Embroideries: “Protes” ala Satrapi


Jika pernah membaca buku atau menonton film kartun “Persepolis” pastilah kenal dengan Marjane Satrapi. Penulis perempuan ini lahir di Iran dan sekarang tinggal di Paris. Seperti penulis perempuan yang berasal dari suatu negara yang “kurang” apresiatif terhadap perempuan, pasti sedikit banyak karyanya memuat “protes diam” mereka. Nama seperti Nawal El Saadawi  adalah salah satu yang konsisten dengan perjuangan gendernya melalui karya-karyanya yang cukup terkenal seperti The Hidden Face of EveGod Dies by the NileThe Circling SongSearchingThe Fall of the Imam dan Woman at Point Zero (Perempuan di Titik Nol). Ingin tahu lebih lanjut tentang dia? bisa klik disini.

Sementara Satrapi, ia menokohsentralkan karakter-karakternya pada seorang perempuan. Entah simbol atau memang kisah nyata, tokoh utamanya adalah dia sendiri :Marjane Satrapi. Dalam Persepolis ia mengungkap hasrat akan kebebasan dalam bentuk MTV, televisi dan tanpa kerudung. Di Iran kala itu, kerudung adalah pakaian wajib para perempuan. Perempuan akan direndahkan jika ia tak menggunakan kerudung atau melakukan hal-hal yang biasanya  dilakukan laki-laki. Saya ingat benar adegan Ibu Marjane kecil saat diperlakukan tidak sopan oleh pria-pria asing karena ia menyetir mobil. Hal tersebut adalah salah satu yang harus ditahan oleh perempuan-perempuan itu.

Sementara dalam novel “Embroideries” ini, Satrapi menunjukkan bahwa para perempuan bukanlah makhluk tanpa pikiran dan kemauan. Pada setiap usai makan siang, para pria akan pergi tidur siang sementara para wanita berbenah dan minum teh bersama yang disebut “Samovar”. Saat itulah para perempuan akan bergosip hal-hal yang takkan mereka bicarakan di depan suami mereka. Hal-hal tabu semacam seks benar-benar jadi topik utama bahkan ada banyak hal tak terduga yang muncul dari pembicaraan perempuan-perempuan itu. Ada yang berkata bahwa ia belum pernah meliha alat kelamin pria karena saat berhubungan badan suaminya selalu mematikan lampu dan lebih sialnya kesemua anaknya adalah perempuan ;) Sementara yang lain dengan bangga mengaku senang karena menjadi simpanan seorang pria. Well…alasannya sangat logis dan membuat saya manggut-manggut (bahkan sedikit mupeng hehehe). Katanya, saat menemui simpanan, pria akan selalu wangi, berpakaian rapi dengan rambut tertata dan mengatakan hal-hal yang menyenangkan. Sementara terhadap istrinya, ia akan tampil berantakan, marah-marah dan melempar baju kotornya untuk dikerjakan istrinya hahaha!

Novel ini juga menceritakan fenomena persaingan antara wanita dengan penampilannya. Beragam cara dihalalkan untuk mendapatkan bentuk hidung bagus atau dada penuh. Kesemuanya itu dilakukan agar menarik perhatian pria atau mempertahankan perhatian itu ;) Ada alasan khusus kenapa Satrapi memilih judul “Embroideries” alias bordir. Awalnya, saya pikir itu semacam kegiatan atau mahar atau apalah yang wajib dilakukan perempuan Iran…tapiiii hahahahah!ternyata itu adalah cara menjahit selaput dara alias mengembalikan keperawanan! Yah…perempuan-perempuan itu pada akhirnya tetap terkungkung pada norma buatan masyarakat yang mengagung-agungkan keperawanan tanpa memperhatikan perasaan atau kepentingan sang perempuan. Maka untuk mengakalinya, perempuan-perempuan itu akhirnya menemukan satu cara untuk “memberontak” ;)

Jika bicara atas nama perempuan dan mungkin ini yang terlihat dari karya Satrapi, pada dasarnya teknik “bordir” dilakukan perempuan karena terpaksa. Mereka menyadari bahwa hal itu penting namun tak berdaya jika mereka tak memilikinya lagi. Padahal alasan hilangnya keperawanan mereka bukanlah karena seks bebas atau melacurkan diri…seringkali pria-pria dalam hidup mereka tidak memenuhi janji dan meninggalkan mereka dalam keadaan kehilangan keperawanan.  Maka karya ini terasa sekali sebagai suatu usaha protes dan cara saling mendukung sesama perempuan. Hanya di momen Samovar yang singkat itulah mereka bebas berbicara blak-blakan dan menyingkirkan peran pria dalam hidup mereka. Saat kakek Satrapi bangun dan “nimbrung”, nenek Marjane yang biasanya patuh dan sopan serta-merta mengusir dan menyuruhnya kembali tidur ;)

Tapi gosip-gosip tersebut pun mendapatkan kritik dari tokoh sesama perempuan: Parvine. Baginya bordir bukanlah tindakan yang dapat dibenarkan. “Orang mesti belajar menerima perbuatannya”, katanya. Saya sangat menyukai tokoh ini, dia begitu tegas dan bebas. Tipe orang yang berpegang teguh pada keyakinan yang berpadu kebijaksanaan. Ia mengatakan bahwa keberanian bukanlah bawaan lahir tapi berasal dari pengalaman dan ia memperoleh kondisi dimaklumi sebab ia menuntutnya. Wah wah wah…sangat berani dan percaya diri.

Dari karya-karyanya, saya paling menyukai cara bercerita Satrapi yang lugas dan menggunakan media gambar seperti komik. Dengan demikian pembaca benar-benar paham maksudnya dan bisa langsung tertawa tanpa menerka-nerka dari rangkaian kata. Bravo Satrapi!

Jadi, bagaimana menurutmu?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s