Inception: Menakar mimpi dan kenyataan


“jangan berkedip, jangan sms-an, jangan ngobrol, bahkan jangan ke toilet”

begitulah kira-kira rangkuman pesan teman-teman saya saat saya berencana nonton film terbaru Leonardo Di Caprio ini.
“Kenapa?”, tanya saya. “Soalnya pakai mikir, nanti gak dong (paham)”, sahut teman saya. Bahkan kakak saya ikut-ikutan mengompori nonton. hmm…hebat juga ya film ini…pikir saya.

Alhasil, dengan suhu dalam studio cinema yang 17 derajat itu, sambil menahan-nahan kencing pun saya tetap tak beranjak dari kursi, tidak meladeni obrolan, tidak mengecek HP sekalipun ;D

Usai menonton..hmm bukannya tak paham dengan ceritanya, tapi saya bingung bagaimana menceritakannya!hahahahah!

Harus saya akui, tema cerita film ini memang menarik. Christopher Nolan memang jagoan meramu cerita. Sampai detik ini saya pun masih belum bisa mengenyahkan Dark Knight dari ingatan saya. Jika melihat deretan pemeran film ini..fiuhhh…penuh nama-nama jaminan akting dan dedikasi karakter. Sebut saja selain Leo ada Marion Cotillard pemenang Oscar beberapa tahun lalu, Ellen Page si aktris muda berbakat, Ken Watanabe yang karismatik sampai bintang muda Joseph Gordon-Levitt. Untuk keterangan detil, selalu ada situs IMDB andalan ;D

Film, seperti karya seni manapun selalu bersifat multitafsir apalagi dengan alur cerita tak biasa dan sedikit membuat memeras otak. Maka, kira-kira seperti inilah tafsiran Inception versi saya.

Seperti halnya hipnotis, manusia selalu berusaha menemukan cara untuk memanipulasi pikiran seseorang. Untuk itu, tak ada yang menyangkal bahwa ketika sadar, kita dapat menolak segala bentuk pemaksaan terhadap perubahan pikiran Tapi bagaimana dengan keadaan bawah sadar atau subconciusness kita? Bahkan dalam Inception seseorang digambarkan tak mampu mengontrol alam bawah sadarnya sendiri. Mungkin hal yang paling menakutkan adalah bahwa alam bawah sadar itu merupakan bentukan dari gabungan ketakutan dan kenangan buruk yang enggan atau sulit dilepaskan.

Dan itulah yang terjadi pada Dom (Leonardo Di Caprio). Sebagai seorang “pencuri” rahasia pikiran, ia selalu disulitkan oleh sosok istrinya, Mal (Marion Cotillard) yang telah meninggal karena bunuh diri. Dom bekerja dengan cara membawa seorang target dalam mimpinya dan berusaha mencari tahu rahasianya. Orang tak sadar tengah bermimpi karena dalam mimpi tersebut ia biasanya berada di tengah cerita. Bukankah kita semua begitu? dan rahasia seseorang biasanya disimpan dalam sebuah tempat tersegel entah penjara, lemari besi atau kotak penyimpanan. Tugas Dom-lah untuk membuka tempat itu dan mencuri isinya. Namun apa boleh buat, Mal selalu muncul dan menyabotase rencananya. Saat berusaha mengungkap rahasia Saito (Ken Watanabe), Mal muncul dan melukai Arthur (Joseph Gordon-Levitt) rekan Dom dan mengancam membunuhnya jika Dom tidak melepaskan rencananya.

Namun kematian dalam mimpi hanya berarti terbangun dari mimpi. Bahkan waktu berjalan lebih lambat dalam mimpi. Lima menit waktu manusia adalah 1 jam di alam mimpi. Maka bisa dibayangkan jika kita bermimpi 2 jam?5 jam? mungkin kita sudah menjalani seluruh kehidupan kita secara “nyata” dalam mimpi.

Dom gagal mencuri rahasia Saito hanya karena si arsitek mimpi tidak menyertakan detil bahan karpet milik Saito sehingga Saito sadar dirinya tengah bermimpi. Hal tak terduga, Saito menawarkan pekerjaan pada Dom dan berjanji akan membuatnya “pulang’ ke rumah dan bertemu anak-anaknya. Dengan satu syarat: inception.

Dom harus bisa menanamkan sebuah “ide” pada calon penerus perusahaan multinasional, Robert Fischer (Cillian Murphy) yang akan memonopoli perdagangan minyak dunia untuk membatalkan rencana tersebut. Bukan hal yang mudah…sebab itu seperti mengubah keyakinan, mengubah ideologi…namun harus dilakukan tanpa disadari sang target sehingga ia bisa menerima ide tersebut sebagai hal alamiah yang berasal dari pikirannya sendiri.

Dom pun mencari tim baru yang akan membantunya melaksanakan misi tersebut. Pertama ia mencari arsitek mimpi yang baru dan mendatangi universitas tempat ayahnya mengajar. Di sana ia diperkenalkan pada Ariadne (Ellen Page), mahasiswi arsitektur yang brillian. Tugas utamanya adalah merancang maze namun dengan gambaran yang terlihat nyata. Selain itu Dom juga merencanakan membawa target hingga ke lapisan mimpi ke-3.

Tapi yang tak disadari oleh Dom, ternyata bawah sadarnya yang berwujud Mal adalah masalah besar. Ariadne sudah menganjurkan Dom untuk menceritakan hal tersebut pada tim lainnya namun Dom tetap menolak. Padahal, tanpa disadari, Mal adalah sosok tak nyata yang paling kuat dan ia tak segan membunuh dan menyabotase mimpi Dom. Gangguan paling kuat adalah saat mereka sudah sampai pada lapisan mimpi ketiga dan keadaan semakin genting karena bawah sadar Fischer yang berupa barisan bodyguard bersenjata lengkap semakin mengepung. Hal kecil yang lupa disampaikan oleh Eames (Tom Hardy) yang seharusnya meriset segala detil tentang Fischer adalah bahwa Fischer pernah mendapat pelatihan untuk mempertahankan alam bawah sadarnya.

Saat Fischer sudah berhasil dikelabui dan dimanipulasi agar memihak tim Dom dan menganggap bodyguardnya sebagai ancaman, Mal muncul dan membunuh Fischer. Terbunuh di lapisan mimpi ke-3 berarti terbangun di lapisan mimpi ke-2 dan itu adalah kegagalan misi.

Tapi dengan waktu yang semakin sedikit, Ariadne bersikeras bahwa mereka bisa menuntaskan misi dengan membawa Fischer ke tahap mimpi ke-4. Disanalah Dom bertemu dengan Mal dalam mimpinya sendiri. Dom akhirnya bisa melepaskan Mal namun tak sanggup untuk menyingkirkannya. Sementara Saito yang tertembak di lapisan mimpi kedua juga semakin parah dan tak dapat ditemukan di mimpi itu. Akhirnya Dom menyanggupi permintaan Mal untuk tinggal di mimpi itu bersamanya agar mengetahui keberadaan Fischer. Tak dinyana, Ariadne berimprovisasi dan membunuh Mal lalu pergi membawa Fischer. Sementara Dom masih harus mencari Saito yang menghilang karena terluka. Misi tersebut berhasil karena Fischer dibangunkan tepat waktu dan membuka tempat rahasianya sebelum semuanya diledakkan agar mereka terbangun.

Well..rumit tapi menarik. Alur yang berlapis-lapis dan seting nyata yang sulit dibedakan dari saat mereka berada di alam mimpi sedikit membingungkan dan membuat otak bekerja sedikit lebih keras. Namun tak terbayang jika kita bisa memanipulasi mimpi. Tak seperti yang selama ini digambarkan, mimpi bukanlah lingkungan yang gampang dibentuk hanya karena ia milik kita. Alam bawah sadarlah yang membentuknya sehingga sebenarnya kita juga tak memiliki kuasa sebesar penciptaannya.

Saya sedikit teringat dengan mimpi saya sendiri. Ternyata memang benar bahwa saat bermimpi kita menganggap kejadian dalam mimpi itu sebagai hal yang nyata entah bagaimanapun anehnya mimpi itu. Kita tiba-tiba berada di tengah cerita dan memerankan sesuatu. Membicarakan hal yang seolah kita tahu dan merasa hal itu alami. Tapi kemudian saat terbangun kita lupa.

Saya pernah terbangun sambil menangis…sangat sedih. Namun saya tak pernah berhasil mengingat cerita mimpi saya. Yang saya tahu mimpi itu begitu nyata dan menyedihkan. Untung saja..hanya mimpi.

Jadi, bagaimana menurutmu?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s