Ariel,Luna,Cut Tari: Mangsa empuk rating televisi


Disclaimer: tulisan berikut adalah opini subyektif dan bersifat analisis pribadi. Tidak ada maksud menguntungkan atau menyudutkan pihak tertentu

Pada awalnya, saya sungguh tidak bermaksud membuat tulisan ini. Tidak ada perlunya menambah lumpur pada kolam yang sudah keruh dan tidak ada untungnya bagi saya pribadi. Tapi melihat situasi yang terjadi, yang semakin masif dan kusut, gerah juga saya untuk menyuarakan pendapat.

Jika melihat perkembangan kasusnya, tadinya pasti orang mengira ada pihak-pihak yang ingin menjatuhkan Ariel di saat Peterpan hampir melaunching nama baru. Atau mungkin juga dendam pada Luna Maya yang kariernya tetap mulus setelah kasus dengan wartawan infotainment dan sebagainya. Tapi setelah video berikut dengan Cut Tari muncul, motif penyebaran video seperti itu mulai meragukan.

Sudah lazim dalam industri media terutama hiburan, seks merupakan komoditas utama yang pasti mendongkrak rating dan konsumsi media. Sudah tentu, meningkatkan penjualan iklan dan sebagainya. Ditambah dengan akses internet yang tak memiliki pagar hukum dan tak dapat dibatasi norma, jadilah kasus seperti ini layaknya daging domba buat macan-macan keingintahuan yang kelaparan.

Reaksi masyarakat menanggapi hal semacam ini selalu menarik untuk diamati. Ada yang mengutuk pornografi, ada yang diam-diam mencari, ada yang menyebarkan video itu lagi dan membahas terang-terangan. Bohong  jika ada yang membicarakan tanpa pernah melihat atau minimal sekilas melihat video yang dibicarakan, termasuk saya. Tapi saya tak ingin ikut-ikutan mengomentari apakah itu asli atau tidak. Yang jelas, jika video itu benar-benar menyangkut pihak yang sedang disorot….maka jelas bagi saya, itu adalah pelanggaran kolektif. Mulai dari yang menyebarkan, yang mengunduh, yang membicarakan hingga yang mengunggah ulang semua memiliki andil dalam mengkarbit persoalan ini menjadi semakin tak terkendali. Saya juga bersalah dengan hal ini tapi seperti perumpamaan perampokan dan penonton, rasa bersalah makin kecil bahkan tak ada jika dilakukan bersama-sama.

Ya, kita takkan pernah merasa bersalah saat mengetahui bahwa yang melakukan kesalahan tak hanya kita sendiri. Akan ada pembelaan disana-sini dan ada pembenaran yang diulang berkali-kali. Atas nama rasa ingin tahu dan hak publik untuk tahu. Padahal, apa urusannya kita dengan persoalan privasi orang lain? meskipun orang itu sekaliber artis atau public figure sekalipun, mereka juga sama-sama makan nasi dan buang hajat seperti kita. Apa yang kita lakukan saat ini adalah mengintip kehidupan pribadi seseorang dan dengan kata lain: pelanggaran atas hak pribadi.

Seorang teman pernah mengatakan bahwa kasus ini seperti memuaskan fantasi banyak orang. Siapa sih yang tak suka Cut Tari atau Luna Maya? Adanya tayangan video tersebut memuaskan keingintahuan mereka akan bayangan/citra artis-artis itu saat tanpa busana. Secara pribadi, saya tidak setuju dan marah dalam hal ini. Jika tujuan sang penyebar video adalah jatuhnya nama Ariel, yah….sayangnya, atau ironisnya, selalu perempuanlah yang menanggung beban terbesar dari kasus ini. Akan ada banyak cap yang ditimpakan pada mereka walaupun sasarannya yang pihak pria. Lalu bagaimana dengan suami dan anak Cut Tari? keluarga dan teman Luna Maya? atau keluarga Ariel? tidak adakah yang sempat memikirkan mereka?

Jika ada yang bilang moral mereka (ariel,luna,dll) tak ada, saya rasa munafik juga mengatakannya. Sebab, kebetulan video merekalah yang tersebar dan bukannya milik orang lain yang sama-sama melakukannya. Kejahatan kolektif semacam ini harus mulai dihentikan dan rasa bersalah harus mulai ditumbuhkan. Saya mengingat betul curahan hati Erin Andrews, reporter ESPN di sebuah sesi Oprah Winfrey show. Seseorang menaruh kamera dan merekam situasi saat Erin tak memakai busana lalu menyebarnya melalui internet. Ia bungkam dan baru kali itu mengatakan dengan tegas menjawab pertanyaan Oprah: “it’s violation” hal itu adalah pelanggaran dan tindakan kriminal. Akibatnya, meski Erin tak dipecat dari ESPN (dalam hal ini jelas dia tak bersalah), tetap saja ia trauma dan merasa hidupnya setransparan kaca di publik. Dan yang paling menyedihkan adalah, video itu tak bisa dihapus karena selalu ada orang yang mengunggahnya lagi dan lagi demi memuaskan nafsu ingin tahu pengguna internet lainnya.

Kejahatan semacam ini takkan berhenti jika peminatnya terlalu tinggi. Sama seperti child sex-abuse dan trafficking yang memuaskan ego maniak-maniak seluruh dunia namun menghancurkan hidup banyak keluarga. Sudah saatnya kita berhenti untuk mengintip “tembok” orang lain, apalagi bersama-sama. Saya rasa himbauan ini tak ada gunanya, tapi setidaknya saya telah mencoba.

Sudah saatnya juga kita berhenti memberi makanan pada rating televisi atau media. Sebab hanya dengan membicarakannya, mereka akan semakin melanggar etika dan meraup keuntungannya.

Jika anda masih belum merasa cukup, maukah anda membayangkan jika hal ini terjadi pada anda atau keluarga anda?

2 thoughts on “Ariel,Luna,Cut Tari: Mangsa empuk rating televisi

Jadi, bagaimana menurutmu?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s