Tanah Air Beta: Terpikat pada pesona akting Yehuda


Ini adalah film Indonesia kedua yang saya tonton tahun ini setelah Alangkah Lucunya Negeri Ini.

Saya benar-benar minim pengetahuan tentang perfilman Indonesia sejak terakhir saya nonton Petualangan Sherina dan Ada Apa Dengan Cinta. Rasanya sudah lama sekali sejak saya menonton Eiffel I’m in Love di bioskop yang merupakan film Indonesia terakhir sebelum jeda panjang bertahun-tahun kemudian.

Saya rasa ini adalah film ketiga (kalau tidak salah) Ari Sihasale. Sebelumnya Ale dan Nia (Zulkarnaen) juga membuat film tentang anak bernama Denias lalu apa saya lupa. Tapi jika ada yang saya ingat tentang film-film Ale dan Nia, adalah konsistensi mereka menjadikan seorang anak tokoh utama ceritanya. Memang takkan seperti Petualangan Sherina yang sangat kental rasa canda dan khas dunia khayal anak-anak, tapi Ale dan Nia selalu menyertakan unsur budaya tertentu dalam filmnya. Ini mengingatkan saya akan keragaman budaya nusantara yang ratusan bahkan ribuan jumlahnya. Dan itulah yang dilakukan Nia dan Ale, menyuguhkan sajian bercitarasa nusantara yang kaya ke piring penonton dari belahan nusantara lainnya (baca: Jawa). Jika Denias memiliki latar belakang peristiwa dan budaya Papua, maka Tanah Air Beta mengusung gambaran wilayah budaya Nusa Tenggara (baik Timur maupun Barat).

Adegan pembukaan film dibuka dengan arak-arakan pengungsian warga Timor-Timur pasca Referendum yang memilih bergabung dengan Indonesia. Para pengungsi ini tak lagi memiliki tempat tinggal di Timor Leste jika memilih bergabung dengan NKRI. Gambaran perjalanan panjang dan konvoi ratusan orang, tua-muda,anak-anak mengingatkan saya pada gambaran pengungsian di Afrika atau di film Tears of the Sun (diperankan Bruce Willis dan Monica Belluci). Hanya saja, yang sedikit mengganggu saya, ada terlalu banyak bendera merah-putih berkibar disana. Well…saya paham maknanya, tapi tetap saja…berlebihan. Setelah adegan pengungsian, seting berganti dengan gambaran di perbatasan dimana para pengungsi mendaftarkan diri pada relawan-relawan sekaligus melaporkan sanak-saudara mereka yang belum bergabung bersama mereka.

Sekedar informasi di luar topik, waktu saya nonton film ini, nyaris saya kira ada salah satu aktor atau aktris ikut nonton bersama saya di studio itu. Kenapa? Sebab nyaris 10-15 menit pertama sering terdengar teriakan, siulan atau tepuk tangan dari penonton. Yah, saya baru sadar beberapa menit kemudian, rupanya banyak orang dari daerah (tempat syuting tsb) ikut nonton. Baiklah, saya maklumi. Biasanya kita sedikit berlebihan menyangkut daerah asal, apalagi kalau diangkat dalam film. Terbayang kan? Ribut sekali…dan…hehehe..kadang agak norak. Tapi itu wajar menyangkut siapapun.

Yah, kembali lagi ke film ini. Diceritakan seorang perempuan bernama Tatiana (Alexandra Gottardo) membawa serta anaknya Mary –atau Merry?– (Griffit Patricia) menyeberang perbatasan. Ia hanya membawa sedikit barang, sehelai tikar pandan dan baju melekat di tubuh. Ia berjalan kaki bergandengan tangan di terik 40 derajat Celcius bersama anaknya menuju Montain, perbatasan Nusa Tenggara Timur (Kupang). Saat di perbatasan ia berpesan pada relawan (Lukman Sardi) bahwa ia masih meninggalkan anaknya Maru di Timor Leste dan berharap dikabari jika ada berita tentang puteranya itu.

Adegan di perbatasan dimeriahkan oleh Abu Bakar (Asrul Dahlan yang juga menjadi Samsul di ALNI). Pasalnya, Abu ingin meninggalkan pesan pada istrinya di Timor Leste namun ia tak bisa menulis (dan istrinya juga tak bisa membaca!) maka seorang relawan merekam pesannya dengan rekorder yang justru dimanfaatkan Abu dengan menyanyikan lagu cinta (yang kata penonton di sebelah saya…Kupang bangeeet!)

Di tempat tinggal yang baru, Tatiana mengajar anak-anak usia SD dan SMP. Apa yang dia lakukan tak dapat dikatakan sebagai sekolah, tapi memang begitulah keadaannya. Suasana baru itu mewakili apa yang disebut kemiskinan, keterbatasan sarana dan kurangnya pengetahuan.

Di kelas, Mary sering sekali dikerjai anak lelaki bandel bernama Carlo (Yehuda Rumbindi). Carlo ini sebenarnya gambaran bocah tragis. Ayahnya mati waktu di pertempuran, sementara ibunya meninggal karena sakit. Di tempat itu ia tinggal bersama Abu Bakar. Sifat isengnya membuat Mary jengkel setengah mati sampai mereka bertengkar dan dihukum menghormat bendera!

Diam-diam, Mary sangat merindukan Maru sang kakak. Ia sering berbicara pada sosok Maru yang ia buat sendiri dari bantal dipakaikan kaos kakaknya itu. Ibunya sering memergokinya diam-diam menelepon (bohongan) kakaknya di kamar. Suatu kali, Mary memergoki ibunya batuk-batuk agak parah. Merasa cemas, ia bertanya-tanya pada Carlo apa yang menyebabkan Ibu Carlo dulu meninggal. Carlo hanya menyebutkan batuk-batuk dan panas sebagai penyebab tiadanya sang ibu. Karena ketakutan memergoki ibunya semakin parah, Mary berlari mencari dokter Joseph (diperankan Ari Sihasale) untuk memeriksa ibunya. Saat akan menjemput ibunya dari puskesmas, Mary tak sengaja mendengar pembicaraan Tatiana dan Abu Bakar tentang kenyataan mengapa Maru sang kakak belum bersama lagi dengan mereka. Rupanya Tatiana meninggalkan Maru yang saat itu masih lemah akibat sakit tipus dan menitipkannya di Timor Leste. Rupanya Maru sakit hati karena ditinggal dan menolak bertemu ibunya, ia hanya bersedia menemui Mary.

Mendengar itu Mary cepat-cepat berkemas dan membongkar celengan serta foto keluarga satu-satunya yang mereka miliki lalu pergi ke Montain. Ia menebus kaos yang sudah ia pesan di toko Cik Irene (Thessa Kaunang) dan Koh Ipin (Robby Tumewu) untuk dihadiahkan pada Maru. Ia membeli kaos itu dengan harga diskon (uang seadanya yang ia punya), bahkan mendapat air dan cokelat sebagai bekal dari Cik Irene. Namun perjalanan ternyata tak semudah yang dipikir Mary, ia harus naik bis dan berganti-ganti sebelum sampai ke Montain sementara uangnya terbatas. Di rumah, Tatiana yang baru pulang dari puskesmas panik mencari Mary dan menyuruh Abu Bakar mencarinya sampai ketemu. Karena mengkhawatirkan keadaan Tatiana, Abu Bakar menyuruh Carlo yang kebetulan (atau dipaksa? ;P) ikut membantu untuk menyusul ke Montain. Dasar orang tua tak bertanggung jawab…heheheh.

Disinilah dimulai kekocakan dan kekonyolan bocah tengil keling bernama Carlo ini. Saat mencari Mary ia malah menyebut ciri-ciri sifat alih-alih menceritakan bagaimana ciri-ciri fisik gadis itu ;) lalu saat bertemu Mary, ia berceramah panjang lebar sampai tidak tahu Mary pingsan di belakangnya. Akhirnya Carlo memutuskan menemani Mary ke Montain. Saat haus, Carlo mengambilkan air untuknya (dengan cara mencuri air yang sedang dimasak penduduk), saat lapar, Carlo mengambilkan ayam untuk Mary (dengan cara mencuri ayam aduan) haahahha! Tindakan mencuri ini didalih Carlo dengan alasan bahwa ayam itu toh nanti mati diadu, jadi lebih baik dimakan yang kelaparan (sambil minta maaf sama Tuhan!)

Carlo adalah gambaran lengkap seorang teman sekaligus kakak. Dia menjaga dan bersedia melakukan apapun untuk Mary..bahkan, demi memenuhi janji agar mendapatkan makanan dengan halal, dia membantu cuci piring di warung!ya..saya rasa kita harus mengucapkannya: ooowwwh..so sweeettt…;)

Film ini tak seperti bayangan saya yang berat (karena melibatkan daerah konflik). Tak ada unsur politis yang dilibatkan disini, hanya unsur nasionalime mereka yang sudah memilih untuk bergabung dengan NKRI (apapun alasannya). Cerita ini murni tentang kasih sayang dan persahabatan bahkan nyaris tak ada bumbu roman disana. Saat Abu Bakar ingin mengucapkan sesuatu tentang perasaannya pada Tatiana..ternyata ia hanya mengakui bahwa ia malu tak bisa baca dan minta diajari! Heheheh penonton kecewaaaa…Tapi sifat konyol natural dan kepolosan Carlo, berhasil dibawakan dengan baik oleh Yehuda. Ia benar-benar terlihat nyaman dan alami dengan seluruh tindakan dan ekspresi bodohnya yang menguasai 50% kelucuan cerita film ini.

Yah, harus saya akui, Ale dan Nia memang orang-orang yang sangat konsisten. Mereka konsisten mengangkat keragaman budaya, mereka konsisten menokohsentralkan anak-anak, dan mereka konsisten membawa angin perubahan serta gaung pendidikan. Well…saya puas dengan yang ini, mungkin saya akan menonton ulang film-film Ale yang lain sembari menunggu karya Alenia berikutnya!

Jadi, bagaimana menurutmu?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s