Obsesi


Baru-baru ini saya memiliki ketertarikan baru terhadap sebuah produk alat tulis (stationery), tepatnya sebuah merek dengan ciri khas khusus yang cukup populer. Sayangnya, produk itu tidak dijual di toko manapun di Indonesia sehingga saya memutuskan untuk titip beli pada seorang teman yang akan kembali dari studinya di luar negeri.

Harganya tidak murah karena telah melalui rantai impor ke negara teman saya itu. Namun detil mengenai produk ini saya bahas nanti saja kalau bendanya sudah di tangan he he. Karena kali ini saya ingin cerita sedikit tentang “kegilaan” yang terjadi dalam proses “akuisisi” produk tersebut. Kita sebut saja, produk M. *Memble kaliii :p

Saya menemukan informasi M ini belum lama, sekitar 4 bulan terakhir melalui internet. Singkat kata saya jatuh cinta. Tapi, harganya yang mencederai dompet juga membuat saya ragu-ragu. Sepadan tidak ya?

Sebelumnya saya tidak pernah membelanjakan uang sebesar itu, untuk sebuah produk. Namun sebagai seorang pembeli impulsif-obsesif  (yang tadinya menahan diri untuk tidak membeli namun berakhir membeli karena penasaran, – definisi pribadi), saya membuat puluhan alasan untuk mengeksekusi pembelian M. Parahnya, saya tidak menyesal. Belum.

Padahal, si M ini sebetulnya adalah produk yang terbilang sederhana dan kalau mau, bisa buat sendiri. Lalu mengapa saya terbayang terus dan makin penasaran? Saya makin mencari tahu lebih dalam tentang si M, tentang pendapat orang-orang yang memilikinya melalui internet dan makin ingin memiliki.

Bahkan, saya sempat menjajal “tiruannya” dengan harga yang lebih murah, namun entah kenapa si M versi original terus menempel di sudut otak. Sepertinya saya jadi terobsesi. Saya masuk dalam tahap ketidakpuasan bila belum berhasil memiliki. Rasanya belum resmi kalau tak punya yang asli. Padahal, bisa saja kan, kalau nanti saya memakainya, ternyata bukannya happy justru kecewa?

Kesimpulannya: saya harus memilikinya. Titik.

Bermula dari titik itu, saya, walaupun belum berstatus pemilik dan pengguna M, sedikit-sedikit mulai beralih dari pengagum menjadi laskar alias pembela M yang cukup fanatik. Karena, seperti semua hal di dunia, ada sebagian pihak yang tak puas dengan M. Buat mereka M tidak sempurna. Dan, lucunya, saya merasa harus membela M padahal saya belum tahu apakah nantinya saya akan benar cinta mati dengan M.

Gila, bukan?

Ini ada ceritanya. Sebab setelah memutuskan membeli M, untuk pertama kalinya dalam hidup, saya mendaftar sebuah grup tertutup (perlu mendaftar keanggotaan) di Facebook tentang M ini. Anggotanya ribuan dan sebagian besar berdomisili di negeri Paman Sam. Sepertinya baru saya yang berasal dari Indonesia, meskipun silent member alias anggota pasifnya masih banyak lagi. Alasan bergabung, tentu saja, untuk memuaskan mata dan mencari inspirasi sembari menunggu M tiba.

Grup tersebut sudah dibentuk cukup lama, nyaris setua usia M dan merupakan wadah untuk membagi ketertarikan serupa pada si M. Awalnya, saya berharap akan mendapatkan inspirasi tentang M dan menggali lebih dalam penggunaannya. Saya bergabung dengan grup ini sekitar 2 bulan. Di grup tersebut, tak cuma membahas M namun juga cara membuat barang yang sama dengan M atau melakukan jual beli produk serupa M.

Mula-mula saya merasa “senasib sepenanggungan” dan diterima ramah dengan para anggotanya. Mereka tampak sama terobsesinya dengan saya terhadap M. Sampai, saya menyadari, meskipun di antara mereka banyak yang merupakan penggemar M, namun mayoritas makin bergeser menjadi “musuh” M. Saya beri tanda kutip karena sebetulnya para “musuh” ini tidak melakukan hal yang merugikan produsen M. Mereka hanya lebih mencintai tiruan M dan…entah sadar atau tidak, menjadi menjelek-jelekkan M.

Memang, konsep dasar si M sepertinya sudah lazim ditemui sejak zaman dulu kala. Tapi, yang membuatnya populer dan viral di penggemar alat tulis saat ini, menurut saya, adalah si produsen M yang membuat dan mendistribusikan secara massal. Nyaris semua kata kunci produk serupa merujuk pada M di mesin pencari. Meskipun, banyak pembuat independen yang menjual versi mereka sendiri.

Karena M diproduksi massal, maka jelas tidak mungkin si produsen membuat diversifikasi produk sesuai permintaan (custom). Mereka hanya membuat varian yang sedikit sambil sesekali menerbitkan edisi terbatas. Hal ini yang ditanggapi para pembuat independen sebagai peluang memasarkan buatan mereka. Ketika dikerjakan untuk pasar terbatas, variasi bahan berbeda yang tidak dijangkau oleh pembuat M, maka hasil buatan independen ini malah sering melampaui kemampuan M. Versi independen ini punya variasi warna, ukuran yang lebih umum (ukuran M cukup janggal sehingga pembeli akan “tergantung”  pada produk penunjang dari si produsen) atau menyertakan hal-hal sesuai pesanan personal.

Sayangnya, versi independen inilah yang kemudian seperti berbalik menjatuhkan M. Lupa kalau inspirasi pembuatannya berasal dari M.

Bahkan, salah satu pembuat independen yang telah berhasil menjual 700 lebih produk serupa M dengan sistem yang sangat mirip (hanya dengan bahan dan ukuran berbeda), baru-baru ini memutuskan membeli M. Ia mengaku penasaran dengan si M, kok populer sekali? Selingan, sebetulnya ini agak mengherankan he he. Dia membuat dan menjual tiruan M tanpa pernah memiliki produk aslinya lebih dulu ha ha ha.

Saat M tiba di tangannya, orang itu membuat video ulasan yang menurut saya jauh dari ulasan yang adil. Cenderung menjelek-jelekkan walaupun dia bilang tidak bermaksud itu. Para penggemar buatannya juga mendukung dan menekankan bahwa buatannya jauh lebih berkualitas dibanding M. Lucu bukan?

Sejak itu, saya hanya memberikan komentar atau “like” pada status-status yang terkait M saja. Menurut saya, tidak adil seorang peniru memanfaatkan kekurangan dari yang ditiru dan menjatuhkan sumber inspirasinya sendiri. Lama-kelamaan saya juga melihat, para penggemar tiruan ini sama terobsesinya dengan saya dengan cara yang berbeda.

Kalau saya terobsesi menggali lebih dalam tentang M, tentang sejarahnya, tentang penggunaannya, para “musuh” M ini tak henti-hentinya menambah jumlah tiruan M. Ada yang jual lebih bagus, warna lain, bahan lain, selalu mereka beli. Pada akhirnya, mereka tidak benar-benar menggunakannya, justru menumpuknya sebagai bagian dari koleksi pajangan.

Padahal, keluhan awal mereka sama seperti saya: harga M terlalu mahal. Tapi, seorang penggemar tiruan M bisa membeli dan memesan lebih dari tiga buah. Asal tahu saja, satu buah tiruan M harganya hanya selisih beberapa dollar AS lebih murah, sama atau malah lebih mahal dari si M sendiri. Artinya, dari sisi harga mereka sudah mengeluarkan lebih mahal dari harga M yang di negara asalnya hanya sepertiga dari harga yang beredar di negara mereka (faktor impor).

Tapi setiap pembeli tiruan ini terus menjadi konsumen setiap si pembuat menerbitkan edisi baru. Hingga saya ingin bertanya, berapa banyak M yang kalian benar gunakan kalau sebetulnya kebutuhan kalian cuma satu?

Rupanya kegilaan ada banyak bentuk. Tak cuma pada barang tapi juga pada keinginan. Kapankah “cukup” benar-benar cukup? Saya melihat seorang anggota yang sudah memiliki sebuah M dan 3 tiruannya dan mengatakan “cukup”, berakhir dengan memesan lagi yang lain tak lama kemudian.

Kalau tidak sadar, kita bakal terus terhisap dan tidak bisa menghentikan semua obsesi ini. Berakhir pada permukaan yang sekadar ingin memiliki dan bukan menggunakan. Saya, walaupun mulai merasa jengah, masih juga terobsesi melihat percakapan yang terjadi dalam grup tersebut. Dasar naluri ingin tahu!

Namun saya telah berencana akan keluar dari grup itu saat M berada di tangan saya nanti. Saya tidak ingin terjerumus lebih dalam pada obsesi yang tak ada ujung pangkalnya. Menyaksikan orang terus-menerus membeli tiruan M tanpa benar-benar menggunakannya. Saya ingin tahu, apakah saya akan puas dan bisa memaksimalkan fungsi penggunaan M. Eh, tapi ini malah menunjukkan saya juga sangat terobsesi ya?

About these ads

4 thoughts on “Obsesi

  1. fransiska firlana says:

    Ah pintar sekali kau…hanya ngomongin stationary yang belum di tangan tapi sudah mantap ulasannya…semoga tdk kecewa lagi…#pengganti bonus natal nanti

Jadi, bagaimana menurutmu?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s