Dilema sampah abadi: printer (dan lainnya juga)


Uwooo…ternyata saya sudah absen berhari-hari dan tidak menuliskan apapun. Ada banyak hal yang menunggu dibuat tulisan sebenarnya. Namun karena penundaan dan berbagai alasan, mood untuk menuliskan sudah hilang…begitulah kalau jadi penulis moody: payah.

Nah! sekarang, penulis payah ini mau berkeluh-kesah. Sepertinya saya memang memperlakukan blog ini bagai tempat sampah. Ngomong-ngomong soal sampah…saya punya bahasan sampah baru nih…

Dalam track record saya sebagai pengguna gadget dan barang elektronik yang tidak terlalu gaptek, saya adalah user yang payah. Terutama soal printer. Bayangkan saja, selama 6 tahun saya kuliah (Yap!enam..lebih sebenarnya hehehe), saya sudah berganti printer lima kali! yang kalau dirata-rata, berarti nyaris setiap tahun saya berganti printer!

the fragilest thing i've ever had!

Di awal kuliah, ayah saya membawakan printer kantornya yang oldschool sekali. Masih pakai rel pita dan suaranya…ckittt ckittt..kencang dan menyakitkan telinga!Printer itu sudah bertahun-tahun digunakan ayah saya untuk bekerja….dan begitu sampai di tangan saya: relnya putussss! hiyaaaa!!! Kok bisaaa?? Wah gak tau juga. Tapi yang jelas, untuk cari spare part-nya sudah susah :(

Lalu lain lagi waktu saya beli printer baru, tak lama kemudian cartridgenya bocor! Emm…mungkin saya menyikapinya dengan salah, soalnya cartridge itu kemudian saya…BUANG!!! woaaa! benar-benar tindakan tak bertanggungjawab masa muda!

Kalau dipikir, mungkin saya punya bakat merusakkan benda elektronik rupanya!padahal memakainya ya biasa sajaaa…emang gimana biasanya? cuma ditaruh di meja, colokan listrik nancep, tombol “ON” ditekan..kabel data nyambung ke komputer…udah kan?? Seumur-umur saya tidak pernah melakukan tindakan ekstrim pada printer-printer saya itu loo…jangankan membongkar, menusuk, membanting…ganti atau utak-atik cartridge aja jaraaanggg banget!

Kadang ada orang yang bilang printer saya itu “sudah waktunya rusak“. Masa sih?? tapi kok cepet banget?? Masa iya, demi alasan meningkatkan penjualan  perusahaan printer ybs mendesain produk yang cepat rusak? itu pikiran yang negatif sih…tapi melihat profit oriented-nya mereka? bisa jadi.

Ada juga yang bilang, “daripada mahal-mahal beli cartridge baru, atau benerin mainboard…mending beli baru saja, toh nanti harganya selisih sedikit

NAH!INI DIAAAA! ini yang mau saya bahassss!!!!

Memang benar kalau beli printer baru yang masih baik selisih harga tidak jauh beda…tapiiiii…printer-printer lama yang sudah rusak itu mau dikemanakaaan???

Sudah jelas toh, printer yang sudah rusak itu cuma punya dua pilihan: dibuang atau diperbaiki. Karena orang-orang merasa lebih baik beli baruuu…akhirnya printer-printer lama itu teronggok begitu saja.

Lalu, apa nasib printer-printer itu? JADI SAMPAH!

Semua orang berpikir, “ah, dibetulkan nanti saja” Yes! Benar! Dan itu dibiarkan begitu saja bertahun-tahun!!!

Akhirnya, ketika printer saya yang baru saya beli 8 bulan silam dengan merek EP**N meninggal dunia (bener-bener mogok hidup) dan setelah didiagnosa kemungkinan besar karena otak alias mainboardnya yang mati, saya memutuskan memperbaiki saja ke service center pusatnya.

Waktu sedang mengisi kelengkapan administrasi, iseng saya bertanya pada petugasnya

saya: “Pak, misalnya nih ya, saya memutuskan untuk beli baru lagi. Apakah saya bisa menitipkan printer bekas saya kesini?”

si Bapak: “wah…kita juga bingung mbak buangnya. Soalnya kita juga ada program tukar tambah beberapa kali setahun. Kalo printer rusak kami hargai Rp 100-400ribu untuk ditukar tambah dengan printer baru. Setelah itu kami bingung mau ngapain dengan ratusan printer rusak itu.”

“Memangnya gak bisa didaur ulang pak?”

“Nggak bisa mbak, plastiknya terlalu tebal. gak ada perusahaan yang mau daur ulang. malah lebih cepet ember plastik bekas.”

“@$$*##%*##???”

Walalahhhh….ternyata printer-printer segede gambreng itu ga bisa didaur ulang toh??? Sama kayak stereofoam donk, dan OVJ di Trans 7 menghabiskan berapa stereofoam tuh buat dibuang-buang dan dirusak demi mendukung lawakan?

Sekarang saja misalnya, penggunaan benda-benda semacam itu selama 25 tahun saja (pas pertama kali ditemukan tahun berapa sih? :D) sudah bisa buat pulau-pulau kecil di peta…bayangkan seratus, seribu, dua ratus ribu tahun lagi….ahhhh tidaaak!!!

Sudah tidak bisa menyesal, sudah terlambat menoleh ke belakang…

stop konsumtif! re-use, reduce, recycle!


Jadi, bagaimana menurutmu?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s