Kalau saja kita bisa omong sama mereka


Sudah cukup lama saya memikirkan hal ini. Bermula ketika saya mendapat tugas kuliah untuk membuat sebuah film semi dokumenter. Teman-teman dan saya sepakat untuk memfilmkan kehidupan seorang anak tuna rungu di sebuah Sekolah Luar Biasa (SLB). Bukan hasil filmnya yang kemudian saya perhatikan, namun proses ketika saya berusaha menjalin komunikasi dengan anak-anak itu.

Selama proses syuting saya berhasil belajar sedikit mengenai bahasa isyarat. Nisa, anak yang menjadi tokoh sentral film saya itu sudah berusia 13 tahun. dan ia sudah belajar 5 tahun lebih di SLB itu. Terkadang ia kesulitan menjelaskan maksudnya, dan saya kebingungan mengartikan isyaratnya tanpa bantuan guru di sana.

Sungguh, saya merasa senang jika bisa menyampaikan maksud saya pada Nisa, begitu pula saat berhasil menangkap maksudnya. Dari sini saya berpikir, “mungkin seharusnya yang belajar bahasa isyarat tak cuma mereka yang memang tak bisa bicara, mungkin kita juga. Sebab mereka belajar bahasa isyarat agar mereka lebih mudah mengungkapkan maksud meski bukan dengan kata”.

Jika saya dan anda belajar bahasa isyarat yang sama dengan mereka, mungkin kita akan jauh lebih memahami pemikiran mereka ketimbang mengasihani dengan pandangan iba

(Februari 26, 2008 from my oldblog: berbagiisikepala)

Jadi, bagaimana menurutmu?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s