Air (part 1)


Beberapa waktu yang lalu saya memendam geram pada teman satu pondokan saya. Apa pasal? Ia mengosongkan isi bak air kamar mandi bersama kami untuk dikuras. Yang sungguh menjengkelkan adalah isi bak air tersebut sebenarnya masih penuh.

Memang, ada endapan kotoran berupa lumut di dasar bak. Namun kami tak jua bisa mengurasnya sebab keran airnya rusak. Nah, ketika keran tersebut sudah diperbaiki, saya bermaksud menggunakan air yang masih penuh itu. Toh yang kotor hanya dasarnya, bagian air secara keseluruhan tetap bening dan tidak butek karena sabun. Jika merasa sedikit jijik, bisa saja kami mengambil air langsung dengan menyalakan keran dan menampungnya untuk sikat gigi atau cuci muka. Air yang masih banyak itu masih bisa dipakai untuk mencuci atau menyiram tanaman.

Teman saya tersebut punya habit “super extra clean person” yang menurut pemahaman saya berarti orang yang tidak rela ada setitik debu di lantainya atau menanggung kondisi ‘sedikit’ kotor.

Bisa dibilang sifat itu sangat bertolak belakang dengan seseorang seperti saya. Yah, tapi persoalan benturan kebiasaan tidak ingin saya bahas. Yang jelas, kalau ditarik garis besarnya…teman saya itu bisa dibilang egois. Sebab, ia tak mempertimbangkan perbuatannya itu membawa konsekuensi pada lingkungan sekitarnya dan saya yakin yang memiliki sifat demikian pastilah tak hanya segelintir orang. Apa jadinya jika satu pondokan yang dihuni oleh belasan orang saja dan memiliki 6 kamar mandi melakukan pemborosan air setiap harinya? dan di kota ini, tak hanya ada satu pondokan, tak hanya ada satu rumah dan satu toilet umum.

Hanya saja…kita semua tahu bahwa jumlah air bersih sungguh tak banyak. Tak cukup untuk semua makhluk hidup yang bernafas di atas bumi ini. Seandainya saja yang memiliki kepribadian membuang-buang air tersebut tak hanya segelintir orang bagaimana? Saya pernah mengikuti kegiatan di sebuah desa Kabupaten Wonosari, Gunung Kidul sana. Untuk mendapatkan air yang cukup, kami harus membayar seratus ribu rupiah untuk memenuhi bak penampungan air yang kami miliki. Air itupun tidak bersih, namun memang tak tersedia air bersih yang bisa dibuang-buang untuk mandi atau cuci baju. Air bersih hanya boleh untuk memasak dan minum.

Maka, jika melihat kebiasaan salah satu teman saya di atas, entah mengapa saya merasa jengkel. Bagi kita yang hidup di jaman serba mudah ini, ada banyak produk yang ditawarkan untuk membuat kita ‘bebas kuman’, ‘bebas bakteri’ dan ‘bebas kotor’. Tapi kesemua unsur itu adalah bagian kehidupan yang takkan mampu kita musnahkan. Bakteri, kuman dan kotor adalah hal kecil yang menjadi terlalu dibesar-besarkan padahal tubuh kita memiliki kemampuan alami untuk menyesuaikan diri dengan mereka. Tanpa bakteri, sampah-sampah tak bisa membusuk dan beregenerasi menjadi unsur alam yang lain. Bukankah bertelanjang kaki keliling rumah tak serta-merta membuat kita jatuh sakit?

Pada akhirnya, saya tak berhak menyia-nyiakan apapun yang diberikan oleh alam ini sebab saya hanya diberi. Saya tak mampu menciptakan air sendiri, yang saya bisa lakukan hanya menerimanya kemudian memanfaatkan dan mengembalikan kelebihannya. Penggunaan air melebihi kapasitas yang mampu diberikan oleh alam hanya akan membuat kita sendiri kesulitan. Jika saat ini kita berkelimpahan, kita hanya beruntung. Beruntung memiliki akses terhadap setiap kelimpahan itu. Tapi kelimpahan itu tak abadi, ada generasi berikutnya yang juga memerlukannya….apa jadinya kalau semua itu kita habiskan hanya untuk hidup kita sendiri dengan sia-sia?

Jadi, bagaimana menurutmu?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s