Alangkah Lucunya (negeri ini): Dualisme rasa menghadapi sebuah dilema


oleh: Elga Ayudi

Saya barusan nonton film ini karena dapat “durian runtuh” dari sebuah Koran lokal yang suka menyelenggarakan acara nonton bareng. Selama ini saya merasa kurang bersemangat kalau harus mengeluarkan dana ekstra buat menonton film Indonesia di Bioskop. Bukan kenapa-napa sih, saya juga bukan kritikus film kok. Cuma pilihan film-film Indonesia tuh kalau tidak horor, komedi yang (ga terlalu) lucu, palingan film “berat” yang sangat tidak direkomendasikan sebagai pelarian dari rasa penat. Alasan lainnya adalah, toh sebentar lagi juga muncul versi kepingan digitalnya ;) Nah, berhubung gratisan (ehm) hehehe…saya sedikit lebih bersemangat membahas film yang sempat membuat saya mewek ini.

poster promo Alangkah Lucunya (negeri ini)

Film ini bersetingkan kehidupan kota besar Jakarta yang sepertinya memang tidak bosan-bosannya dijadikan seting cerita. Kali ini, yang dipotret adalah kehidupan anak-anak jalanan yang bekerja sebagai pencopet. Tokoh utamanya, seorang sarjana pengangguran bernama Muluk (Reza Rahardian) sudah berkali-kali mencoba melamar pekerjaan tapi selalu gagal. Menurut bapaknya, Makbul (Dedi Mizwar), anaknya itu bukan pengangguran tapi seorang yang berusaha mencari pekerjaan. Nah ini nih definisi yang saya suka :) Nasib kemudian mempertemukan Muluk dengan Komet seorang pencopet yang ketangkap basah melakukan pekerjaannya di tengah pasar. Muluk membuntuti dia dan menyergapnya dari belakang. Rupanya Muluk kesal sebab buat dia Komet “enak” sekali hidupnya, tak perlu bekerja tapi malah mengambil uang hasil kerja orang lain. Toh ujung-ujungnya Muluk akhirnya melepaskan juga Komet.

Setelah berkeliling tanpa hasil menawarkan lamaran, Muluk berjumpa lagi dengan si bocah copet ini di warung makan. Dengan jumawanya Komet menawarkan untuk mentraktir Muluk. Entah apa pembicaraan mereka selanjutnya, Muluk diajak pergi ke “sarang” copet yang kumuh di antara bekas bangunan terbakar. Disitu Muluk bertemu dengan Jarot (Tio Pakusadewo) sang Bos dari geng copet tersebut. Muluk menyatakan maksudnya untuk “bekerja sama” dengan mereka, dan diluar dugaan..Jarot menyetujui!

Ternyata Muluk menawarkan untuk mengelola keuangan mereka dari hasil copet sekaligus mengembangkan usahanya sehingga nantinya mereka tak perlu melakukan lagi usaha tak halal itu. Niat itu kontan banyak mendapat penolakan dari anak-anak yang sudah terbiasa mencopet itu. (mungkin seperti ikan di akuarium ya..mereka tidak terima kalau disuruh bertahan hidup dengan cara lain). Untuk menjalankan misinya itu Muluk akan mendapat 10% dari hasil copetan yang ia kelola. Jangan dikira sedikit ya, sebab di akhir cerita…jumlah tabungan mereka yang dikelolakan Muluk mencapai 21juta rupiah!

Masalahnya, Muluk tidak mengatakan pada ayahnya bahwa ia bekerja untuk para pencopet cilik itu. Ia menggunakan istilah manajemen seperti “bagian pengembangan”, “mengelola sumber daya manusia” sebagai deskripsi pekerjaannya. Sang Ayah yang selalu ingin melihat Muluk berhasil sebagai karyawan merasa bangga. Selain dirinya ia juga melibatkan temannya Samsul yang sarjana pendidikan sekaligus pengangguran untuk mengajari anak-anak itu baca tulis serta Pipit tetangganya untuk mengajarkan ilmu agama.

Yah, niat mulia tak selalu berhasil baik. Di film ini memang terlihat bahwa sedikit-demi-sedikit anak-anak itu mulai bisa menerima apa itu Pancasila dan juga cara beribadah. Namun kenyataannya, hal tersebut baru dapat menembus lapisan terluar kehidupan keras jalanan yang sudah membentuk anak-anak itu. Mereka tetap menolak mengasong bahkan mencuri sandal di Mushola. Memang tidak mudah mencampuri kehidupan orang lain apalagi niatan untuk mengubahnya.

Banyak sekali kritik yang ingin disampaikan film ini sehingga terasa overweight atau kelebihan beban.Ada tema “pentingnya pendidikan”, sampai kritik kelakuan korup para pejabat. Berkali-kali setiap tokoh menyuarakan sindiran bahwa lebih enak jadi Koruptor…sama-sama mengambil uang bukan miliknya namun tidak mengalami kejaran aparat atau hinaan dan kerasnya hidup tanpa uang di jalanan. Koruptor itu berpendidikan karena itu mereka bisa mencuri lebih banyak uang dibanding pencopet…tak ada bedanya. Hanya saja film ini berupaya membuat permakluman juga tentang “keterpaksaan” seseorang yang tak punya cara lain hidup selain mencopet. Namun tak hanya itu, setelah ada kesempatan untuk mengubah keadaan pun, para pencopet tersebut terlanjur berada di zona nyaman mendapat uang tanpa kerja susah. Itulah mengapa mereka juga menolak berjualan asongan. Sama-sama beresiko dikejar aparat namun toh kerjaan copet duitnya lebih banyak.

Melihat suguhan realis film besutan Dedy Mizwar ini boleh jadi kita merasa pesimis. Ternyata kehidupan jalanan itu sebegitu kerasnya sehingga rencana melakukan perbaikan bisa jadi hanya impian di siang hari yang takkan terwujud. Belum lagi pertentangan antara nilai moral agama yang diperdebatkan disini: apakah uang dari hasil mencopet itu juga haram jika digunakan untuk alasan kebaikan? Film ini tidak memberi jawaban, ia hanya mengembalikannya pada penonton untuk direnung ulang dan tidak menjatuhkan putusan apapun. Solusi yang ditawarkan hanyalah: “Negeri ini negeri bebas, yang mau nyopet ya nyopet, yang mau ngasong..ngasong” Benar salahnya suatu perbuatan bebas kita lakukan dan pilih sendiri dengan konsekuensinya masing-masing.

Jika ada yang saya suka dari film ini ada dua hal: Perdebatan tentang apakah pendidikan itu penting atau tidak dan rasa kepemilikan yang total pada bangsa ini alias nasionalisme. Dalam kelakarnya, Muluk mengatakan bahwa pendidikan itu penting untuk mengetahui bahwa ternyata pendidikan itu tidak penting hahahaha!! Tapi apa yang dikatakan Muluk dan juga mungkin sebagian besar tokoh di film ini, makna pendidikan tak lebih dari sekedar cara memperoleh pengetahuan yang melibatkan sekian jenjang pendidikan formal. Mereka lupa menyebutkan bahwa pendidikan adalah cara mengajarkan manusia menghadapi dunia..tak sekedar pengetahuan umum namun juga pendidikan berdasar pengalaman dan moral.

Film ini juga menunjukkan cerminan sikap sebagian besar dari kita yang memandang tujuan akhir pendidikan adalah mencari pekerjaan. Definisi pekerjaan itu juga masih terbatas kerja pada sebuah perusahaan atau seseorang. Padahal pekerjaan sangat beragam dan juga yang terpenting memberikan dukungan bagi kehidupan. Rasa kepemilikan saya pada bangsa ini terusik saat lagu “Tanah Air” mengalun dengan lantang dan berkobar membuat diri saya gemetar. Sungguh..betapapun bobroknya, betapapun bermasalahnya..ini adalah negeri dimana saya lahir, besar dan..(semoga)..sampai mati nanti.

Setiap orang berhak atas penghidupan yang layak dan mendapatkan rasa kemanusiaan dari orang lain. Maka, apa yang bisa kita lakukan mari dilakukan..jangan menunggu nanti…apapun untuk negeri ini sepenuh hati.

Tokoh kesukaan saya dalam film ini adalah Tio Pakusadewo! Untuk ukuran aktor senior, ia memang berbakat di mata saya. Karakternya begitu kuat bahkan tanpa banyak dialogpun ia bisa menunjukkan kedalaman perannya. Sebagai Bos copet, ia juga memiliki anak istri yang harus ia hidupi, juga preman yang selalu menarik biaya keamanan. Tokoh ini sangat keras dan tak segan memukul makanya ia sangat dihormati anak buahnya. Tapi ia rela membuka diri terhadap kemungkinan yang ditawarkan orang asing padanya untuk mengubah kehidupan anak-anak copet itu. Bahkan ia rela mengurangi “rejeki” dari anak-anak itu jika itu bisa membuat mereka hidup lebih baik bahkan lepas dari pekerjaan copet. Sungguh tidak mudah jika seandainya karakter tersebut ada di dunia nyata. Seperti perampok berhati mulia..pekerjaannya tak termaafkan tapi entah mengapa kita harus memberikan permakluman. ;) Bravo Om Tio!

3 thoughts on “Alangkah Lucunya (negeri ini): Dualisme rasa menghadapi sebuah dilema

  1. q seneng bgt nonton film ini,krn memberikn makna yg mendalam.qt jg bz tau klo trnyata kita skolh bkn hanya untuk mngecap pendidikan formal ajjah,tp dgn pendidikn kita jg bz mnghadapi kerazny khidupn ini.

Jadi, bagaimana menurutmu?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s