Anak Asrama, Apaaaa Aja Bisa! (1)


Helo, it’s me again! Tiba-tiba mau cerita secuil lagi masa-masa sewaktu muda remaja di SMA. Waktu tinggal di asrama tepatnya. Yeaaah!

Saya sudah pernah cerita ya, SMA saya itu sekolah khusus perempuan. Yap. Nggak ada batangan, adanya bulatan (sensor). Nah, enggak semua siswi yang jumlahnya ratusan itu penduduk asli Jogja. Banyak juga yang ‘impor’ dari luar Jogja bahkan luar pulau Jawa.

Nah, siswi-siswi impor ini bisa memilih tinggal mandiri di indekos atau asrama. Asrama? Dih, mana ada anak yang mau masuk asrama? Asrama itu kan ketat aturannya, enggak bebas pergi-pergi, harus begini-begitu. Pokoknya, enggak ada gadis muda yang sedang mekar dan penuh gairah melihat dunia mau dikunci di balik tembok asrama. 

Tapiiii saya malah penasaran sama apa yang ada di balik tembok itu. Bayangkan, kapan lagi kita bisa “mencicipi” kehidupan asrama kalau bukan pas sekolah? Lagipula, rasanya agak mirip dengan Harry Potter yang tinggal di asrama Gryffindor di Hogwarts. Maklum lah ya, fans garis keras enggak bisa bedakan bangunan antik sama ‘penjara’ :P Singkatnya, saya masuk asrama tanpa dipaksa. Malah saya yang memaksa orang tua buat memasukkan saya kesana.

Kebetulan pula, saya juga diterima masuk asrama. Info saja ya, kapasitas (jiah kapasitasss!) asrama ini terbatas. Stella Duce 1 cuma punya dua unit asrama: Supadi dan Samirono.

Kedua sebutan asrama itu dinamai sesuai lokasinya. Yang Supadi ada di jalan Supadi dan sangat dekat dengan sekolah. Tinggal koprol tiga kali sampai. Sementara yang Samirono ada di kecamatan (kalau tidak salah) Samirono dan lokasinya agak jauh. Oke, ralat. Jauhhhhh!!!! Dan sial/untungnya, saya dapat asrama kedua!

Yang tidak disangka, asrama-asrama ini banyak peminatnya: siswi yang pengen tinggal di asrama dan orang tua yang pengen anaknya tinggal di asrama. Bedakan keduanya. Intinya, karena kapasitas terbatas tadi enggak semua yang pengen masuk asrama bisa tinggal di asrama. Siapa cepat dia dapat.

Waktu itu saya lupa alasan saya diterima. Mungkin karena saya datang berdua dengan ayah dengan tampilan “kasian pak-kasian bu-kasian sus(ter)-nggak punya rumah” makanya suster kepala kasihan dan memutuskan menerima saya. Bagaimana cara memilih kamarnya? Suster kepala menyuruh saya mengambil satu bungkusan kecil ornamen dari pohon di kantornya. Mirip undian begitu. Kamar di asrama itu dinamai unit sesuai urutan angka. Ada 18 unit, saya dapat unit 12. Tralala!

Peraturannya “sederhana”, ada jam doa, jam tidur, jam rekreasi, jam makan dan jam belajar yang harus diikuti seluruh warga asrama. Ada barang-barang yang harus dibawa dan ada barang-barang yang tidak boleh ada: kulkas misalnya. Tapi tiap anak harus membawa ember cuci, alat makan, alat mandi dan perlengkapan tidur sendiri kecuali bantal dan kasur.

Waktu itu (karena sekarang sudah berubah), unit saya berbentuk seperti rumah kontrakan yang berderet memanjang berhadapan ke belakang dengan satu jalan utama. Pintu keluar hanya satu: gerbang besi tinggi dengan jalinan kawat. Pintu yang dibuka hanya yang kecil, sementara yang besar jarang dibuka untuk akses mobil. Sekilas, asrama ini mirip perumahan penjara. Habis, sekelilingnya juga tembok tinggi dan berbatasan dengan kali (sungai kecil). Mencegah siapapun yang di dalam, kabur ke luar. Hiii…

“Rumah kontrakan” alias unit-unit ini benar-benar kembar susunannya hanya beda kanan dan kiri tergantung posisi. Ada ruang utama dengan meja besar dan kursi berjumlah delapan. Di sisi jendela ada sederet lemari susun berjumlah delapan. Disekat dengan tembok dan pintu kayu, ada kamar berbentuk persegi panjang dengan empat tempat tidur tingkat yang dipisahkan lemari baju kecil berpintu delapan. Kenapa delapan? Ya karena tiap unit ditakdirkan memiliki delapan orang di dalamnya. Pas. Genap.

Lalu di bagian belakang ada satu kamar mandi dan satu kamar kecil dengan toilet, petak kecil terbuka untuk menjemur baju serta ruang setrika. Juga ada dapur kecil di balik kamar mandi dengan gudang kecil untuk menaruh kardus barang tak terpakai. Benar-benar seperti rumah.

Melengkapi rumah itu, anggotanya pun dicampur. Ada kelas satu, kelas dua dan kelas tiga. Masing-masing unit punya ketua unit dan wakilnya. Biasanya kelas 3 dan kelas 2. Biasa, urut tua senior. Sementara adik-adik baru kelas satu yang imut sebaiknya nurut. Hahaha!

Dan begitulah, saya resmi jadi anggota asrama SMA Stella Duce 1 Jogja: Samirono. Perasaan? Tidak karuan.

Gryffindor house. Ngarepnya sih dapet yang begini... ^^! source: pottermore.com

Gryffindor house. Ngarepnya sih dapet yang begini… ^^!
source: pottermore.com

(Bersambung)

2 thoughts on “Anak Asrama, Apaaaa Aja Bisa! (1)

Jadi, bagaimana menurutmu?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s