Tentang ketakutan dan kecemasan


Ketidaktahuan adalah keberuntungan…

Dini hari tadi aku terbangun saat menginap di kos seorang teman. Rupanya ia sedang menerima telepon dari seorang teman lain yang juga kukenal. Samar-samar kudengar patahan kata “takut…resah..” kupikir pembicaraan tentang ayahnya yang di seberang pulau sana. Tapi ternyata tidak.

Teman penelepon itu menelepon temanku untuk mengingatkan agar waspada. Sebab ia memiliki seorang kenalan berkemampuan “lebih” yang memperingatkan adanya bahaya gempa besar di kota tempat kami tinggal dalam waktu dekat ini. Lebih besar dari beberapa waktu lalu. Bahkan tak dapat diprediksi kerusakan dan kekacauan yang akan terjadi.

T.A.K.U.T

Usai menelepon, temanku memandangku yang masih mengerjap-ngerjap dan berusaha mencerna saat ia menjelaskan apa yang terjadi. Saat itu juga aku bergetar meremang. Tanganku terasa dingin dan jantung berdegup lebih kencang. Apa yang harus kulakukan??…Ya Tuhaaan…

Seandainya visi sang cenayang mewujud kenyataan. Aku tak mampu membayangkan. Sungguh. Aku mengharapkan ketidaktahuan. Menjalani hari seperti biasa dan tak khawatir akan apa-apa. Aku tak mampu memberitahu semua orang sebab pasti menimbulkan kepanikan atau justru dituduh menyebar hoax.

Jika ada yang kupikirkan, pertama terlintas adalah orang tuaku. Aku ingin bersama mereka. Ingin lari ke pelukan aman mereka. Tapi yang kusadari seketika…mereka pun telah dimakan usia. Seharusnya, akulah yang melindungi mereka sekarang.

Maka yang terjadi kemudian adalah…aku dan temanku berdoa. Ya…doa adalah satu-satunya cara. Aku tidak yakin doaku akan terkabul atau tidak, sebab sejak dulu aku menganggap doa adalah hal yang tak bisa dipaksa. Doa seakan semacam permohonan atau request khusus pada sebentuk kekuatan yang mengatasi segalanya. Kepada sang pemilik kekuatan tersebut. Entah siapa. Aku menyebutnya Tuhan. Aku menyerahkan untaian doa pada-Nya.

Aku dan temanku akhirnya tidak meminta keselamatan sebab mungkin itu cukup mustahil. Tapi kami minta hati yang siap. Kami mohon keteguhan dan kekuatan. Perlindungan bagi setiap orang yang kami sayang dan kenal. Perlahan seusai memanjatkan kata-kata kami berusaha tidur…setelah itu…kami terbangun dalam rasa “lupa“. Seolah tidak pernah membicarakan hari yang menakutkan. Perasaan kami terasa lebih ringan. Apa yang terjadi…terjadilah.

Jika hari itu benar-benar terjadi secepat ini. Mungkin inilah tulisan terakhirku yang bisa kutinggalkan. Aku hanya ingin orang-orang yang kusayangi tahu bahwa aku merindukan mereka dan ingin bersama mereka. Jika tak lagi bertemu, mungkin kita tetap akan bertemu dalam rindu…

Andai aku boleh memohon ketidaktahuan dan lebih banyak kepedulian…aku akan memohon sebanyak-banyaknya pada Tuhan. Agar ketika hari “H” itu tiba, aku boleh pergi dengan bahagia secepat mungkin dan sesedikit mungkin merasa sakit.

Tapi, apa yang terjadi…terjadilah….

rasa cemas dan takut…pergilah…

Jadi, bagaimana menurutmu?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s