Hi there, pasti pernah terima Broadcast Message (BM) alias pesan massal atau SPAM melalui ponsel atau email, kan? Teknologi masa kini benar-benar memanjakan proses komunikasi ya? Menebas jarak, memintas waktu. Nyaris tidak bayar pula! Yah, setidaknya tak semahal kolom iklan majalah atau durasi televisi. Continue reading
Author Archives: Elga Ayudi
Semrawut Bandara, Resiko Nyawa (Twit Arif Zulkifli)
Musibah kecelakaan pesawat Sukhoi beberapa waktu lalu membuat kita makin mempertanyakan kinerja penerbangan. Berikut saya posting rangkuman twit dari Redaktur Eksekutif TEMPO, Arif Zulkifli mengenai kesemrawutan sistem ATC Bandara.
Ada baiknya kita waspada dan tahu apa yang terjadi di balik kisutnya penerbangan Indonesia.
(Twit ini merupakan intisari laporan utama Tempo besok ttg centang perenang menara pengawas bandara alias ATC. Ditwit oleh @arifz_tempo dengan tagar #ATC, 20 Mei 2012, 16.00WIB)
1. Tweeps, laporan utama Tempo besok ttg centang perenang menara pengawas bandara alias #ATC. Sy TLkn segera. http://t.co/XU6uDimt
2. Tersebutlah N petugas #ATC bandara soeta yg pandu sukhoi ketika celaka. Kini ia stress berat dan ketakutan. ATC diduga bperan dlm tragedi itu
3. N izinkan sukhoi turun dari 10 ribu ke 6 ribu kaki, meski pesawat keluar dr training area dan disergap awan tebal. #ATC
4. Selain peralatan tak memadai, N lalai karena super sibuk. Pada saat yang sama ia harus pandu 13 pesawat lain yg hilir mudik
5. Tangani 13 jalur sebetulnya tak istimewa. Kali yg lain petugas tangani 30 jalur. Minum aja gak sempat, kt s’orng petugas.
6. Bayangkan, di langit jkt saban hari ada 2.000 penerbangan. 1.100 naik turun dari soeta. Saling salip tjadi. Sbg pnumpang kt tak sdar
7. Ini pengalaman Tempo. Naik GA309 sby-jkt 26 april lalu. Pswt hampir landing, lalu naik lagi. Pilot umumkn jalur direbut maskapai bea murah
8. Rebutan jalur sebabkan maskapai dekati #ATC. Korupsi terjadi. Petugas ditraktir jalan2. Makin cepat landing makin irit avtur
9. Pengalaman lain.Seorang pilot, Megi Helmiadi, antre landing. Diminta puter-puter di udara, avtur tak cukup. Frustasi,dia turun di Palembang
10. Insiden hampir tjadi di makasar ’05.Cathay+Qantas nyaris tabrakan, #ATC slh atur ktinggian. Jarak 60m,pilot teriak2. Cina+Ausie kecam Ind
11.Hanna Simatupang, mantan KNKT cerita: dua maskapai rebutan landing di soeta. Selamat tapi sampai di terminal pilot brantem, gebuk-gebukan.
12. Di Soeta ada 5 menara. Petugas kurang.Supervisor rangkap controller. Saat sukhoi jatuh, asisten controller dinas di menara lain
13. flight plan system di #ATC juga bmasalah. Data pesawat yg masuk ke sektor pengawasan diunggah manual. Beban petugas bertambah.
14. Automatic Air Traffic Control System gunakan teknologi 97. Idealnya diperbarui tiap 10 thn. Radar sering padam. Sepekan 1-2 kali.
15. #ATC punya banyak bos: Angkasa Pura I dan II, plus Kemenhub. Akibatnya: rute berkelok. ATC tak sigap saat pesawat dr wilayah lain masuk.
16. Menteri Dahlan Iskan pernah sidak #ATC dan temukan menara kacau balau: sampah berhmburan, petugas mrokok dan main HP, pdhal bahaya
17. Sekian tweeps. Bukan untk menakut2i, tapi gak ada salahnya perbanyak doa kalau naik pesawat. Tabik!
Pagi terakhir
Jam berapa ini?
Ah..rupanya sudah pagi. Kukira aku terbangun, tapi tidak. Kurasa aku belum sempat terpejam dan menyerahkan badan pada mimpi. Belum.
Sekujur badan didera lelah. Aku melampaui batas ketahanan pada perjalanan yang sanggup dicapai tubuhku. Seharusnya aku tak perlu kembali. Tepatnya, aku mencari-cari alasan. Untuk menunda pergi.
Bingung, setengah terhuyung kutatap tembok ungu kamarku ini. Bukan warna kesukaanku tentu. Aku takkan pernah mengecat dinding kediamanku dengan warna ungu. Apalagi ungu kamar ini dipadu merah jambu yang tak serasi. Norak sekali.
Andai aku punya lebihan waktu, akan kuamplas dinding norak ini dan kubilas warna yang kusuka. Tapi percuma.
Kamar ini kupilih karena aku tahu takkan cukup punya waktu. Ini bukan kamar yang menemaniku di 4 tahun awal masa peralihan. Yang kucat dengan dinding hijau gradasi dan luasan yang menyenangkan. Aku menyukainya. Kamar hijau yang menemaniku memandang hujan di kebun belakang tetangga dari teralis jendelaku.
Bukan pula kamar kecil tersembunyi lapis-lapis pintu yang membuatku lelah membuka sebelum beralih ke kamar berikut yang berada di antara petak-petak ramai.
Bukan juga kamar keempat yang berseberangan dengan sahabat-sahabat. Sebelum akhirnya mereka pergi hingga suasana tak lagi hangat.
Tapi aku masih ada. Masih utuh dan menjalani hari seolah mimpi. Seolah pikiranku berhasil dimanipulasi.
Aku akan pergi. Tak apa..nanti pasti bisa kembali.
Jogja, 30 April 12 dini hari
tak cukup waktu
Malam yang tergesa. Bukan kebiasaanku berbenah kamar tengah malam begini. Kecuali tersadar bahwa keadaan kamar berantakan seperti miniatur pembuangan sampah, aku nyaris buta dengan kondisi begitu.
Tapi malam ini berbeda.
Malam ini adalah malam terakhir, penutup satu buku cerita. Meninggalkan cerita 11 tahun yang berlalu dengan cepatnya. Sebelas tahun di Jogja.
“Tak apa..tak apa”, mantra yang kudendangkan perlahan seperti lantunan doa. Aku bisikkan berulang dalam hati. “Aku tak apa pergi. Aku akan selalu bisa kembali. Tak apa. Tak apa.”
Memang begitu. Bahkan nyaris tak terasa apa-apa di dada. Biasa saja. Benarkah?
Entah.
Mungkin…sebetulnya ada rasa yang lebih besar, yang melebihi rasa haru ataupun rasa tak kuasa atas waktu. Bentuk yang sangat..sangat besar dan mendesak keluar, tapi dengan segala ketenangan coba kutahan.
Bukan waktunya bernostalgia. Tak ada waktu untuk itu. Tak cukup waktu untuk mengharu-biru. Toh keputusan sudah ditetapkan, kenyataan tak terelakkan. Tanggung jawab menunggu menjemput tanganku.
Pun begitu, kilas-kilas cerita bocor juga. Meski otakku susah payah memalingkan wajah. Mereka menggoda iman. “Jangan pergi”, kata mereka. Mirip iblis penggoda.
Tidak. Kataku. Aku sudah memutuskan. Aku sudah menempatkan cerita ini di satu sudut hati. Ah! Ternyata mereka makan tempat. Menolak kususun rapi pula. Berjejalan dan bertabrakan. Apa benar mereka sebanyak itu? Sejak kapan?
Banyaknya barang di kamar petakku seakan mempertegas kenyataan itu. Ada terlalu banyak pengingat. Aku tak bisa pergi jika hatiku dibebani. Maka kukeraskan tekad, kusumbat telinga. Toh tak banyak lagi raut wajah tersisa. Mereka sudah terbang lebih dulu. Hanya tinggal aku. Yang dulu tak mampu gerakkan kelepakku. Mencari alasan berlindung di sarang.
Aku pergi. Meski tak ingin.
Tapi, aku ingin tetap pulang ke tempat ini. Satu saat nanti.
Selamat tinggal…nanti aku kembali.
Kita akan bertemu lagi di sore hangat keemasan dengan semilir angin di hela rerumputan.
Jogja, detik pergi yang lama.
A Woman’s Name
One day, my mother told me that one of her acquaintances’ son will get married. Since her friend already a widow, people used to called her as Mrs. B (her husband name).
I simply asked my mother, “do you know her exact name?” and my mom couldn’t remember what’s her “girl’s name”.
I told her, “mom, you’re lucky most of people knew what’s your name.” it’s because my mom is a teacher. Students call her name, not my father’s. And so did other people.
When a woman got married, in some countries she’ll get her husband’s last name replacing her previous family name. But, in Indonesia (esp. Javanese), people simply call a wife with her husband name. So, instead of using her real name, suddenly she’s been called with a manly name
Then many years will go by, people won’t call her with other name but her husband’s name. Though the husband already passed away. How long a woman wear her real name? Until before she’s married, I guess. After that, she’s been somebody’s wife or somebody’s mother.
That’s why, the Bank will ask your mother’s name as “secret code” of your account confirmation. Not many know the answer.
What’s the matter? Nothing.
But it’s quite an important issue for me, if you ask. I just simply want to hold my very own name until I died ![]()
It’s not about dominating someone or so. I proud of my name and want to be called with it. What should I do then?
I think I should have a job enabled me to use my name: writer, reporter, lecturer, doctor, or teacher could be one of it.
You know, they said, “tiger dies leaving its stripes, elephant its ivory. But people die leaving his/her name.”
Cheers!