The Wisely Mr. D


Mungkin ini adalah tulisan terakhir saya tentang beliau.

Lusa saya sudah takkan bertemu lagi dengannya dalam jangka waktu yang lama. Dengan datangnya esok pagi, saat pengumuman hasil rapat Prodi ditempel di papan pengumuman, demikian pula hubungan saya dengan beliau sebagai mahasiswa-dosen pembimbing berakhir.

Ini adalah cerita tentang kali terakhir saya berbincang dengannya… Benar. Berbincang. Seakan belum pernah mengalaminya, hari itu saya mengalami percakapan yang cukup panjang dengan Mr. D. Awalnya, saya berniat menemuinya dengan rencana di otak saya untuk sedikit mengulik-ulik wejangan terakhir beliau. Siapapun tahu, orang yang sudah mau pergi biasanya murah hati sekali hehehe… Tapi, begitu berjumpa dengannya….lidah saya kelu.

———————–skip moment—————————-

Catatan: ini adalah fakta setelah saya menemui beliau dan mengetahui bahwa ia akan pergi keluar negeri itu ternyata hoax. Salah. Beliau cuma ke bumi parahyangan. Yap!B-A-N-D-U-N-G! saya sukses jadi objek derita olok-olok teman sesama bimbingan sebab saya yang ternganga paling lebar saat mendengar destinasi Mr. D.

Apa?! Cuma ke Bandung toh? Sial!hahahahha!terlanjur mewek dan merasa melankolis seakan tidak akan bertemu lagi. Walahhhh..kalau cuma ke Bandung mah..hayuuukk! Skenario terburuk jika memang harus bimbingan kesana dua minggu sekali sih tidak masalah..hitung-hitung sekalian jalan-jalan :)

TAPI ITU SEKEDAR RENCANA GILA KAMI SAJA.

Akhirnya perasaan “tertipu” dan “dongkol” itu hilang sudah. Yah…beliau tetap pergi dan meskipun mau dipaksa-paksa…tak mungkin bisa melakukan bimbingan jarak jauh. Itu akan menyulitkan baik bagi Mr. D maupun kami mahasiswa-mahasiswa bimbingannya. Tak ada jalan lain, kami memang harus beralih tangan.

——————————-lanjut——————————–

Saat menemui beliau di kantornya, Mr. D tampak,entah bagaimana ya membahasakannya,ringan sekaligus lelah. Sulit menjelaskan, tapi ia benar-benar sosok yang berbeda seolah kadar kesabarannya meluap 200% dan terlihat lebih….kebapakan? Tapi mungkin mirip orang yang diliputi aura “kedamaian” seolah beban beratnya sudah diambil…(saya ga ngomongin orang yang ga ada loh heheheh!) Kami sama-sama tahu bahwa pembicaraan mengenai “penentuan nasib” saya akan jadi topik utama. Tapi entah kenapa saya memulainya dengan berbasa-basi sambil menunjukkan beberapa hal yang sudah saya kerjakan dan mengajukan beberapa pertanyaan. Itu cuma lapisan penutup saja.

Akhirnya mencuatlah juga topik itu…tiba-tiba kami terdiam sejenak. Jengah. Lalu saya membuka suara, “jadi…nasib saya bagaimana Pak?” lalu Mr. D menjawab,” ya..ya…nasib kamu ya..”. Ia menjelaskan secara singkat bahwa kepergiaannya memang mendadak dan ia juga tak dapat menawarkan alternatif lain (CATAT: entah kenapa saya tidak bertanya, “Sebenarnya Bapak mau kemana sih?”-ugh-). Ia mengatakan bahwa proses yang saya alami sudah bisa dikatakan 50% berjalan, dan seharusnya saya bisa lulus dalam waktu 1-1,5bulan mendatang. Dia juga menyatakan sebenarnya dia juga ingin on side, namun tidak mungkin. Mungkin ia juga mempertimbangkan jarak untuk harus pulang jika saya atau mahasiswanya yang lain pendadaran (CATAT: jarak BANDUNG-JOGJA #ugh saya masih mangkel juga sih).

Disinilah muncul satu lagi karakter Mr. D….

Saya sungguh berharap ia menyebut satu nama dosen pengganti, agar saya tidak bingung menentukan. Bagaimanapun, saya tidak bisa memilih dalam saat seperti ini. Saya berharap tugas itu diambil dari saya. Tapi Mr. D hanya berkata bijak, “saya tidak akan menyebutkan nama siapa yang saya sarankan…bagaimanapun itu harus Anda sendiri yang memutuskan.” lalu dia melanjutkan,”Namun, Anda bisa proyeksikan siapa yang Anda anggap memiliki masukan yang ‘menguntungkan’ saat seminar Anda kemarin.

The wisely Mr. D….Mr. D yang bijaksana…Mr. D yang takkan memperkeruh suasana…

Dia tidak akan menimbulkan prahara dengan menunjuk sebuah nama lalu pergi begitu saja. Pilihan itu bebas untuk mahasiswa dan dosennya. Maka, segala resiko dan tanggung jawab di kemudian waktu…itu adalah hasil pertimbangan kami sendiri. Dengan menimbang sendiri siapa dosen yang kami kehendaki, kami akan bertanggung jawab pada hasil akhir pekerjaan kami sendiri. Nantinya harus lebih memacu semangat sebab harus beradaptasi dengan pilihan baru ketimbang mengeluh dan mengaduh.

So….is it time to say goodbye Bapak?

Selamat jalan Mr. D, semoga sukses selalu dimanapun Anda berada dan mendapatkan apa yang Anda cita-citakan. Semoga hasil godogan dan wejangan Bapak selama ini mengendap dan bermanfaat di otak saya…Semoga saya benar-benar lulus dalam 1 bulan seperti yang Bapak ‘katakan’…sebab memang itulah waktu saya yang tersisa. Satu bulan.

Debaran jantung saya makin kencang, saya semakin gugup dan ingin menghentikan waktu. Tapi tak banyak yang bisa saya lakukan selain memecut diri sendiri agar jangan malas dan segera berlari. Berlari…mengejar gerbang yang nyaris terlewati. Sedikit lagi….

Doakan saya ya Pak!

2 thoughts on “The Wisely Mr. D

Jadi, bagaimana menurutmu?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s