Tentang Nama


Saya pernah menulis dalam sebuah note di Facebook tentang nama. Memang sederhana. N-A-M-A. Sampai bosan saya jika harus mengutip kalimat “apalah arti sebuah nama?“. Jika dipikir-pikir ya penting gak penting juga sih. Tapi saya rasa nama itu penting. Sebutan atau panggilan itulah yang memberi alarm untuk menoleh pada telinga saya saat di tengah kerumunan orang dan mendadak dipanggil dengan nama. Yang membedakan kita dengan si Betsy yang “guk-guk” atau Meli si “meong-meong” heheheh…

Kadang nama yang sudah susah payah dipikirkan orang tua saat mendaftarkan akte kita diutak-atik sekenanya. Nama Monica jadi mon-mon atau nama Subakri jadi Karbit…entahlah…ngaco sekacau-kacaunya. Tapi kadang ada juga yang dengan bangga menyebut nama julukannya entah yang nama anak sapi, kotoran hidung atau kelamin..(ups…maaf), karena merasa nama itu terdengar akrab dan mungkin….happening? atau terasa populer? entah…#geleng-geleng#

Semakin kesini, saya makin sadar…banyak perempuan yang ternyata memilih tak dipanggil dengan namanya sendiri. Mereka mengubah panggilannya dengan Bu X (nama suami) atau mamanya DK (nama anaknya). Mereka meleburkan identitas keaslian atau otentisitas (bener gak ya nulisnya) dengan menggunakan identitas orang terdekat mereka. Hmmm…tanda cintakah? entah.

Mungkin hanya saya saja yang merasa aneh sebab saya belum menikah dan belum punya anak. Entah juga jika ternyata saya juga ikut mengganti nama dengan nama suami atau anak. Tapi jika Anda mengisi formulir, nasabah bank misal, pasti yang ditanyakan adalah nama ibu Anda. Kenapa? saya tidak tahu. Padahal nama Ibu sudah berubah menadi nama Ayah. Taruhan…apa anda tahu nama kecil Ibu sendiri? minimal nama lengkapnya? Siapa panggilannya?

Ibu saya seorang guru, maka dia “mendapat kehormatan” dipanggil dengan namanya sendiri. Tapi kalau acara RT/RW ya dia dipanggil dengan nama Bapak saya. Kok masyarakat tidak merasa aneh ya melekatkan nama laki-laki pada seorang perempuan? Dulu saja kalo kelahiran bayi perempuan pasti dicarikan nama yang sangat perempuan. Begitu dewasa dan menikah kok akhirnya ganti juga jadi nama laki-laki heheheh…

Kalau saya membaca profil seseorang, saya ingin tahu siapa dia? siapa namanya? apa yang ia lakukan? apa hobinya? saya tidak ingin misalnya, membaca N.H Dini -pengarang favorit saya- memperkenalkan dirinya dengan nama Ibunya Lintang atau Ibunya Padang (nama anak-anak N.H Dini). Memangnya, Lintang atau Padang sudah berbuat apa hingga namanya diabadikan sebagai nama Ibunya yang sudah melahirkannya. Apakah kalau Lintang atau Padang ini seorang kriminal lalu ibunya masih dengan bangga mengaku-ngaku sebagai ibu?

Hidup seseorang biarlah menjadi hak orang itu sepenuhnya. Saya pun tak ingin melekatkan nama saya pada Ibu saya agar dia menulis komentar atau mengikuti milis dengan nama “Mamanya Elga”. Lha Elga itu siapa? ya ndak tauuuu…. ^O^

Satu hal terakhir, menyebut diri sendiri dengan nama asli sepertinya adalah sebuah keberanian. Keberanian menampilkan diri sendiri, berani menunjukkan wujud dan sosok dan bertanggung jawab atas hal yang dilakukan oleh diri sendiri. Seperti yang pernah saya baca di komik “Death Note”, kalau tidak tahu nama aslinya, seseorang takkan bisa dibunuh. Tapi meski akhirnya mati, “L” si tokoh pengejar Kira (pemegang Death Note yang membunuh sembarangan itu) toh mati dengan mengungkap kebenaran.

Saya ingin dikenang dengan nama saya. Nama yang menjadi identitas keberadaan saya. Bukti bahwa saya pernah ikut memenuhi bumi dan meramaikan sesaknya dunia.

Jadi, bagaimana menurutmu?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s