Reuni


Beberapa hari lalu saya mendatangi sebuah acara pameran seni di sebuah hotel di Jakarta. Niat awalnya sih menonton pertunjukan kelompok teater boneka seorang teman, tapi tak disangka, berubah jadi ajang jumpa.

Di antara mereka yang saya temui, ada wajah yang saya jumpai terakhir seminggu lalu, bulan lalu, tapi ada juga yang bertahun-tahun lalu. Bahkan, masing-masing wajah itu tidak semua dari lingkup yang sama. Menakjubkan, betapa banyak relasi ditemukan kembali dalam sebuah acara untuk umum tanpa sengaja.

Hal ini membikin saya berpikir, rupanya, agenda publik semacam itu tak disangka lebih berhasil mempertemukan kawan lama ketimbang reuni yang disengaja. Mungkin, karena saya tak punya ekspektasi besar. Niat awalnya kan memang menghadiri pameran, lalu mungkin bertemu beberapa teman yang sudah janjian. Eh, rupanya saat eksekusi, ada lebih banyak orang yang saya kenal, ditemui di sana.

Nah, seberapa sering sih, Anda berhasil mengajak “kumpul-kumpul” banyak orang sekaligus? Saya tadinya sering ketiban sampur (terkena tanggung jawab) menjadi “panitia” acara semacam itu. Tapi belakangan saya makin enggan kalau harus mengurus pertemuan lebih dari empat orang. R-e-p-o-t.

Rasanya setiap orang tidak pernah punya waktu yang “pas” sedangkan yang harus dicocokkan adalah waktu milik empat, tujuh bahkan belasan orang! Tambah pula, saya makin malas harus mendengarkan alasan-alasan pembatalan. Familiar dengan..”Wah, jangan hari XYZ, aku ada acara” atau “Duh jangan jam ABC, aku masih kerja“?

Memang, beramai-ramai itu seru. Tapi agak tak masuk akal bila hal itu jadi syarat utama bertemu. Saya sendiri adalah orang yang sangat personal dan tidak gila keramaian. Jadi, kalau dari 14 orang, yang punya kesamaan jadwal hanya 3 orang, ya terjadilah! Memangnya kalau hanya 3 orang itu yang bertemu lalu tidak seru? Tidak ada cerita?

Mengatur pertemuan 10 tahun lalu tentu beda cerita. Saat itu jalanan lebih lapang, dan rasanya tiap orang punya waktu luang. Kalau sekarang, menunggu 14 orang hasilkan sepakat pada satu waktu, hampir sama gampangnya dengan menghubungi langsung ponsel Barrack Obama!

Lagipula, urusan bertemu itu juga berkaitan erat dengan minat. Seberapa besar minat seseorang untuk bertatap muka dan mengobrol dengan yang lainnya? Adakah wajah tertentu yang dihindari? Adakah ketidaknyamanan bila bertemu dengan A, B, C? Kalau ya, maka soal bertemu bukan lagi perkara waktu, tapi juga menyangkut perasaan.

Saya percaya teori persimpangan. Di antara sekian jalur yang kita tempuh, entah dalam waktu dekat atau panjang, kita akan dipertemukan dengan orang-orang. Bisa teman lama, bisa kenalan baru. Semuanya seperti tanpa rencana, tapi sebetulnya si takdir berperan di dalamnya.

Makanya, kata-kata “sampai jumpa saat kita berjumpa” ya agak benar adanya. Tidak perlu stres karena “gagal” bertemu beberapa orang sekaligus. Bagaimana kalau kita serahkan saja urusan reuni itu pada waktu? Ah, tapi saya masih mau saja kok jadi panitia pertemuan, asal pada nggak banyak alasan! :p

2 thoughts on “Reuni

Jadi, bagaimana menurutmu?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s