Hari-hari yang menggelisahkan


Inilah waktu itu, ia menghadangku.

disitulah aku terhenti. Memeriksa hati, mencari bibit gelisah. “Mengapa aku tiba-tiba membencinya yang mulai berteriak di telingaku?

menengok likuk jalan yang ada di belakang, memandang luasan terbentang di depan.

Si waktu mulai usil mengganggu, “hei, apakah kamu tak mau tahu jawaban atas pertanyaan?” tanyanya licik. Aku tak bisa menolehkan wajahku padanya. Aku takut ia akan menamparku.

segalanya adalah kemungkinan. segalanya dipertaruhkan. segalanya mungkin hanyalah mungkin.

seandainya ada kata ‘seandainya’

mungkin bisa kugunakan untuk mewujudkan harapan

seandainya ada kata ‘seandainya’

mungkin bisa kupakai mengganjal waktu. (Waktu mulai semakin keras berteriak di telingaku) Betapa aku ingin menyumpal mulutnya dengan batu!

seandainya begini, seandainya tidak begitu

seandainya ada tombol pemercepat adegan. Mungkin aku akan mendapat jawaban

seandainya aku tak mempertanyakan dan terus melaju tanpa mendengarkan

waktu yang berteriak keras di telinga dan menggema di kepala

mungkin aku tak perlu merasakan derasnya hari-hari yang menggelisahkan…

 

 

Jogja, menjelang hari-hari yang mendebarkan adalah hari yang menggelisahkan

 

2 thoughts on “Hari-hari yang menggelisahkan

Jadi, bagaimana menurutmu?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s