He said, “Well Done”

Mimpi itu akan datang lebih cepat jika kita berusaha giat

kurasa sebaris kata yang muncul di kepalaku itu sudah mengobarkan semangatku dalam beberapa detik saja. Seperti minyak tersulut api dan whoops! terbakar!

hanya saja, mimpi yang dimaksud bukan keadaan REM (Rapid Eye Movement) yang secara ilmiah digambarkan sebagai keadaan yang menyebabkan kita merasa bermimpi….mimpi itu seperti gelembung harapan yang membubung tinggi dan bisa pecah menjadi kenyataan. Itulah yang aku inginkan: menjadi nyata dalam realita! Continue reading

The Relieving Mr. D

Just say a word and I shall relieved…

Setelah mengalami kejadian dua hari lalu saat bertemu lagi dengan Mr.D, saya benar-benar “mengamini” tulisan saya sebelumnya tentang The Mighty Mr.D :D

Dua hari lalu akhirnya saya berjuang mengatasi cemas dan membuat kerangka konsep pemahaman tentang topik skripsi. Sebelumnya, antara saya dan Mr. D seperti ada jurang pemisah yang sangat lebar. Mr. D seperti ada dalam level akademisi berpengalaman yang punya sistematika logika diluar nalar saya. Jika diibaratkan…beuh…seperti kamus versus komik deh. Continue reading

Perjalanan menuju kelulusan (Part 3): The Moody Mr. D

Akhirnya saya menemui Mr. D sekali lagi. Kali ini saya bawa tameng yaitu seorang teman sesama mahasiswa bimbingan Mr. D. Biar ada bamper-nya begitu..heheheh :P

Begitu sampai kantornya, berlagak bak duo detektif amatiran kami mengintip ruangan Mr. D….aaah komputernya menyala tapi orangnya tak ada! Artinya…Mr.D ada di area itu dan akan segera kembali!Wuuutss saya dan teman saya itu langsung kabur keluar..deg-degan euy!!!WAIT!! ada yang salah nih! bukannya niat kami awalnya memang mau ketemu Mr.D? lalu kenapa lariiii??? dasar “Mr. D Effect“!

Ya sudah, tak lama kami melihat Mr. D masuk kembali ke ruangannya dan kami pun sibuk menyuruh jantung kami diam! Sambil dorong-dorongan kami mengintip ke meja beliau dan beliau…tersenyum menyapa kami! What a miracle! Mood-nya lagi bagus nih kayaknya! Sepatah rasa syukur tercetus di hati saya..amiiinnn ;D

Tanpa dinyana beliau mengungkit soal email saya kemarin (yang saya kirimkan dengan perasaan seperti rujak cingur-amburadul!) Beliau minta maaf belum bisa balas dan berjanji membalasnya…eh eh ehhhh..keajaiban kedua! jarang banget Mr. D balas email!!! hahahahaha!

Niat awal kami cuma mau menyapa dia sebenarnya, untuk memompa semangat lagi dan iseng menanyakan apa dia mau tambah jadwal bimbingan…dan WOW! sepertinya dia akan menambah 1 hari dalam jadwalnya yang padat itu!Bahkan sewaktu kami permisi pergi dia menyebut nama teman saya dan juga meminta dia agar cepat selesai…tidak terduga oleh teman saya itu bahwa Mr. D akan mengingat wajah dan namanya padahal dia cuma ikut mengintip di sebelah saya hehehe!

Saya sungguh sujud syukur jika keajaiban ini berlangsung selamanya..jarang-jarang mood Mr.D cerah ceria seperti itu, mungkin ada hubungannya dengan selesainya dia dari jabatan di kampus kami…jadi dia lebih punya waktu untuk mahasiswa.

Apapun itulah…kata-kata dia selalu terulang seperti nada sambung di telinga saya..”Ayo mbak..gek ndang cepet..” (Ayo mbak, cepat saja) :D

Bahagia karena menemui dia dalam mood yang bagus, membuat saya tertular semangat cerah ceria!! hahahaha!

Perjalanan menuju kelulusan (Part 2): The Mighty Mr. D

Pagi ini saya memantabkan hati untuk ke kampus menemui dosen pembimbing saya, Mr. D. Jadwal bimbingannya mulai jam 9 pagi sampai 11 siang, maka seharusnya saya sudah menapakkan kaki ke kampus kisaran waktu itu. Malam sebelumnya saya tiba-tiba tak bisa tidur karena mendadak memikirkan revisi yang harus saya kerjakan (sejak berminggu-minggu lalu) maka saya pun lembur sampai pagi. Ternyata, setelah dilemburpun juga belum selesai…well…Roma juga tidak berdiri dalam satu hari kan? ;)

Nah, tapi apapun resikonya, saya harus menemui Mr.D. Minimal agar mendapatkan suntikan semangat dari beliau. Melihat wajahnya saja pun saya rela asal niat yang berkobar itu kembali seperti semula. Tapi apa nyana, saya bangun kesiangan dan sampai kampus 20 menit menjelang jam 11. Aduhhh! alamat nih! Namun melihat wajah ceria anak-anak bimbingan Mr D yang mengatakan hari ini mood beliau bagus saya pun memberanikan diri menemui beliau di kantornya.

Kantor dosen tersebut punya dua pintu sisi timur dan barat. Saya masuk dari sisi timur dan celingak-celinguk mencari wajah Mr.D di kantor, hanya tidak ketemu. Saya dengar suaranya dan entah kenapa..kaki saya mendadak lemas dan jantung saya berdebar..duh “Mr. D effect” nih! Buru-buru saya keluar ruangan dan di lorong tersebut saya melihat sosok beliau berjalan keluar dengan dua teman dosen yang lain melalui pintu barat. Oh tidak! saya cepat-cepat ngumpet dekat teman saya di bangku lorong tersebut.

Sesungguhnya perasaan yang membuat saya lemas itu bukan salah Mr. D. Saya sendiri yang menyerah pada perasaan itu. Sumpah mati saya takut sebab saya belum menyerahkan revisi. Beliau memang kaku dan sedikit kelewat perfekionis, tapi bukankah saya sendiri yang memilih beliau menjadi pembimbing saya? dan kenyataannya saya sendiri pula yang memunculkan rasa cemas saat bertemu beliau.

Rencana hari ini memang gagal total, tapi besok saya akan mencoba menyiapkan amunisi “kemantaban hati” dan “ketebalan muka”. BESOK SAYA COBA LAGI!

Perjalanan menuju kelulusan

Saat saya menulis ini, status saya adalah: mahasiswa semester 12, berkutat dengan revisi proposal skripsi dan memiliki daya tahan rendah terhadap stres. Yah..bisa dibilang saat ini saya adalah makhluk paling sensitif ketika mendengar kata “skripsi”, “bimbingan”, “revisi”, “seminar”, dan “pendadaran” disebut-sebut.

Saya memahami keinginan orang-orang terdekat saya yang mengharapkan saya segera diwisuda, lulus, dan membangun kehidupan sendiri. Hingga saat itu tiba, saya hanyalah anak ayam yang masih bergantung dicarikan cacing oleh induknya. Sampai saat saya mengenakan toga, saya hanyalah mahasiswa yang dimaklumi ketika berbicara tentang hidup yang bagi banyak orang terlampau idealis untuk diwujudkan.

Ada gerbang terbuka di ujung sana, menanti saya melewatinya.

Gerbang yang nantinya akan mematahkan ketegaran saya menghadapi dunia nyata. “Ini masih tak ada apa-apanya”, kata orang yang sudah bertahun melewati gerbang itu. “Kamu hanya hidup dalam dunia imajinasi sehingga lupa menghadapi yang ada di sekitarmu”, kata mereka yang lebih dulu memupus dunia imaji mereka sendiri.

Apakah kerja bermalam-malam tanpa tidur dan terjaga seharian memikirkan ini akan terbayar nanti? Saat-saat badan saya bergerak otomatis dengan pikiran nyalang terpaku pada satu hal…apakah akan terbayar dengan lunas dan pantas? “Kerja kerasmu hanya akan berakhir di sudut debu rak buku”, kata yang lain. Benarkah?

Bagaimana jika saya hanya ingin melakukan sesuatu dengan benar sesekali? Ini adalah karya ilmiah pertama yang mau susah-susah saya hadapi, ini adalah susunan-susunan kalimat ilmiah pertama yang akan saya rangkai, dan ini penelitian pertama yang saya jalani. Tidakkah saya hanya ingin menikmatinya dengan benar?

Setelah keluar gerbang itu mungkin pendapat saya berubah, atau mungkin harapan-harapan saya akan sirna…tapi ketika menoleh ke belakang nanti, kepada waktu-waktu dimana semuanya tadinya terasa sangat berat…Saya ingin merasa BANGGA. Bangga yang sangat besar terhadap diri saya sendiri yang mau menjalani semua ini hingga titik akhir.

Seseorang bisa berubah, pendapat saya takkan bertahan selamanya. Namun saya bisa merasakan apa yang sungguh-sungguh berarti dan saya perjuangkan hari ini. Jika nanti saya membaca tulisan ini lagi, setidaknya…saya pernah mengalaminya dan menenangkan hati sendiri untuk melangkah lagi.