Dilema sampah abadi: printer (dan lainnya juga)

Uwooo…ternyata saya sudah absen berhari-hari dan tidak menuliskan apapun. Ada banyak hal yang menunggu dibuat tulisan sebenarnya. Namun karena penundaan dan berbagai alasan, mood untuk menuliskan sudah hilang…begitulah kalau jadi penulis moody: payah.

Nah! sekarang, penulis payah ini mau berkeluh-kesah. Sepertinya saya memang memperlakukan blog ini bagai tempat sampah. Ngomong-ngomong soal sampah…saya punya bahasan sampah baru nih…

Dalam track record saya sebagai pengguna gadget dan barang elektronik yang tidak terlalu gaptek, saya adalah user yang payah. Terutama soal printer. Bayangkan saja, selama 6 tahun saya kuliah (Yap!enam..lebih sebenarnya hehehe), saya sudah berganti printer lima kali! yang kalau dirata-rata, berarti nyaris setiap tahun saya berganti printer! Continue reading

Air (part 1)

Beberapa waktu yang lalu saya memendam geram pada teman satu pondokan saya. Apa pasal? Ia mengosongkan isi bak air kamar mandi bersama kami untuk dikuras. Yang sungguh menjengkelkan adalah isi bak air tersebut sebenarnya masih penuh.

Memang, ada endapan kotoran berupa lumut di dasar bak. Namun kami tak jua bisa mengurasnya sebab keran airnya rusak. Nah, ketika keran tersebut sudah diperbaiki, saya bermaksud menggunakan air yang masih penuh itu. Toh yang kotor hanya dasarnya, bagian air secara keseluruhan tetap bening dan tidak butek karena sabun. Jika merasa sedikit jijik, bisa saja kami mengambil air langsung dengan menyalakan keran dan menampungnya untuk sikat gigi atau cuci muka. Air yang masih banyak itu masih bisa dipakai untuk mencuci atau menyiram tanaman.

Teman saya tersebut punya habit “super extra clean person” yang menurut pemahaman saya berarti orang yang tidak rela ada setitik debu di lantainya atau menanggung kondisi ‘sedikit’ kotor.

Continue reading