Perjalanan menuju kelulusan


Saat saya menulis ini, status saya adalah: mahasiswa semester 12, berkutat dengan revisi proposal skripsi dan memiliki daya tahan rendah terhadap stres. Yah..bisa dibilang saat ini saya adalah makhluk paling sensitif ketika mendengar kata “skripsi”, “bimbingan”, “revisi”, “seminar”, dan “pendadaran” disebut-sebut.

Saya memahami keinginan orang-orang terdekat saya yang mengharapkan saya segera diwisuda, lulus, dan membangun kehidupan sendiri. Hingga saat itu tiba, saya hanyalah anak ayam yang masih bergantung dicarikan cacing oleh induknya. Sampai saat saya mengenakan toga, saya hanyalah mahasiswa yang dimaklumi ketika berbicara tentang hidup yang bagi banyak orang terlampau idealis untuk diwujudkan.

Ada gerbang terbuka di ujung sana, menanti saya melewatinya.

Gerbang yang nantinya akan mematahkan ketegaran saya menghadapi dunia nyata. “Ini masih tak ada apa-apanya”, kata orang yang sudah bertahun melewati gerbang itu. “Kamu hanya hidup dalam dunia imajinasi sehingga lupa menghadapi yang ada di sekitarmu”, kata mereka yang lebih dulu memupus dunia imaji mereka sendiri.

Apakah kerja bermalam-malam tanpa tidur dan terjaga seharian memikirkan ini akan terbayar nanti? Saat-saat badan saya bergerak otomatis dengan pikiran nyalang terpaku pada satu hal…apakah akan terbayar dengan lunas dan pantas? “Kerja kerasmu hanya akan berakhir di sudut debu rak buku”, kata yang lain. Benarkah?

Bagaimana jika saya hanya ingin melakukan sesuatu dengan benar sesekali? Ini adalah karya ilmiah pertama yang mau susah-susah saya hadapi, ini adalah susunan-susunan kalimat ilmiah pertama yang akan saya rangkai, dan ini penelitian pertama yang saya jalani. Tidakkah saya hanya ingin menikmatinya dengan benar?

Setelah keluar gerbang itu mungkin pendapat saya berubah, atau mungkin harapan-harapan saya akan sirna…tapi ketika menoleh ke belakang nanti, kepada waktu-waktu dimana semuanya tadinya terasa sangat berat…Saya ingin merasa BANGGA. Bangga yang sangat besar terhadap diri saya sendiri yang mau menjalani semua ini hingga titik akhir.

Seseorang bisa berubah, pendapat saya takkan bertahan selamanya. Namun saya bisa merasakan apa yang sungguh-sungguh berarti dan saya perjuangkan hari ini. Jika nanti saya membaca tulisan ini lagi, setidaknya…saya pernah mengalaminya dan menenangkan hati sendiri untuk melangkah lagi.

Jadi, bagaimana menurutmu?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s