Bu Edin


nextreads.com Saya tiba-tiba teringat pada seorang guru semasa SMA saat membaca puisi Sapardi Djoko Damono (1973) berjudul “Di Kebun Binatang”. Sebait puisi yang bagi saya sangat janggal menafsirkan makna konotasinya saat itu membuat saya mengingat…Bu Edin.

Saat itu, saya ingat kami sedang duduk di kelas dan mendiskusikan interpretasi sajak “Mata Pisau” di mata pelajaran Sastra Indonesia. Saya tak memperhatikan pengarangnya ketika itu. Waktu sampai pada sebuah kalimat “Lelaki muda itu seperti teringat sesuatu, cepat-cepat menarik lengan istrinya meninggalkan tempat terkutuk itu“, saya bingung. Tak paham apa kaitan seorang istri yang melihat seekor ular di kebun binatang, mengatakan “alangkah indahnya kulit ular itu untuk tas dan sepatu!” bisa ditafsirkan sebagai sesuatu yang terkutuk.

Saat itu sih saya mikirnya, “Oohh..mungkin si suami takut diminta membelikan tas dari kulit yaa?” hehehehe :D Padahal kalau dipikir sekarang, mungkin ular adalah representasi dari “godaan” seperti dalam Kitab Suci. Bu Edin mengatakan hal semacam itu namun saat itu saya tidak paham.

Saya mengenal beliau sewaktu ia mengajar mata pelajaran Bahasa Indonesia, sastra khususnya. Saya lupa apakah pernah bertemu dengannya sewaktu kelas 1 dan 2, namun yang pasti ingatan tentangnya sangat kuat sewaktu saya kelas 3: kelas Bahasa.

Teman-teman sekelas mengatakan saya mirip dengannya. Hanya karena faktor sama-sama berambut pendek dan memakai kacamata. Bu Edin dikenal sangat “killer” karena ibu satu ini tidak kenal basa-basi, orangnya tegas dan sedikit kaku (mengingatkan saya pada seorang dosen di masa kuliah saat ini :D). Humor terakhir yang saya ingat darinya adalah saat ia memberitahukan bahwa kalau anak perempuan jangan mencat tembok kamar dengan warna biru. “Kenapa Bu?” tanya anak-anak waktu itu. “Nanti tidak laku“, jawabnya. Hehehe gawat donk, padahal waktu itu saya mencat tembok kamar saya di rumah dengan warna langit bermotif awan :D

Tapi, entah bagaimana, saya menyukainya. Saya punya selera kekaguman yang aneh pada orang lain. Saat banyak orang memandang sebal seorang guru karena dia sulit, kaku dan perfeksionis…saya malah mengagumi beliau. Aneh ya..

Bagi saya, Bu Edin memang orang yang sangat serius. Tapi ia sangat menguasai apa yang diajarkannya. Saya mengenal banyak karya sastra dari beliau sehingga tertarik mencari buku aslinya. Banyak penggalan atau petikan cerita di buku teks Bahasa Indonesia yang kami gunakan saat itu. Tapi dengan ulasan bersama Bu Edin, saya makin tertarik untuk baca sisanya secara utuh. Di saat itulah saya mengenal Sapardi, Pramoedya, Hemingway, V.Lestari dan banyak lagi sastrawan lain yang karya-karyanya spesial :)

Teman-teman lain mengejek saya habis-habisan waktu saya mendapat nilai tertinggi untuk ulangan interpretasi puisi :D Hahaha! Saya ingat betul saat itu soal yang diberikan adalah membuat interpretasi puisi Chairil Anwar yang berjudul “Cermin”. Saya lupa persis judul dan isinya. Tapi di lembar penilaian saya mendapatkan nilai 100 yang dicoret menjadi 90. Aaahhh..seketika itu juga perasaan saya mengembang gembira.

Bukannya protes atau mempertanyakan mengapa nilai saya diturunkan, saya malah ingin melompat-lompat bahagia. Bagi Bu Edin (mungkin), yang dapat nilai sempurna itu tidak akan pernah ada. Kesempurnaan milik Tuhan (mungkin lho ya). Jadi melihat coretan itu, mungkin Bu Edin terpeleset ingin memberi saya nilai sempurna hehehehhe…senangnyaaa!

Makanya saya dicap aneh.

Saya sih maklum saja :) teman-teman, dan juga orang lain mungkin, tidak terlalu menyukai sastra yang rumit. Mungkin kalau dipikir, buat apa sih mencari makna puisi? Toh makna puisi bukan jaminan masuk universitas atau dipakai di pekerjaan. Ya kan? Mmm…tapi apa boleh buat, saya mencintai dunia kata-kata sejak lama, maka menafsirkan makna puisi seseorang membuat saya tertantang dan juga…tenggelam. Makna di balik karya sastra yang bagus selalu berhasil menahan nafas saya di tenggorokan selama sepersekian detik untuk tidak terhembus…

Meskipun saya sering mendapat nilai bagus di mata pelajaran Bu Edin, saya tak yakin bahwa saya adalah murid kesayangannya. Meskipun banyak teman yang bilang begitu. Saya rasa, Bu Edin bukanlah seseorang yang menyukai seorang murid secara khusus. Tidak. Saya pun hingga lulus tidak menjalin komunikasi yang cair dengan beliau. Tapi…saya ingat pernah dipilih sebagai salah satu dari beberapa kelompok untuk merepresentasikan sebuah puisi dalam drama pendek di depan kelas. Saya lupa itu tugas kelompok atau bukan, tapi itu tentang kematian atau di depan sebuah kubur. Melihat reaksi Bu Edin, saya rasa beliau cukup menyukainya.

Kenangan terakhir yang menegaskan saya telah menggoreskan sedikit kesan di mata Bu Edin adalah saat kami bertemu secara tak sengaja. Saat itu saya sudah lulus, saya melihatnya sedang bersama putrinya (Bu Edin hamil waktu saya SMA dan melahirkan sesudahnya). Lalu ia mengatakan pada putrinya agar balik menyapa saya,” Ini lo mbak Elga…

wallcoo.com

Ah…dia ingat nama saya…

 

love,


11 thoughts on “Bu Edin

  1. Bahagia bgt ya rasanya kalo kita msh diingat sama seseorang, apalagi sama guru/dosen kita.. Menurutku guru/dosen itu pasti ga pernah lupa sama anak didiknya, kadang malah kita yg lupa! :P

    Iyaaa pelajaran Bahasa Indonesia itu susah sekali, terutama menafsirkan makna puisi, hahaha! :P

    • hahahha..biasanya yang diingat ya yang sudah di ujung tanduk mbak..eh..maksudnya dah mau lulus #amiiinnnnn#
      Iya, sebenarnya penafsiran puisi itu kan subjektif sekali, jadi sebenarnya ya ga ada patokan nilainya hahahah! pantesan nilai saya dikurangi, baru nyadar ini! :D

  2. he2.entah ak diinget ntah gak,tp bu edin emang pribadi yg unik,n menurutku,yg unik itu pasti menarik n bkin kt selalu dapat “sesuatu”..,bu edin mantaplah

    • kalau dulu sih kita anak2 bahasa pasti diinget Rix..cuma sekarang pasti dah lupa hahahah!
      kapan tuh aku ketemu Bu Kireni di Panti Rapih, dia jenguk sodaranya. Eleh..eleh..masih seger aja nih ibu!

Jadi, bagaimana menurutmu?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s