin komunikasi intens saat jauh, hanya sekali-dua berimel ria dengan teman, dan tetap super seru saat akhirnya bertemu. saat lama ga ketemu, lalu berhubungan lagi, jelas sekali-dua kaget: wah, tetiba sudah punya anak. wah, ternyata sudah putus , dan banyak wah lainnya.

    juga ketika bertanya apa kabar, what’s up, howdy, atau apalah itu, biasanya jawaban kami juga bukan sekadar “baik”, yang terkesan basa-basi. “ssup dude”, biasanya akan jadi percakapan panjang tentang bagaimana hidup saat ini.

    mungkin karena aku ga pandai berteman dalam lingkaran-lingkaran. buatku garis pertemanan itu tidak melingkar ke dalam, tapi terbuka. garisnya berpotongan di tengah, bukan membentuk kotak. teman itu bukan sesuatu yang dimiliki. objek disebut objek dan bisa dimiliki karena dia mati, begitu kata sartre. tapi teman kan bukan objek. jadi aku harus belajar tidak egois dengan tidak meletakan kepemilikan.

    jadi saat seorang teman tidak membalas sms, bisa jadi dia sedang sibuk. atau ya emang gamood aja mau balas. lalu aku sibuk dengan kerjaanku (sibuk blogwalking sebenernya. haha), lalu lupa kalau dia tidak membalas. jadi ga sempet sedih atau sakit hati. mungkin kali lain orang lain yg mengirim pesan padaku lalu aku lupa membalas. ada banyak kemungkinan.

    buatku sih kenangan jangan dilepas, Ga. sayang. dari pada diingat-ingat dalam kesedihan. kan lebih seru kalau senyum senyum sendiri saat inget masa masa dulu, dari pada mellow di sudut kamar :D

    ih, jadi panjang. haha

    • hehehe makasih udah mampir ya Rik. Menurutku, yang rela dilepas itu orangnya, kalau kenangan sih nancep selamanya baik menyenangkan atau menyedihkan :)) Aku masih suka mengenang masa-masa lalu sambil tersenyum dan mensyukuri sebagai bagian dari kekayaan pribadi yang membantuku sampai ke aku yang sekarang hehehe. You as always, so easy going dan membuatku iri. Tapi ya namanya karakter orang sih sendiri-sendiri ya :P

  2. Seakan-akan kita merasa dekat melihat merka setiap hari di kolom chat, tanpa ada satupun tindakan untuk menyapa. Itulah saat tekhnologi memperpendek ruang tapi menjauhkan hubungan antar. Hati.

    • menurutku masih mending juga sih ada teknologi, walaupun pilihan untuk “keep in touch” itu kembali ke kita sendiri. Jaman dulu nggak ada media sosial, orang hanya bisa mengenang. :)

Jadi, bagaimana menurutmu?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s