Cerita di balik cuap-cuap


Terkadang saya sedikit merasa heran jika ada teman yang berkata bahwa ia kesulitan menulis sesuatu untuk dibaca orang lain. Sejak saya memiliki blog, saya seperti mendapat pipa untuk keran pikiran saya. Banyak…banyak sekali hal yang ingin saya ungkapkan sampai terkadang jika ada ide melintas dan saya terlalu lelah untuk membuka netbook mungil saya, saya terpaksa mencatat clues yang muncul di telepon genggam saya. Meski kemudian mood itu menghilang, setidaknya saya ingat bahwa saya pernah memikirkan hal itu.

Lalu apa susahnya?

Saya rasa, hambatan terbesar adalah karena kita merasa tulisan kita akan dibaca orang lain. Memang begitu harapan sekaligus tujuan membuat blog bukan? Tapi, jika sudah terlepas dari rasa ingin dinilai bagus oleh orang lain, kita akan lebih mudah menuang kata-kata. Saya rasa begitu.

Sebab memikirkan penilaian orang lain bisa memutus semangat menulis tiba-tiba. “Duh, niy nanti jadi masalah ga ya? Bagaimana kalau mereka salah interpretasi dan menilai saya buruk?” Pikiran-pikiran semacam itu terkadang masih sempat seliweran di kepala saya. Maka saya mencoba mengabaikannya sekarang.

Saya selalu membiasakan menulis bebas setiap kali mendapat ide. Ini mungkin terdengar tidak bertanggung jawab sebab saya membiarkan pikiran saya melenceng kemana-mana bahkan bisa jadi membingungkan. Tapi itu tujuannya. Saya akan menggunakan kerangka penulisan saat saya membuat artikel atau menulis sesuatu yang terdengar penting. Atau semacam itu.

Setidaknya di blog personal saya, saya ingin merasa bebas mengatakan sesuatu sepanjang tidak merugikan orang lain. Syukur dibaca orang lain, syukur dinilai baik. Terdengar sedikit naif? Tapi ini cukup manjur untuk membuat saya terus mengetik tuts keyboard dan merangkai kata-kata yang terpikirkan.

Begitu saja. Mengalir seperti air.

Pernah saya membiarkan satu ide dan tidak menuliskannya hingga selesai. Mood itu hilang. Bersamaan dengan kegiatan lain yang saya lakukan dan terhapus dalam tidur. Maka, sekarang saya mencoba untuk langsung menuliskan hal yang membuat saya merasa semangat dan ingin berpendapat. Benar-benar saya bersyukur sudah memulai nge-blog. Sebab tak dapat disangkal, tak ada yang tahan mendengar ocehan seseorang seharian. Bahkan teman atau keluarga.

Maka dengan menuliskan APAPUN yang saya rasakan dan saya pikirkan, saya berharap Anda…seseorang di luar sana membaca apa yang saya tuliskan dan mendengarkan cuap-cuap saya yang tidak penting ini.

Saya berusaha mengabaikan jumlah pengunjung blog saya…sebab entah bagaimana, keinginan untuk mencapai angka tinggi akan selalu menjadi beban tersendiri. Tapi saya bersyukur, entah darimana entah bagaimana…selalu ada yang mampir dan melihat. Terkadang berbaik hati memberi masukan atau komentar. Saya senang mengetahui bahwa ada seseorang atau beberapa orang di luar sana yang akhirnya “mendengarkan” apa yang saya katakan. Tidak selalu berharap mereka setuju, setidaknya mereka sudah mendengar dan membiarkan saya merasa bahagia sebab cuap-cuap saya dibaca.

 

Terima kasih….

 

 

 

 

 

gambar dipinjam dari ini dan ini

2 thoughts on “Cerita di balik cuap-cuap

  1. Macam-macam org tu sulit menulis tapi kalau bercerita bisa sampai pagi! Bahkan aku sering dengar orang cerita tentang perjalanan hidupnya lalu aku ajak untuk menuliskannya kaget. Jawabnya: aku ngak bakat menulis! Kataku: menulis itu bukan bakat tapi sudah jadi kehidupan biar ketemu sama kehuripan. Hahahahha …Terima kasih atas suguhannya. Moga berhasil sukses. aku tunggu di blogku. Tengoklah dan bisa saling mengisi.

    • Wah betul mbak :D lebih mudah bercerita daripada merangkai kata. Tapi kalau cuma berupa suara kadang tidak ada jejaknya. Karena itu perlu juga belajar menulis terus-menerus supaya tidak terlupa pernah mengalami apa. Terima kasih sudah mampir..saya meluncur ke TKP blog anda :D

Jadi, bagaimana menurutmu?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s