Enjoying moment…


“The best way to pay for a lovely moment is to enjoy it..”

-Richard David Bach-

moment that hard to capt

Kalimat di atas saya temukan pada tepi bawah notes bonus majalah. Kalau dipikir…betul juga ya. Saya sudah lama tidak menikmati momen yang saya alami dengan ‘sungguhan’. Memangnya, gimana sih menikmati momen dengan sungguhan?

Kalau ditelaah lagi #ciehhh..ditelaahhh :P# sebenarnya akhir-akhir ini kalau melihat sesuatu yang bagus atau sedang melakukan sesuatu yang menyenangkan, kita inginnya cepat-cepat mengabarkan ke orang lain. Ya atau ya? Mungkin istilahnya broadcasting your precious moment…heheheh!Buru-buru deh nulis status: “Lagi makan ini di sini, enak deh” atau “Lagi sama ini dimana lihat apa, bagus deh” atau “Viewnya bagus banget (tambah unggahan foto)”.

Tapi…apakah momen-momen semacam itu benar-benar terasa lezat di relung hati? :)

Saya sempat membaca entah dimana atau seseorang menceritakan pada saya. Saat itu seseorang sedang melihat matahari terbit dari lereng Bromo. Untuk mencapai momen yang pas, para pendaki memang harus mau susah-susah dulu. Bayangkan saja kita yang sedang malas bangun pagi, maunya ngeruntel di dalam selimut sampai cahaya jadi terik, harus menembus kabut subuh menuju puncak Bromo. (Saya ngomong kayak sudah pernah, padahal ya belom..sumpah!). Nah, ketika perlahan sinar merah mulai muncul…itu (katanya) benar-benar breathtaking…literally! Jadi hati-hati kalau ke Bromo, pulang-pulang bisa masuk dalam peti hihiihihih!

Nah, sayangnya…banyak orang memilih untuk…mengeluarkan kameranya (kamera pocket, hape, pro,lomo,de-el-el) untuk berusaha membekukan momen itu. Padahal setahu saya…tidak ada yang mengalahkan lensa mata kita. Sudah ada ribuan foto tentang sunrise dan sunset di Bromo. Seandainya ingin merasakan kelezatan momen itu sampai terhirup dalam-dalam…letakkan lagi kamera itu dalam saku anda dan nikmatilah momen itu dengan rakus sebanyak yang mampu dirasakan indera. Atau…lakukan jepretan sekali-dua kali, lalu berhenti. Sepertinya momen matahari yang muncul menandai hari hanya berlangsung sekian menit. Tidak lama. Karena itu mungkin hadiah terakhir dari-Nya, kenapa tidak kita terima dengan syukur? Apalagi kalau kita tidak punya kemampuan memadai untuk membuat sebuah momen abadi…daripada sia-sia memotret hasil yang jauuuuh beda dengan aslinya, apa tidak lebih mending kita puas memandanginya saja?

Ups….sepertinya saya sudah melakukan judgement…maafkan.

Tapi jika anda termasuk orang-orang yang lebih memilih update status sepanjang pertunjukkan musik yang seru padahal sedang bersama teman-teman, atau lebih memilih memencet tuts-tuts gadget di tengah obrolan, mungkin kita harus nostalgia sebentar. Orang selalu membandingkan masa lalu dengan sekarang, maka kadang saya juga ingin mencoba membayangkan….

Jaman orang tua atau kakek-nenek kita dulu, orang mengirim telegram indah, kartu pos atau surat dengan foto saat ingin bercerita dengan teman,saudara atau kenalan tentang pengalaman yang ia nikmati. Terdengar old school? Iya dong, sekarang kan cepet. Pakai henpon atau Bebe, dalam sekejap kita sudah bisa melakukan live report tentang apa,siapa,dimana dan kenapa dengan cepatnya. Mungkin sebenarnya wartawan lama-lama sudah tidak diperlukan. Soalnya semua orang bisa menyampaikan kabar sama cepatnya, sama asiknya. Tapi yang beda adalah, dulu orang mengalami semua itu dulu, baru menyampaikannya. Mereka bukan sedang dalam momen dan sekaligus sedang menyampaikannya.

Saya rasa, sekarang ini kita sedang berada pada titik dimana kita ingin melakukan segalanya sekaligus. Saat sedang mengobrol bersama teman, kita juga sekaligus ingin menyelesaikan pekerjaan. Saat sedang bersama keluarga, tetap ingin eksis berkabar dengan teman dan juga melakukan hal lainnya.Saya jadi ingat saat kecil dulu Ibu sering marah pada saya kalau saya makan sekaligus membaca majalah dan menonton televisi. Saya terlalu rakus saat itu. Ingin menonton kartun kesukaan, membaca cerita lanjutan di majalah kesayangan sekaligus…makan. Apa yang saya rasakan? tidak ada. Saya tidak sadar dengan kesadaran penuh akan bentuk makanan yang saya telan atau siaran yang saya perhatikan. Padahal Ibu sudah susah payah pulang awal dari kerja, masak untuk saya dan saya mengabaikan rasa ‘cinta’ yang sudah ia bubuhkan dalam makanan yang saya telan.

Begitu melihat apa yang terjadi saat ini pada saya, pada teman-teman saya, pada orang-orang lain dalam jangkauan pandang mata saya…saya sedih. Saya merasa diabaikan saat janjian dengan teman ternyata sepanjang pertemuan dia hanya sibuk mengecek henpon atau browsing Bebe. Yang terlintas berkali-kali hanyalah, “Apa saya bukan teman yang menyenangkan ya?” Hemm…entah.

Makanya, terkadang ada rasa nikmat yang aneh saat kita bisa menikmati kesendirian. Tidak perlu memperhatikan obrolan atau memberi tanggapan saat dengan orang lain. Seperti saat menembus hujan sendirian…meski kebasahan dan kedinginan. Tapi seperti ada waktu yang berhenti saat jarak pandang saya dikaburkan oleh derasnya air yang berjatuhan. Seakan dunia melarut dan hanya ada saya…serta perasaan dan pemikiran.

Selalu ada rasa rindu saat melihat keindahan masa lalu…

3 thoughts on “Enjoying moment…

  1. betul juga. aku juga baru sadar… walo pasti aku dengerin apa yang lagi temen2ku obrolin, tapi tetep aja ni tangan usil maenin hape *huft*
    aku harus lebih toleran :)

Jadi, bagaimana menurutmu?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s