Antara Bus dan Kereta


Saya jarang naik pesawat.

dipinjam dari teapotdomescandal.blogspot.com

A..a!Pernyataan yang salah!hehehe…sebenarnya mau menutupi kenyataan saja kalau saya baru pernah naik pesawat sekali dengan almarhum maskapai Adam Air plus lagi kena DB alias Dengue Fever. Jadi gak ada cihuy-cihuynya deh! :D

Karena belum punya kesempatan naik pesawat lagi, saya lebih sering naik Bus untuk keluar kota #Sayang sekali belum keluar Jawa# Tapi berkali-kali juga sempat naik kereta meski cuma tujuan jakarta-jogja saja biasanya. Karena tidak biasa naik pesawat (baca: ga punya duit buat beli tiketnya), maka yang biasa saya alami adalah perjalanan-perjalanan panjang. Bisa berjam-jam sampai pantat pegaaaallll!! Untuk mudik saja, minimal saya menempuh 8 jam  perjalanan! Euuuhh…terakhir waktu pulang dari Jakarta naik bus Ramayana..saya habiskan 14 jam! Tobat!

Tapi kalau ditanya, saya lebih suka naik kereta atau naik bus…mungkin saya akan jawab BUS.

Saya tidak benci kereta, saya suka suasana stasiun di banding terminal sebenarnya. Lagipula jadwal kereta lebih teratur dan juga perjalanannya terbilang santai plus tidak perlu deg-degan kalau supirnya mantan pembalap formula-1 cabang AKAP (Antar Kota Antar Propinsi :P). Tapi….satu hal yang paling tidak saya suka di Kereta adalah….DIPANTATIN! Eh…apa maksudnya ya?? Jangan sembarangan Ga, bisa dituntut PJKA kamu! :D

Eh..eh…eh jangan emosi dulu, jalur kereta itu kan spesial. Mau lewat aja yang lain kudu ngalah berhenti waktu palang rel sudah diturunkan dengan bunyi Ning nong ning nong plus ring tone mbak-mbak “Mohon perhatian..berdasarkan undang-undang perkeretaapian..palang pintu bukanlah alat pengaman.. bla bla bla“. Eits, kalau palang pintu bukan alat pengaman berarti bisa hamil donk? #BLETHAKKK!!#

Nah, justru di situ masalahnya. Karena punya jalur sendiri, saya ga bisa lihat rumah-rumah atau bangunan yang dilewati dari depan…hiks! Iyalah! Mana ada orang bikin rumahnya madhep rel kereta api nyooong! Maksud saya, perjalanan naik kereta api itu seolah-olah dicuekin semua orang sepanjang jalan. Mau liat tanda atau palang apapun yang menunjukkan lokasi gak bisa, mau lihat pemandangan adanya cuma pantat belakang rumah dan gelap…gelapppp!Gelaaapppp!!!

Lagipula, karena cenderung bergerak stabil dengan bunyi dengungan yang konstan..saya justru gak bisa tidur! Soalnya dikit-dikit berhenti di stasiun dan harus mendengar penjual berdagang ini itu. Jadi semacam mimpi yang suka diinterupsi! Ugh..belum lagi kalau di Taksaka, suka ada parfum otomatis yang menyembur 15menit sekali. Saya benar-benar berharap ada yang memberi tabung oksigen! Soalnya saya ga suka wanginyaaa..eneeg! Jadi tiap kali penyemprot parfum itu bekerja, saya tahan napas..UMPHHH!Masalah tuh kalau dia nyemprot 5 menit sekali..saya bisa mati :P

Sementara saat perjalanan dengan bus..saya bisa nguping obrolan kernet-sopir yang kadang-kadang lebih seru dari inpotainmen, melihat isyarat tangan antar sopir bus bermerk sama (kadang saya kepikiran bikin penelitian ‘bahasa’ khusus antar sopir bus :P) dan lagi…bisa lihat pemandangan yang beda dari tiap kota!

 

from timtim.com

Cuma kalau ada kesamaan keengganan naik kereta dan bus..itu adalah: Basa-basi perjalanan!Dulu sih, saya termasuk orang yang suka ngobrol dengan orang baru. Tapi akhir-akhir ini saya membatasi kesukaan saya hanya pada orang baru yang saya temui dalam satu acara atau dikenalkan teman. Soalnya saya malas harus berusaha ramah sepanjang jalan dengan pembukaan standar macam:

Mau turun mana mbak?

Kuliah atau kerja? Dimana? Ambil apa?

Aslinya mana? Oooh..saya juga punya saudara di Anu atau saya punya kenalan di Ana

Lanjutannya…kalo lawan jenis:

Punya fesbuk nggak? Boleh add? Punya email? No Hape? Punya Obeng ga? Kunci Inggris?

Ah cukuplah!

Seandainya saja saya bisa selalu naik bis atau kereta yang berkursi satuan..Ada sih, tapi kebanyakan bukan dengan jurusan yang saya tuju. Lagipula, dalih saya adalah: Lebih baik tidak bicara dengan orang asing. Kalau toh memang jodoh harus berkenalan dengannya, pasti nanti ketemu lagi entah dimana. Maaf ya, saya mau tidur dulu…*pasang headset, main hape, mengalihkan pandangan ke jalan atau ambil posisi siap tidur pasti jitu!*

 

kalau ada yang seperti ini di Endonesa, saya mau coba!

5 thoughts on “Antara Bus dan Kereta

  1. Gila!!! itu poto trakhir bagus banget, kayak RV nya orang2 kaya gitu… asik bener!!!
    tapi aku lebih milih naek kreta dari bus, slaen mabok.. juga udah ada rel-nya, jadi nggak ‘ngebut’ hahaha :D
    mungkin akan lebih enak lagi klo jendela kreta bisa jernih, jadi pemandangan bias terlihat Indah :)

    • wah kalo kayak kereta di eropah gitu ya aku milih kereta mbaaak!!!hahahahha!Yang diliat banyak, jendelanya besar, tempat duduknya keliatannya luas dan nyaman mirip kompartemen di Harpot gituulah heheheh! Kalo kereta jepang..kayaknya gak ya…kecepetan! wkwkwkkwkw

  2. kok jadi timbul pertanyaan ya di kepa aku nih mbak… kira2 waktu kecil mbak Elga suka buat gambar BUS di dinding juga gak ya,,, ?? kayak adik aku yang kecil tuh, dinding ruang tamu penuh ama gambar BUS, mungki ani karena bawaan dari kecil yang sering banget diajak pulang ke Jawa menggunakan BUS.

    aku juga lebih suka naik bus ketimbang pesawat… bukan karena gak pernah (emang gak pernah) hehehehe tapi karena perjalanan menggunakan bus lebih mengasikan, apa lagi kalo pulang kampung, perjalanan panjang 2 hari 2 malam gak terasa apa2…

Jadi, bagaimana menurutmu?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s