Termakan khasiat makanan


Saya ini sangat pemilih. Salah satu sifat buruk dari ribuan yang saya miliki. Saya hanya makan banyak kalau rasanya enak.

Dan jujur saja, saya tersenggol dengan ucapan bahwa makanan seenak apapun toh juga berakhir di jamban. Mengerti maksudnya kan? Tidak, jangan minta saya menjelaskan. Saya ini paling pemikir…bisa mual hanya dengan mengatakan hal-hal semacam itu. Soalnya otak saya langsung memproyeksikan gambarnya. Jadi maaf, saya bukannya sok atau gimana…tapi saya paling ga bisa dengar bercandaan yang melibatkan visualisasi kotoran…maaf maaf.

Nah, intinya, pernyataan di atas itu mengatakan bahwa kita ini pada hakikatnya tidak boleh pilih-pilih makanan. Saya makin merasa bersalah kalau ditambah dengan ucapan seperti,”Kamu harusnya bersyukur masih bisa makan, ada banyak orang kelaparan di luar sana…” Hiks…hiks…sungguh sumpah saya tidak bermaksud menyia-nyiakan makanan. Saya hanya…sulit menelan….(T_T) #teringat catatan perjalanan Tetsuko Kuroyanagi di Afrika#

Tapi, ternyata saya bisa dibujuk dengan satu hal: khasiat makanan. Biarpun sulit ditelan, kalau ada khasiatnya…kemungkinan besar saya bisa dibujuk untuk makan :D

Contohnya ya, saya ini sebenarnya tidak terlalu suka madu dan susu. Tapi karena dibilang baik untuk kesehatan, ya saya paksakan juga meminumnya. Madu itu terlalu manis dan beraroma aneh, tapi kalau dicampur dengan air hangat dan sedikit perasan lemon/jeruk nipis enak juga kok. Kalau susu, tanya ibu saya bagaimana sulitnya membujuk saya minum susu waktu kecil dulu.

"susu beruang itu" dipinjam dari bear-min.blogspot.com

Saya benci susu putih, kalau minum harus yang susu coklat. Padahal dulu ibu saya dapat suplai susu skim putih impor yang gizinya sangat bagus buat pertumbuhan. Saya hanya sanggup minum satu gelas belimbing kecil dengan memencet hidung dan menghipnotis pikiran bahwa itu bukan racun! Sekarang, saya masih begitu dengan susu beruang kalengan yang dijual di toko-toko. Tapi lagi-lagi…yang penting khasiatnya bung!

Saya juga benci kecambah dan tidak suka tomat mentah. Tapi saya bisa paksa makan karena dibilang baik untuk pencernaan dan antioksidan hehehe

Tapi oh tapi…saya ini juga sangat percaya bahwa makanan yang fresh alias segar alias bahasa lainnya “yang cenderung agak MENTAH” adalah makanan yang paling banyak gizinya. Ini juga yang jadi penyebab saya sulit makan selama menjabat status anak kos-kosan.

Kalau makan di warteg atau warung apapun, saya kan tidak tahu sayurannya dimasak berapa lama kok sampai terlalu empuk begitu. Atau sudah dihangatkan berapa kali sampai hari ini :D Saya juga percaya bahwa vitamin banyak berkurang kalau dipanaskan.

Makanya, kalau makan bakmi Jawa saya mbatin, “ini tomatnya masih bergizi gak ya?empuk banget gini…” Hahahaha di balik kontradiksi sikap praktis versus skeptis dan cara berpikir ribet yang saya miliki saya hanya berpikir,”buat apa makan makanan yang gak ada gizinya?malah nyampah…” hahahaha! Tolol banget deh ah!

Udah…makan aja ga usah banyak cingcong…di luar sana masih banyak yang ga bisa makan cong!

Saya cuma bisa berjanji untuk berusaha…akan mengambil porsi secukupnya yang bisa saya habiskan dengan bertanggung jawab. Menyia-nyiakan makanan itu mubazir, begitu juga dengan kesulitan menelannya. Maafkan saya…

 

roti gandum, salah satu jenis yang susah ditelan

Jadi, bagaimana menurutmu?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s