N.H Dini dan satu petikan kekecewaan


Sudah lama saya ingin menulis tentang ini. Tentang Ibu N.H Dini, penulis yang sangat saya kagumi hingga kini. Tentang satu petikan pertemuan dengannya.

Tapi entah apa yang menahan saya tak kunjung merenda kata…sampai sekarang. Sampai saat jari menekan tuts huruf, beragam perasaan membaur dan menerbitkan satu rasa gelisah yang herannya, adalah campuran perasaan aneh, kagum dan kecanggungan.

Pertama kali mengenal karya Nurhayati Sri Hardini atau yang lebih dikenal dengan nama pena N.H Dini adalah ketika saya SMP. Pelajaran: Bahasa Indonesia, kelas: 2-C, guru: Ibu Palupi, tugas: meresensi novel karya sastra.

cover lama th.1988

“Langit dan Bumi Sahabat Kami” adalah pilihan pertama yang saya baca. Perpustakaan sekolah negeri dengan koleksi terbatas dan tak terurus membuat saya tak punya banyak pilihan. Saya memang suka baca, tapi itulah pertama kalinya saya berkenalan dengan karya sastra. Pengalaman pertama saya ternyata adalah karya N.H Dini dan saya…jatuh cinta.

Saya memilih buku itu dengan pertimbangan jumlah halaman sebenarnya hihihih :D Tidak terlalu tebal untuk pemula dan tidak terlalu tipis untuk murid yang terlalu semangat mengerjakan tugas. Begitu mulai membaca halaman pertama sampai habis, ada satu hal yang saya sadari: Saya mengagumi penulisnya.

Sayangnya, waktu itu tidak jamak foto penulis ditampilkan dalam novelnya, jaman itu juga internet belum merambah kota kecil kelahiran saya. Maka, rasa penasaran ingin melihat rupa penulis tak menemui solusi. Guru saya, Bu Palupi, sempat mengatakan satu hal tentangnya,”N.H Dini itu sepertinya nama samaran, sebenarnya dia lelaki.” Hmm..ya jelas terbukti fakta itu tidak benar saat ini. Tapi ketika itu saya yakin bahwa N.H Dini adalah perempuan. Seorang anak perempuan dengan daya ingat tajam yang bisa mengembalikan ingatan masa kecil dan menyajikannya untuk orang lain.

Sejak itu saya memburu karya-karya lainnya: La Barka, Padang Ilalang di Belakang Rumah, Pertemuan Dua Hati, Sebuah Lorong di Kotaku, Pada Sebuah Kapal dan….nyaris semuanya. Saya menuliskan judul-judul itu tanpa melirik Om Google :D Saya benar-benar menyukai gaya bahasa apa adanya, detil cerita, jalinan konflik yang jika ditarik garis sebenarnya tidak ada grafik tajam tapi tetap menghanyutkan. Pada intinya, kesukaan sudah beralih menjadi rasa memuja. Saya harus bertemu dengannya. Saya ingin menyampaikan langsung betapa saya sangat menyukai semua karyanya dan mengharapkan lebih banyak lagi karya lainnya.

Disitulah semua bermula. Saya mulai mencari aneka informasi tentangnya. Bahkan, ketika saya magang kerja di Ibukota, saya mampir khusus ke Taman Ismail Marzuki hanya untuk mencari kliping data tentangnya. Dari situ saya mengetahui nama anak-anaknya (sebelum dibahas berulang-ulang oleh semua orang), saya juga tahu bahwa bu Dini dalam keadaan sakit bahkan sampai harus menjual lukisan demi biaya pengobatan. Petikan nomor rekening bantuan untuknya saya simpan dalam sebuah catatan. Namun ketika saya coba, ternyata nomor rekening itu “tidak terdaftar.”

Saya lupa urutan kejadian dan pengalaman itu. Semua bertumpang tindih. Entah saya bertemu dulu dengannya, entah saya mencarinya di Taman Ismail Marzuki. Tunggu. Saya bertemu dulu dengannya di sebuah panti wredha di Jogja, lalu saya baru magang kerja. Ya…begitulah urutannya.

Dari sebuah artikel berita saya mengetahui bahwa N.H Dini mendiami salah satu wisma di panti wredha Jogja. Saat itu saya sedang menangani program televisi kampus dan saya mengusulkan mengangkat profilnya sebagai salah satu tayangan. Teman-teman setuju, dan saya pun berangkat mencarinya. Tidak susah menemukan alamatnya, bahkan sesampai disana seorang tukang kebun menunjukkan letak paviliunnya. Saat itu ia tak ada, kami kembali esok harinya.

Saat bertemu, saya masih di balik pagar dan bu Dini memandang skeptis sambil bertanya,

ada perlu apa ya?

Saya gugup. Kami belum merencanakan dengan matang ingin mengangkat profilnya atau sekaligus perpustakaannya. Maka saya katakan,

saya ingin berbincang sebentar bu untuk tugas kampus.”

Dan mengejutkan saya dengan jawaban dingin,

wah kalau untuk ngobrol saya tidak ada waktu mbak, ini besok saya harus ke Jakarta untuk waktu lama.”

Saya masih mencoba lagi bernegosiasi dengan mengatakan ingin meliput perpustakaannya. Tapi beliau tetap menolak, bahkan hanya menjawab dari teras rumah. Ia mengatakan kalau saya ingin tanya-tanya tentang perpustakaan langsung saja ke pengurusnya.

Kelu.

Ini adalah pertama kalinya saya menemui orang yang sangat ingin saya temui dan yang saya terima adalah penolakan.

getir.

Tapi mungkin sebenarnya bu Dini adalah orang yang paling tidak mengenal basa-basi. Ia tak peduli kata orang dan itu sudah terlihat dari kerasnya sikap yang diperlihatkan tokoh-tokoh dalam novelnya.

Keesokannya saya membawa beberapa oleh-oleh khas dan beberapa bumbu mentah untuknya. Saya masukkan sebuah pesan ke dalamnya, tanpa alamat balasan. Saya titipkan pada tetangganya yang dengan senang hati berjanji menyampaikannya. Mereka bertanya mengapa tak langsung saya berikan saja padanya, orangnya toh ada di rumah. Jadi tentang ke Jakarta itu… Tak apa, saya langsung paham. Mungkin Ibu Dini tak suka orang asing. Maka setelah menyampaikan terima kasih pada tetangga saya pun pamit.

Kemudian saya mengenal seorang teman pena sesama penyuka karyanya: Mbak Shirley Theresia.

Kami berkenalan di Friendster dan saya lupa mengapa. Kami langsung terlibat percakapan tentang N.H Dini dan saya sedikit curhat tentang pertemuan itu. Tapi satu hal yang terlihat jelas: Kami memang benar mengagumi karya beliau dari lubuk hati. Tidak peduli bagaimana kepribadian sebenarnya sang novelis.

Pada saya mbak Shirley mengatakan akan mengunjungi rumah bu Dini di Semarang dan saya ingin menitipkan sesuatu juga. Waktu itu saya sempat mengirimkan sebuah mug bergambar kebun bunga karena saya dengar Bu Dini menyukai berkebun, namun kiriman paket itu kembali karena penerima pindah alamat…ke Semarang. Saya membuat sebuah kartu ucapan…saat itu saya sedang magang di Jakarta. Saya juga cerita tentang penemuan saya pada Mbak Shirley dari klipingan TMI.

Ulang tahun Bu Dini hanya empat tahun sekali karena jatuh pada 29 Februari. Saya rasa itu mungkin mempengaruhi kepribadian uniknya. Jarang sekali bukan? Ya, singkat cerita, Mbak Shirley melaporkan pertemuannya pada saya. Ia memberikan sebuah kaos untuk Bu Dini yang diterima tapi langsung dikatakan akan diberikan pada saudaranya sebab ia tak suka memakainya. Wah, benar-benar terus terang. Saya sangat kagum padanya sekaligus tahu perasaan mbak Shirley saat itu. Bu Dini bukan idola yang harus memberi senyum terbaiknya, ia adalah seorang penulis sastra yang sangat langka dan untuk itulah kami yang menghormatinya.

Begitulah, hingga saat ini satu episode pertemuan di suatu sore itu masih melekat di benak saya. Tapi saya tetap meneruskan membaca semua karyanya dan berharap masih ada lainnya setelah La Grande Borne dan Argenteuil yang merupakan seri kenangan masa dewasanya.

Saya masih ingat petikan ucapan surat saya:

“Semoga Ibu selalu sehat dan terus menulis…”

N.H Dini

 

Jogja, dengan hormat dan harapan untuk seseorang yang begitu berani dalam hidup…

 

 

 

 

Untuk Mbak Shirley Theresia, sesama pecinta karyanya

Untuk Mbak Aldriana Amir, seperti yang sudah saya janjikan…ini lo…:D

8 thoughts on “N.H Dini dan satu petikan kekecewaan

  1. Elgaaaa, makasih ya udah berbagi cerita di sini.. Aku terharu baca kisahmu ini.. Terharu krn ketulusan kamu dalam mengaggumi karya2 Ibu Dini :)
    Aku jd pingin beli dan baca lg novel karya N.H. Dini dg cover buku yg baru2 itu, walo cover lama jg ga kalah keren ya! :D

    Ah Elga, tulisanmu itu loh, bagus! Aku suka. Ditunggu review buku2nya N.H. Dini ya ;)

Jadi, bagaimana menurutmu?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s