Bunyi klakson yang teredam


Mungkin saya termasuk golongan pengendara berkepribadian jamak. Saat berkendara, dengan cepat saya mudah naik darah jika ada pengemudi mobil yang terlalu menguasai badan jalan atau jika ada motor memotong arah dari kiri ke kanan padahal sudah menyalakan lampu sein ke kiri :( ugh! benar-benar menyebalkan! belum lagi kalau ada pengendara yang dengan santai mengemudi pada kecepatan lambat dan berada tepat di jalur tengah jalanan! Aaarghhh! benar-benar pancingan tepat untuk mengumpat!

Saya benar-benar tidak bisa membayangkan stresnya tinggal di kota yang lebih besar dari sekarang. Mungkin bisa putus urat syaraf saya karena stres tidak bisa melalui jalanan dengan lancar. Bayangkan saja, jalur jalanan yang sempit dan sering tanpa trotoar seperti yang ada sekarang harus dibagi dengan ratusan bahkan ribuan kendaraan setiap harinya. Belum lagi dengan pejalan kaki, penjual dan entah siapa lagi yang memadati jalanan.

Tapi…

Ternyata baik saya maupun pengemudi lain yang sama-sama tak sabaran juga punya pengecualian.

Satu sore saya sedang sedikit terburu-buru dan ingin mempercepat waktu perjalanan dengan memotong jalan lewat gang-gang kecil. Perjalanan saya terhambat oleh sebuah mobil besar yang berjalan dengan lambatnya. “Duh, depannya kosong melompong kok ya santai-santai aja sih niy orang”, pikir saya dongkol. Jempol kiri saya sudah mengelus tombol klakson untuk menyuruh si “siput besar” itu untuk sedikit menepi. Tapi niat itu langsung urung saya kerjakan saat melihat melalui kaca tembus mobil itu ke arah penyebab terhambatnya laju semua kendaraan di gang itu.

Ada seorang ibu naik sepeda tuanya dengan membawa satu lincak besar dan mengayuh kelelahan…

Kami sepertinya tidak sampai hati jika harus mengklakson pengendara kendaraan non-motor. Apalagi seperti becak atau penglaju (commuter) yang membawa dagangan berupa lincak (kursi bambu), saya bisa membayangkan betapa melelahkan untuk melajukan kendaraan dengan tenaga. Dan akan sangat tak berperasaan jika memaksa mereka mempercepat laju atau minggir ke tepi hanya karena kami tak sabar lagi.

becak mengangkut mobil

Kami pengendara kendaraan bermotor tak memerlukan usaha besar untuk menggerakkan kendaraan. Bahkan bisa dibilang kami hanyalah orang yang menumpang bergerak pada fasilitas yang dinamakan kendaraan bermotor. Tanpa tenaga, tanpa usaha.

Jika masih ada orang-orang yang menganggap bukan apa-apa membunyikan klakson pada mereka, semoga mereka berpikir lagi…

mereka bukanlah biker yang mengendarai sepeda karena memilih untuk bersepeda. Mereka yang mengangkut lincak dengan sepeda tentu saja tahu bahwa cara itu tak aman dan berbahaya. Tapi mereka bisa apa? begitu juga dengan tukang becak atau andong, apa yang mereka lakukan bukan dengan tujuan melakukan perjalanan tapi mengusahakan sambungan hidup dengan kayuhan dan lecutan roda.

Selain itu, ternyata ada peraturan untuk membunyikan klakson hanya saat keadaan tertentu atau berbahaya saja…bukan untuk meluapkan ketidaksabaran.

Think again before we honking

2 thoughts on “Bunyi klakson yang teredam

Jadi, bagaimana menurutmu?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s