Soe Hok-Gie…sekali lagi. Buku Pesta dan Cinta di Alam Bangsanya.
Saya mendapat buku ini dengan cuma-cuma dari seorang teman yang bekerja di divisi desain sebuah penerbitan ternama. Saya tidak tahu siapa itu Soe Hok-Gie.
Bahkan sewaktu sinema Indonesia besutan Mira Lesmana berjudul “Gie” diputar di teater hingga layar kaca, saya pun belum menontonnya. Nama itu asing di telinga saya. Tadinya saya sempat pula mengira “Gie” itu semacam nama bule yang filmnya dibintangi Angelina Jolie!
Lalu takdir dan sebuah kebetulan yang saya lupa apa mempertemukan dan mengenalkan saya pada sosok “Gie”. Bahwa dia adalah seorang pemuda Cina, keras kepala dan suka menulis, serta mahasiswa mapala UI yang mati muda.
Saya tahu ia memiliki ketertarikan di bidang politik dan memiliki idealisme tinggi khas seorang mahasiswa muda. Tapi yang membuat saya jatuh cinta pada sosoknya: rasa cintanya pada Mandalawangi dan puncak ketinggian. Secarik puisi Mandalawangi-Pangrango yang disertakan di bagian sampul buku berwarna merah dengan sketsa wajahnya inilah yang membuat saya jatuh cinta.
Saat seorang yang dianggap cemerlang mati muda, kisah penyebab ia matilah yang menjadi daya tarik utama. Demikian pula saya. Sangat penasaran mengapa ia bisa memiliki usia sedemikian singkatnya? Setahu saya ia meregang nyawa di puncak Mahameru. Desas-desusnya, karena keracunan gas kawah Semeru. Tapi persisnya juga tak ada yang tahu sebab yang brsangkutan juga tak dapat memberitahu. Hanya saja, si Cina kerempeng yang memelihara naga di perutnya tapi berotak cerdas ini boleh juga. Sebelum ia meninggal, ia berpesan untuk menyampaikan kenang-kenangan pada “teman-teman wanita”nya. Entah yang mana yang diaku sebagai pacarnya. Ia sepertinya punya pesona intelektual muda untuk membuat seorang wanita jatuh cinta.
Buku ini adalah kumpulan cinta dan ingatan yang tersisa dari teman-teman dan sahabatnya setelah berpuluh tahun terlewat. Mungkin termasuk proyek kejar tayang selagi penutur cerita masih sempat ditanya-tanya. Kehidupan Gie yang seorang mahasiswa biasa, tukang mimpi dengan idealisme sebuah negara dan cita-cita terasa luar biasa sebab penutur aslinya sudah tak di dunia. Maka yang bisa saya pikirkan hanyalah : Betapa beruntung dia.
Ide dan gagasan seorang yang masih hidup hanya menuai celaan, namun tak demikian dengan seorang yang sudah mati. Idenya dianggap sebagai warisan yang harus disebarluaskan. Tanpa bermaksud mencela sama sekali, ide-idenya memang luar biasa. Karena itulah saya bilang ia beruntung mati muda. Sebab ia tak perlu mengenal kompromi dan mati dengan keyakinan yang utuh seorang idealis sejati. Pemikiran yang murni tanpa taburan kekecewaan saat terpaksa bernegosiasi dengan realita. Dan kini, mimpi-mimpi itu masih berbisik di rerumputan padang Mandalawangi tempat abunya tersebar disana. Mimpi yang terkubur di setiap kelopak edelweiss yang abadi, siap memikat pemimpi berikutnya yang berani berteriak dengan lantang akan harapan masa depan.
“Hidup adalah soal keberanian, menghadapi jang tanda tanja
Tanpa kita bisa mengerti, tanpa kita bisa menawar.
Terimalah, dan hadapilah!”
(Sajak Mandalawangi-Pangrango, 1966 oleh: Soe Hok-Gie)