Bertemu Pak Bondan di Kopitiam Oey


 

Kopitiam Oey tampak depan by Budi N.D

Waktu menghadiri nikahan seorang teman semasa SMA kemarin di Solo, saya sempat mampir di Kopitiam Oey, Jl. Perintis Kemerdekaan No. 35, Solo. Ya memang dasarnya bareng-bareng sama geng kedai kopi (yang punya kedai, pacarnya yang punya kedai,baristanya, temen baristanya, dan tentunya saya…salah satu pelanggan setia), kalau cari tempat nongkrong tidak bakal jauh dari kopi-kopi hehehe…

Jadwal yang kami susun serombongan itu sungguh luarrrr biasa! Hey, apakah dirimu mendengar nada ironi di situ? :) Tema utama kami ke Solo jelas: menghadiri resepsi pernikahan sahabat. Di undangan ditulis, resepsi dimulai jam 11am. Tapi 11.30am kami masih ada di..Klaten! hahahaha! Lalu niatnya setelahnya mau mampir Pasar Klewer. Saya curiga event ini sebenarnya ditunggangi oleh kepentingan terselubung para pemilik butik online!Hah! Dasar, kami yang bukan bakul,penjual, ini sebenarnya cuma disuruh menemani kulakan,beli stok dagangan!Yang tak dinyana dan tak dihitung sebelumnya adalah…Pasar Klewer Solo sudah mulai tutup kalau anda kesana di atas jam 2pm! Wakakakakk! Saat kami kesana semua penjual sudah siap-siap memberesi dagangan. :D

Ya sudah! Kami harus ke pemberhentian berikut: Kopitiam Oey. Ini juga diluar rencana sebenarnya. Tapi saat memasuki kota Solo teman saya sudah ancang-ancang googling informasi dan letak lokasi warung itu. Katanya tempatnya sangat nyaman dan homy. Saya, yang notabene hanya penumpang-duduk di belakang-bersifat layaknya barang, jelas manut saja. Lagipula saya belum pernah kesana, jadi hayuk saja!

Kopitiam ini ternyata miliknya Pak Bondan Winarno. dan saya adalah orang yang paling ketinggalan info. Klop!:D

No matter what, kami berlari dari parkiran melipir menuju pintu masuk di tengah amuk hujan. Benar-benar deras! Begitu masuk kami disambut oleh mbak waitress ramah yang menanyakan kami ingin duduk di dalam atau luar? Wah…bangunan lama yang bagus, pikir saya. Saya selalu suka rumah-rumah warisan Cina atau Belanda lama. Meski terkesan tua, tapi…nyaman. Dindingnya lebih tebal daripada rumah jaman sekarang, dengan jendela lebih besar pula. Sirkulasi udara yang lancar memang membuat perasaan lebih senang!

Saat menengok di teras belakang, ada bapak-bapak sedang asyik dengan BlackBerry-nya. Saya hanya langsung melewatinya dan menyapa dua orang perempuan yang sudah duduk disana. Soalnya saya mengingat mereka sebagai sesama tamu di resepsi. Salah satu perempuan itu memberi isyarat bahwa ada sesuatu dengan si Bapak tua. Baru saya perhatikan…woalaaah! Si Bapak adalah Pak Bondan sendiri rupanya! Hahhahaha!

Ternyata, Pak Bondan sering mengunjungi usaha miliknya ini. Pertama kali mendengar sapaannya, saya mendengar sedikit kekakuan formal dalam suaranya. Tapi tidak berapa lama, pendapat itu sedikit memudar. Ia menghampiri meja kami yang berderet-deret memenuhi teras akibat gabungan paksa :) lalu mengucapkan salam dan mau pamit pergi. Sebelumnya seorang waitress tanya apa kami ingin foto dengannya? Ah, jelas mau! Kapan lagi? hahahaha! Jadilah kami berdempetan foto dengan beliau.

 

rame-rame dengan Pak Bondan by Budi N.D

sekali-sekali narsis gak papa… :D

Saya agak memaksa seorang teman yang bawa kamera bagus untuk memotretkan kami berdua. Hehehe! Soalnya saya sangat suka tulisan kulinernya! Saya tidak memiliki perasaan khusus dengan acara Wisata Kuliner yang Pak Bondan bawakan, tapi sebagai wartawan…dia benar-benar mengagumkan! Jejak pengalamannya sebagai jurnalis tertera benar pada tulisannya yang lancar, mengalir, menghanyutkan dan infromatif! Itu lhooo! Saya pengen bisa menulis seperti itu! Kalau mau baca salah satu tulisan kuliner dia, hati-hati tidak sadar meneteskan liur :D Saya saja langsung lapar hanya gara-gara baca tulisannya tentang…telur. #kukuruyuukk..thok-pethok!Ugh, berisik!#

Eh, apakah saya perlu menunjukkan detil pesanan kami disana dengan harganya? Rasanya sih tidak perlulah ya… Yang jelas seperti yang tertera pada papan nama dengan gambar pak Bondan, “Koffie Mantep, Harganja Djoedjoer” harga makanan minuman disana masih terjangkau kok…untuk sekali sebulan mampir kesana heheheh! Soalnya memang nyaman sekali duduk di kursi kayu model lama sambil memandang hujan membasahi teras belakang. Atau duduk di sudut ruang dalam, ditemani lukisan Noni dengan kipas serta berbagai media iklan lawas. Teman saya sibuk memotreti hiasan gantung itu satu-satu, tak lupa mencatat kata-kata dalam ejaan lama yang tertera disana. Hahahah! Khas sekali! Salah satu iklannya tentang minuman anggur dan diawali dengan pertanyaan, “Toean tidak enak badan? tidak enak makan? Apa Toean merasa tidak sakit namoen juga tidak sehat? Maka Toean harus mulai minoem Anggoer W..bla..bla..bla” Hahahah! Kalau jaman sekarang itu nama penyakitnya: Jatuh Cinta, Patah Hati, Stres, atau Masuk Angin! :D

Eh, kalau mau tahu banyak soal menu Kopitiam Oey…monggo kunjungi saja situsnya, atau blogwalking seperti yang saya temukan disini. Omong-omong, nama Oey itu kan dibaca “Wi” dalam ejaan lama, jadi itu nama pemiliknya: Bondan Oeynarno! hahahah!

Saya sadar….sebenarnya yang saya lakukan ini bukan resensi tempat jalan-jalan! Hahahhaah! Maafkan sayaaa! Soalnya saya terlanjur terlena dengan tempatnya. Ada penutup bak truk warna merah menyala yang digantung di dinding dekat kasir, ornamen sangkar burung sebagai penutup lampu dan kipas angin baling-baling besar di setiap plafon ruangan membuat saya betaaah. Jadi, saya tidak mempermasalahkan rasa, harga atau bentuk sajian makanannya :) Tapi saya cerita sedikit saja ya tentang yang saya icipi saja.

Ijs teh daon mint alias Traditional Moroccan ice mint tea

dalam lidah saya, teh yang disajikan tak ubahnya teh celup biasa yang diseduh dengan daun mint segar. Meski saya pesan yang versi panas, tetap terasa semwriwing dingin mint di kerongkongan. Selebihnya? sungguh, ya sama dengan teh-teh lain. Kadang saya ngotot ingin mencicipi aneka jenis teh terkenal dunia: Darjeeling, Earl Grey, Assam, dan lain-lain. Ini gara-gara pengaruh komik “Prince of Tea” sih! Padahal lidah saya ini tidak bisa membedakan! Teh ya teh, yang beda kalau dikasih aroma semacam melati, buah atau rempah :D

Chai atawa teh boemboe India alias Indian masala tea

Nah, kalau ini adalah hasil icip-icip pesanan teman saya. Sebenarnya ya bahasa lainnya teh ini adalah….teh tarik! Alias teh yang dibikin pekat ditambah susu dan sedikit rempah lainnya. Saya kurang suka jenis ini soalnya…ditambah susu! Teh kok ditambah susu! heheheh..selera pribadi yang menyesatkan. Jangan percayai saya!

Roti canai kari ajam alias Roti chanai with chicken curry

Ini juga hasil nyolong icip pesenan teman. Roti Cane dan Kari…bukan hal yang istimewa sih. Tapi bolehlah buat pengganjal perut lapar. Kata seorang teman bumbu karinya malah mirip masakan Padang sih hehehe…tapi berhubung saya sudah pernah icip kare kambing plus roti canai mentega di resto khas India, lidah saya agak meremehkan kari yang ini. Ups… Ada harga ada rupa lah ya!

Singkong goreng sambal Roa

Nah kalau ini…sedikit asing, unik tapi bolehlah. Kalau tidak terlalu doyan ikan, mungkin tidak akan terlalu suka sambal ikan roa yang disajikan bersama singkong goreng ini. Bagi saya pribadi, makan singkong goreng pakai sambal saja sudah sedikit aneh apalagi pakai sambal yang rasanya mirip sambal teri hehehe! Tapi di suatu sore berhujan, apalagi nikmatnya kalau tidak ditemani secangkir minuman panas dan…gorengan singkong? :D

Lain-lainnya:

Sebenarnya banyak yang ingin saya icipi di sini. Tapi perut saya tidak terlalu lapar untuk makanan berat sementara kalau banyak pesan lalu tak dihabiskan…kok ya eman :D (Alesan aja lu! Bilang aja lagi cekak dompetnya! :D). Salah satu perempuan tadi yang setelah kenalan namanya Pelangi, bilang kalau tadi Pak Bondan memesan sebuah menu yang baunya sedap sekali. Setelah diingat lagi, ternyata Pak Bondan pesan Soto Tangkar Pipi Sapi. Hmmm..mungkin yang satu ini recommended untuk dicoba lain kali. Tapi…pipi Sapi? :D

Lalu ada menu Wiener Melange yang kata mbaknya terdiri dari es krim vanilla dengan espresso untuk kudapan. Ada juga Pisang Ala Mode yang katanya pisang digoreng dengan saus coklat plus es krim di atasnya. Padahal di kedai ini khasnya adalah kopi, tapi saya malah tidak coba atau mencicipi sama sekali.

Ah…masih ada lain kali..

 

kapan lagiiiiii?? by Budi N.D

PS: Maaf, adanya malah foto-foto diri…dasar narsis tak tahu diri :)

 

Cheers!

6 thoughts on “Bertemu Pak Bondan di Kopitiam Oey

      • oooowww~~~ beneeeerrr *pengen banget*
        oh, pangeranku… bagaimana caranya aku bisa berjumpa denganmu???? XD
        beli sendok perak mahal nggak ya?
        bisa beli satuan?
        koq dkomik ada aja ya, yang punya sendok perak… nggak lazim >,<

  1. foto foto foto foto!!!! :D
    waaa~~~ asik banget tuh kayaknya tempatnya… ajak2 lah, Ga, klo ksana lagi, hehe~

    btw, klo pesen darjeeling, earl grey ato assam… bisa brubah jadi cowok keren kayak assam nggak??? HAHAHAHAHA

Jadi, bagaimana menurutmu?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s