Pekat Lengket Lumpur Code


Andai saya pernah membayangkan tinggal di negeri bersalju, mungkin ini bisa buat belajar: Menyekop ‘salju’ cokelat hehehe!

Sore itu saya memacu motor saya melewati jalan jokteng wetan ke arah jalan Taman Siswa. “Kok macet sih?” batin saya saat melihat rentetan kendaraan berjalan lambat karena terhambat kerumunan orang di pinggir jembatan. “Masa ada mayat gitu?” bisik benak iseng saya. Pas motor saya melalui jembatan, saya longokkan kepala saya takut-takut…Walalah! ternyata ada aliran deras air pekat cokelat di sungai. Mirip jeram di kali Elo Magelang kalau hujan. Waduh! lahar dingin nih! Seketika saya teringat teman saya yang rumahnya pinggir kali Code, saya sms dia menanyakan kabarnya. Soalnya dia bilang sama saya kalau dia dan keluarga Om-nya sudah pulang lagi ke rumah itu.

Ternyata, teman saya malah di tempat lain. Walah…terus terang saya juga tidak tahu kondisi rumahnya. Soalnya saat itu wilayah kota tidak hujan sama sekali. Tapi dengar-dengar dari percakapan orang, di daerah atas (kaliurang ke atas) sedang hujan deras bahkan beberapa tempat sampai terendam. Oalah…ya ampun, semoga mereka tidak apa-apa.

Menjelang malam, saya tanya lagi kabar teman saya itu soalnya saya baca status teman yang lain katanya dia sedang bantu bersih-bersih di rumah teman saya itu. Si teman lalu menelepon saya menanyakan apa saya bisa datang untuk bantu-bantu? Saya sih mengiyakan saja mumpung tidak ada acara juga heheheh. Dia juga berpesan agar saya jangan lupa bawa alat untuk bersih-bersih. Hah? alat apa ya??

Karena membayangkan membersihkan air, saya langsung pulang ke kos dan menyambar kain pel, sapu ijuk, ember kecil, kanebo sama…centong semen! hehehe!jaga-jaga aja siapa tau butuh….;P

Ternyata…..YA MEMANG BUTUH! Soalnya yang saya akhirnya hadapi adalah bubur lumpur..eeeuuuhhh! Waktu saya sampai ke jalan Jagalan, ternyata sudah dipalang. Saya bilang mau menemui keluarga teman di bawah sehingga penjaganya mengijinkan saya lewat. Saya lalu masuk dan memarkir motor di parkiran radio Redjo Buntung. Teman saya sudah bilang sebelumnya kalau jalan turun ke bawah sudah tidak bisa dilalui motor. Hmm…separah apa yaaa….hm hm hm…

Weitttss! ternyata kenyataannya lebih parah! begitu turun ke gang bagian bawah yang berliku…genangan air plus endapan lumpur tebal sudah menyambut saya. Seorang Ibu berkata,” wah sudah gak bisa lewat mbak? mau kemana?” Saya jawab mau ke tempat teman saya tapi sayangnya saya tidak tahu nama Om-nya. Lalu saya disarankan copot sandal saja daripada jatuh. Saya nurut, untung juga pakai celana pendek. Untung juga itu malam hari jadi saya tidak perlu melihat jelas seperti apa lumpurnya heheheh….

Tapi memang betul, endapan lumpurnya mengingatkan saya pada gambaran salju tebal di tivi! Dimana-mana terlihat bapak-bapak dengan sekop dan pacul. Mereka mirip pekerja bangunan yang menciduk pasir dan melemparnya ke sungai. Apa yang saya lihat kemudian memang sedikit seram. Air yang melalui aliran Code sudah tinggi dan mengeluarkan gemuruh saat membentur gundukan pasir. Mirip badai di laut. Saat saya sampai di rumah teman saya itu, ternyata mereka (si teman dan beberapa teman lain) sudah pindah membersihkan rumah saudara di sebelahnya.

Langsung saya gulung lengan kaos saya dan mengambil peralatan. Ah! Air kecoklatan serasa tidak habis dibuang! Selain itu, lumpur yang mulai mengering sangat sulit dibereskan. Mirip semen begitu, langsung mengeras dan padat. Sekitar 4 jam kemudian barulah kami sedikit lega. Rumah sudah ‘agak’ bersih lah…lumayan…

Tak lama bantuan lain datang, kali ini tenaga-tenaga teman pria. Wah, bisa jadi latihan otot yang bagus tuh buat mereka!hahahha! mereka menyekop endapan setebal setengah lutut dan membuang ke sungai. Beda dengan tanah biasa ya…yang ini susah disekop! beneran deh! Seorang teman saya, Nancy bilang kalau lumpur yang lembut-lembut benyek itu mirip coklat ya…WHAT?? Jangan menabur bibit trauma donk! Cukup Tuhan aja yang tahu lumpur itu seperti apa aslinya…maklum aja, meluapnya dari Code siiih!#pura-pura gak tauuu…dududuudu#

Masalahnya, gang-gang di pinggir Code tidak memungkinkan dilewati alat berat. Jadi, andalan tenaga pembersihnya ya tenaga manusia :D Saya jadi berpikir…”Wah, lumayan juga ya kalau saya punya perahu angkut, alat keruk plus sebidang tanah bersertifikat. Code bersih dan saya bisa dapat satu rumah baru deh!hahahha!”

Ngomong-ngomong..maaf nih tidak ada foto-fotonya. Soalnya selain henpon saya ga punya bawaan kamera, kami emang ga sempat mikir mau bawa kamera. Saya saja cuma ingat nyamber lap pel, sapu ijuk sama centong semen! hahahaha!

Jadi, bagaimana menurutmu?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s