Tangled: Aksi baru cewek rambut panjang

Yihaaaa! Bravooo!Plok plok plok!

 

Here they are!

Saya harus berdiri dulu untuk keplok-keplok buat film ini! Walau menyesal tidak nonton 7 menit pertama (Right!saya ketinggalan ‘pengungkit’ moodnya!), tapi saya benar-benar terhibur dengan film animasi 3D keluaran Disney ini. SANGAT. Kalau saya bilang: hey, ini lhooo dongeng modern yang ga menye-menye! Engga bikin memble! hahahaha! Continue reading

Wallstreet: Where money never sleeps (2010)

“Money is a bitch that never sleeps!” (Gordon Gecko)

Punya nominal dengan sembilan digit angka nol saja tak pernah terbayang…

Seumur hidup tabungan yang saya punya maksimal kisaran juta di bawah angka 3. Maka saya dibuat ternganga dengan nominal yang disebut-sebut di film ini dengan gampangnya bagai bicara tentang membeli permen dan menyumbang kembaliannya.

Dunia investasi dan modal seperti planet jutaan cahaya jauhnya bagi saya. Meski begitu, dunia itu terpapar gemerlap menyilaukan mata. Sekejap bisa mengantongi untung ratusan juta, sekedip bisa hilang dan jatuh bangkrut. Dunia yang mengandung magis dari sebuah benda alat tukar yang bernama UANG.

 

Wallstreet Poster

 

Film besutan Oliver Stone ini seperti buku terbuka yang memperlihatkan bagaimana cara kerja uang dalam dunia investasi saham. Angka-angka itu takkan dipegang dalam bentuk kertas bergambar mantan presiden AS dan tidak berwarna hijau, hanya dalam cek dan transaksi. Jika dulu saya tak paham mengapa isu-isu yang berhembus bisa mempengaruhi harga saham..setidaknya saya sekarang bisa (sedikiiiiiittttttt) paham. Continue reading

Inception: Menakar mimpi dan kenyataan

“jangan berkedip, jangan sms-an, jangan ngobrol, bahkan jangan ke toilet”

begitulah kira-kira rangkuman pesan teman-teman saya saat saya berencana nonton film terbaru Leonardo Di Caprio ini.
“Kenapa?”, tanya saya. “Soalnya pakai mikir, nanti gak dong (paham)”, sahut teman saya. Bahkan kakak saya ikut-ikutan mengompori nonton. hmm…hebat juga ya film ini…pikir saya.

Alhasil, dengan suhu dalam studio cinema yang 17 derajat itu, sambil menahan-nahan kencing pun saya tetap tak beranjak dari kursi, tidak meladeni obrolan, tidak mengecek HP sekalipun ;D Continue reading

Tanah Air Beta: Terpikat pada pesona akting Yehuda

Ini adalah film Indonesia kedua yang saya tonton tahun ini setelah Alangkah Lucunya Negeri Ini.

Saya benar-benar minim pengetahuan tentang perfilman Indonesia sejak terakhir saya nonton Petualangan Sherina dan Ada Apa Dengan Cinta. Rasanya sudah lama sekali sejak saya menonton Eiffel I’m in Love di bioskop yang merupakan film Indonesia terakhir sebelum jeda panjang bertahun-tahun kemudian.

Saya rasa ini adalah film ketiga (kalau tidak salah) Ari Sihasale. Sebelumnya Ale dan Nia (Zulkarnaen) juga membuat film tentang anak bernama Denias lalu apa saya lupa. Tapi jika ada yang saya ingat tentang film-film Ale dan Nia, adalah konsistensi mereka menjadikan seorang anak tokoh utama ceritanya. Memang takkan seperti Petualangan Sherina yang sangat kental rasa canda dan khas dunia khayal anak-anak, tapi Ale dan Nia selalu menyertakan unsur budaya tertentu dalam filmnya. Ini mengingatkan saya akan keragaman budaya nusantara yang ratusan bahkan ribuan jumlahnya. Dan itulah yang dilakukan Nia dan Ale, menyuguhkan sajian bercitarasa nusantara yang kaya ke piring penonton dari belahan nusantara lainnya (baca: Jawa). Jika Denias memiliki latar belakang peristiwa dan budaya Papua, maka Tanah Air Beta mengusung gambaran wilayah budaya Nusa Tenggara (baik Timur maupun Barat). Continue reading

Alangkah Lucunya (negeri ini): Dualisme rasa menghadapi sebuah dilema

oleh: Elga Ayudi

Saya barusan nonton film ini karena dapat “durian runtuh” dari sebuah Koran lokal yang suka menyelenggarakan acara nonton bareng. Selama ini saya merasa kurang bersemangat kalau harus mengeluarkan dana ekstra buat menonton film Indonesia di Bioskop. Bukan kenapa-napa sih, saya juga bukan kritikus film kok. Cuma pilihan film-film Indonesia tuh kalau tidak horor, komedi yang (ga terlalu) lucu, palingan film “berat” yang sangat tidak direkomendasikan sebagai pelarian dari rasa penat. Alasan lainnya adalah, toh sebentar lagi juga muncul versi kepingan digitalnya ;) Nah, berhubung gratisan (ehm) hehehe…saya sedikit lebih bersemangat membahas film yang sempat membuat saya mewek ini.

poster promo Alangkah Lucunya (negeri ini)

Film ini bersetingkan kehidupan kota besar Jakarta yang sepertinya memang tidak bosan-bosannya dijadikan seting cerita. Kali ini, yang dipotret adalah kehidupan anak-anak jalanan yang bekerja sebagai pencopet. Tokoh utamanya, seorang sarjana pengangguran bernama Muluk (Reza Rahardian) sudah berkali-kali mencoba melamar pekerjaan tapi selalu gagal. Menurut bapaknya, Makbul (Dedi Mizwar), anaknya itu bukan pengangguran tapi seorang yang berusaha mencari pekerjaan. Nah ini nih definisi yang saya suka :) Nasib kemudian mempertemukan Muluk dengan Komet seorang pencopet yang ketangkap basah melakukan pekerjaannya di tengah pasar. Muluk membuntuti dia dan menyergapnya dari belakang. Rupanya Muluk kesal sebab buat dia Komet “enak” sekali hidupnya, tak perlu bekerja tapi malah mengambil uang hasil kerja orang lain. Continue reading