Akhirnya aku bertemu juga dengannya: Sapardi Djoko Damono


Andaikata hari itu temanku tak ingat, andaikata ia tak teringat…bahwa hari ini Sapardi datang ke Jogja…

Mungkin aku takkan pernah berjumpa dengan sosok yang menempati urutan atas daftar orang-yang-ingin-sekali kutemui itu. Well…dia ada disitu sejak bertahun yang lalu, bersama dengan nama N.H Dini dan Oprah Winfrey…;)

Pak Sapardi dan saya

Aku adalah orang yang mencintai kata-kata. Sejak berkenalan dengan sastra Indonesia di usia SMP, aku sudah terpikat pada dunia yang tercipta dari kata-kata. Sapardi Djoko Damono…adalah salah satu…penyihir kata-kata. Aku terbuai rima kata dan metafora yang digunakannya. Aku bermain dalam hujan, dalam daun jatuh dan dalam bisik angin… Puisi Sapardi seperti aliran sungai hangat yang tenang, yang membuatku tak takut tenggelam meski tak bisa berenang.

Dan hari ini, aku menatap langsung sosoknya, menggenggam sendiri tangannya dan menatap mata serta mendengar suaranya. Bukan melalui orang lain, tapi seolah seseorang telah memberitahuku sebelumnya…ia adalah wujud dari tokoh rekaan yang selalu kubayangkan. Genggaman tangannya mantap dan menjabatku erat meski aku seorang asing untuknya. Sosoknya kurus dan rapuh namun berjalan dengan tegap. Suaranya persis jernih seperti yang selalu terngiang di telinga saat membayangkan ia membacakan rangkaian kata-katanya sendiri. Kulitnya halus dan dipenuhi kerut cerminan tahun-tahun pengalaman hidupnya. Topi pet kelabunya sangat khas dan berpadu dengan jaket kecoklatan yang sepertinya setia menjadi ciri khas busananya. Pendek kata, seorang Sapardi terlihat prima dan bijaksana dalam busana kebesaran dan pancaran pengalaman hidupnya.

Aku melihat cermin antusiasme diriku sendiri di mata teman-temanku yang turut mengerumuninya… seperti bertemu kakek kesayangan yang lama tak jumpa. Sungguh, rindu ini…akhirnya tersampaikan juga. Debar di dada tak kunjung reda meski berjam sudah lalu. Aku hanya ingin ia tetap sehat agar masih banyak karya yang bisa tetap kunikmati nanti. Satu hal lagi yang membuatku sungguh-sungguh membuncah…ia menerbitkan ulang semua karyanya! Astaga! Setelah bertahun-tahun aku mencari di sudut-sudut lapak buku bekas, di toko-toko buku terkenal sampai mengkopi dari perpustakaan fakultas sastra….akhirnya aku bisa memiliki kopi buku aslinya!!Dengan kalap saya beli “Kolam” dan “Hujan Bulan Juni”. Judul pertama adalah buku terbaru pak Sapardi, sementara judul kedua adalah buku yang sudah saya cari bertahun-tahun karena memuat puisi terkenal “Aku ingin”. Tapi disitu, saya mencintai satu puisi yang menerbitkan rindu pada hujan yaitu “Pada Suatu Pagi Hari”

“…Maka pada suatu pagi hari ia ingin sekali menangis sambil berjalan tunduk sepanjang lorong itu. Ia ingin pagi itu hujan turun rintik-rintik dan lorong sepi agar ia bisa berjalan sendiri saja sambil menangis dan tak ada orang bertanya kenapa.

Ia tidak ingin menjerit-jerit, berteriak-teriak, mengamuk memecahkan cermin, membakar tempat tidur. Ia hanya ingin menangis lirih saja sambil berjalan sendiri dalam hujan rintik-rintik di lorong sepi pada suatu pagi.”
(Pada Suatu Pagi Hari-Sapardi Djoko Damono)

Ia membuatku jatuh cinta dan memenuhi dadaku dengan rindu hanya dengan kata-kata sederhananya. Terangkai begitu saja…indah. Hujan terasa hangat dalam kata-kata sang pujangga.

 

Dengan rindu yang tak dapat disampaikan awan kepada hujan yang menjadikannya tiada…

love,

12 thoughts on “Akhirnya aku bertemu juga dengannya: Sapardi Djoko Damono

  1. Elga, aku bahagia dengan tulisanmu, dengan pengalaman kita, dengan sosoknya, Sapardi Djoko Damono.

    Elga, aku berkesempatan nggandeng tangan beliau, mencarikan kursi untuk ngobrol bersama temen-teman media.

    Kesederhanaanya memancar dalam gelap tak berlampu di ruang tengah. Suaranya tegas menjelas ketika bercerita. Kerendahhatiannya terlihat begitu luar biasa ketika bersedia menerima tamparan flash kamera kami yang menyilaukan di ruang remang itu…

    Sungguh, sebenarnya aku tidak tega membuat matanya kaget dengan sengatan cahaya kamera itu… *nyuwun pangapunten, Pak

    Ia tetap melayani permintaan kami, tanda tangan dalam remang, foto disamping kamar mandi, bahkan sebelumnya ia telah bersiap melepas sepatu kulitnya untuk lesehan di ruang belakang samping kamar mandi setelah kami ‘menyabotasenya’ beranjak dari kursi para tamu.

    Pengalaman itu, sungguh luar biasa :)

    • betul mbak…beliau memang luaarrrr biasa! dengan usianya yang sudah senja dan pengalaman yang kaya ia tetap tak sungkan menyapa. Aku benar benar benar sangat bersyukur sudah bertemu dengannya. Dulu aku juga mengagumi seorang pengarang, sayangnya ia tidak memiliki pribadi yang ramah dan hangat…hehehe

      Jika besok ada yang bisa kukenang…aku akan selalu ingat genggaman tangan dan suara lembut seorang pujangga sastra yang sangat kupuja…hehehhe

  2. Wuaaaaaaaaaaa..nyesel ditraktir temenku malam itu, kalo enggak, aku pasti bersamamu di sana buuuu.. :D selamat ya, ketemu juga akhirnya. Btw, bukunya dijual dmn ya selain launching malam itu?

Jadi, bagaimana menurutmu?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s