Kita sebenarnya sendirian


Kata-kata temanku itu masih bergaung di kepalaku sampai saat ini. Tadinya, rasa itu tak memiliki nama sampai temanku menegaskannya dalam bentuk kata-kata. Mungkin itu yang menjelaskan mengapa aku kadang merasa sepi dan sendirian…

Tidak sering memang, tapi akhir-akhir ini aku mulai menyadari benar arti kata kesepian. Mungkin bukan sekedar rasa sepi sederhana seperti tak ada teman untuk diajak jalan-jalan atau karena tak punya kegiatan. “Sepi” yang ini lebih pekat seperti kopi diseduh air satu banding satu. Terasa seperti demam kambuhan yang menyerang selagi lengah dan lemah.

Arti dari kata “kita sebenarnya sendirian” adalah saat aku menyadari bahwa aku memang harus mengandalkan diri sendiri setiap kondisi dan situasi. Saat sepi karena teman-teman sekelilingku sibuk sendiri atau saat aku merasa bagai alien bertandang ke bumi. Saat merasa berada di luar lingkaran atau tak diberi kepercayaan. Saat merasa pesimis dan tak yakin. Dan hal-hal semacam itu…

Pada akhirnya, selalu berujung padakulah yang bertanggung jawab mengusir semua penyakit hati itu. Setiap keputusan-keputusan yang tak dapat kubicarakan, setiap waktu yang kulewatkan dalam kehampaan…semuanya menegaskan bahwa kita memang…sendirian.

Kesepian itu hadir seperti jerat dan sering tak sengaja kaki kita menginjak perangkapnya.

Banyak orang menyatakan bahwa kita hidup di dunia ini tidak sendirian. Betul. Ada banyak orang di sekelilingku. Beberapa adalah keluarga, beberapa adalah sahabat, beberapa adalah teman dan kenalan, sisanya orang asing yang belum kukenal. Tapi meski memiliki hubungan demikian, aku juga sadar bahwa masing-masing dari mereka adalah individu satu-satu. Terkadang mereka juga tak dapat membantu meski kadang enggan dan meragu mau.

Meski bantuan ada saat diminta, tapi betapa menyenangkan jika ia datang tiba-tiba tanpa suara.

Dan..adakalanya pemikiran atau persoalan tak bisa dibagi, tak bisa dibicarakan. Tiba-tiba sahabat tak lagi tepat, kekasih tak lagi sumber nasihat jernih dan keluarga tak cukup menyangga. Tak ada orang lain yang bisa diharapkan untuk mengusir rasa sepi atau sekedar berbagi keluh hati. Bahkan terkadang, orang lain tak cukup mempercayai untuk membagi cerita denganku sendiri.

Mungkin persoalan sederhana dengan teman yang tiba-tiba membatalkan janji, melakukan kegiatan bersenang-senang tanpa kita adalah satu hal kecil. Takkan berarti apa-apa dikala kita baik-baik saja. Tapi ketika kita kehabisan rasa bahagia, ingin ditemani atau sekedar ingin mengobrol ringan…rasanya nyaris seperti dikhianati. Dengan situasi teman-teman dekat sudah berjarak ruang dan waktu, rasa sepi itu makin tak terelakkan.

Terkadang kita sebenarnya hanya ingin ditemani.  Tak soal kemana ingin pergi atau dimana harus berdiri.

Mungkin saja ini terdengar seakan menolak keberadaan Tuhan…tapi jika boleh memilih, kadang aku lebih suka wujud nyata pertolongan seperti sentuhan tangan, telinga yang terlihat mendengarkan, atau mata yang memperhatikan.

Sedikit pelukan tentunya tak dapat ditolak sebab akan terasa lebih menenangkan…

Doa terasa bagai obat peredam penyakit hati. Agar aku terhindar dari prasangka dan mengingatkan diri sendiri untuk tak mudah mengalah pada rasa marah. Selanjutnya yang perlu kulakukan adalah menikmati kebahagiaan-kebahagiaan kecil agar aku yakin merasa bahagia sebagai manusia.

Demikianlah akhirnya kami belajar. Mengandalkan diri sendiri dalam segala situasi. Bersiap untuk melakukan segalanya sendiri. Terkadang sesaat menoleh mencari bantuan, namun saat tak mendapatkan, kami harus bisa melanjutkannya sendirian.

Karena kita…yah…memang sendirian.

7 thoughts on “Kita sebenarnya sendirian

Jadi, bagaimana menurutmu?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s