Gugup saat wawancara


Saya selalu mengalami hal yang sama menjelang wawancara: GUGUP.

Katanya, reaksi ini sebenarnya normal dan pasti dialami oleh setiap orang yang sedang “diuji” dalam sesi tanya jawab semacam itu. Entah pekerjaan, entah beasiswa, entah kesempatan magang…kegugupan itu tidak terelakkan.

Padahal, saya merasa cukup percaya diri dengan kemampuan yang saya miliki. Namun saat diharuskan berdiri menghadapi mata-mata pewawancara, degup jantung yang makin kencang tak bisa dihentikan. Karena saya yakin perasaan yang dialami setiap orang berbeda, maka kali ini saya akan mencoba menganalisis perasaan gugup itu dari sudut pandang saya :)

Wawancara duduk dan wawancara berdiri

Eh, ini maksudnya adalah posisi tubuh kita sebagai terdakwa yang diwawancara ya :P Saya merasakan ada tekanan lebih besar pada saat saya menghadapi pewawancara dalam sikap berdiri. Pertama, kegugupan saya akan makin kentara dengan mengubah-ubah posisi tumpuan kaki. Kedua, saya tidak mendapat garis lurus pandangan mata ke arah wajah pewawancara. Mereka duduk, saya berdiri. Makin gugup? sudah pasti. Saya merasa lebih tenang dan rileks saat dalam posisi duduk. Setidaknya saya bisa memoles kegugupan dengan sikap duduk sopan: tangan ditangkupkan santai (diusahakan begitu!) di atas pangkuan, posisi kaki coba dibenahi sesopan mungkin :D

Jumlah Pewawancara

Berhadapan langsung empat mata dengan seorang pewawancara (bagian HRD misalnya), pastiii rasanya beda begitu berhadapan dengan…tiga atau empat pewawancara sekaligus! Huaaa rasanya seperti sedang di persidangan dan kita dihadapi oleh hakim, jaksa penuntut, wartawan, pencatat berita acara, dan juri! wakakkakak…kalau gugup akut biasanya tanpa sadar kita akan sering mengusap hidung…berkeringat sihh. Kederrr…:D Tidak ada tips untuk yang ini selain: Maju terus gan! Sambil sok rileks dan sok cool!

Giliran wawancara

Memang tidak enak menunggu dipanggil dalam waktu lama. Deg-degannya makin terasa. Apalgi melihat ekspresi pelamar lain yang sudah lebih dulu masuk  dan keluar: ada yang percaya diri, ada yang lemas. Efeknya ke kita? campur aduk mirip nasi uduk! Kalau dapat giliran pertama dipanggil sisi menyenangkannya adalah: cepat selesaikan lalu keluar. Mirip ibu-ibu melahirkan, lebih cepat lebih baik :D Tapi kalau dapat giliran terakhir? Jangan dikira tidak ada efek positifnya lo. Karena sudah bosan menunggu, lama-lama kita tidak lagi peduli pada rasa gugup itu. Makin lama makin terasa…biasa saja. Efeknya bagus: kita jadi lebih tenang dan lancar ngomong karena sudah tidak mikir apapun heheheh :D

Saya pernah mengalami kejadian yang mirip ini. Waktu masuk organisasi pecinta alam di awal kuliah, kami dilatih SRT (Single Rope Technique) untuk turun ke gua vertikal. Latihannya sih cuma naik turun 15 meter, tapi gua yang dipakai praktek adalah….JOMBLANG! What the hell! Saya, yang melongok keluar jendela dari ruang lantai 5 saja sudah deg-degan apalagi melongok luweng sedalam…(kurang lebih) 60 meter! Sial! Itu 40 kali lipat tinggi badan saya. Kalau jatuh pasti sakit! #iyalah bego!# Waktu itu, saya kebagian lintasan 1 yang sedikit (katanya) lebih panjang (turunnya) dibanding lintasan 2 dan 3. Alasannya milih lintasan itu? Soalnya, di lintasan yang lain (katanya. lagi-lagi!) ada simpul di talinya sehingga kami harus melakukan teknik perpindahan simpul yang rumit aujubilah! Saya cari aman dengan cari lintasan yang lempeng-lempeng saja.

Seperti perasaan amatir pada umumnya, kalau bisa kita mengulur waktu selama mungkin supaya ada kemungkinan tugas itu dibatalkan hehehehe. Saya milih menunda..dan menunda dan menunda. Setiap kali ditawari turun, saya langsung mendorong teman saya yang lain untuk mendului saya. Karena proses turunnya lama…kelamaan saya jadi mengantuk. Bahkan sempat tertidur gara-gara cuaca terik dan kondisi fisik yang capek sekali. Ketika giliran saya tiba…saya sudah TIDAK MIKIR APA-APA. Masih separo mengantuk saya pasang peralatan pengaman lalu mulai bersiap turun. Saya BARU SADAR sedang berada di ketinggian 60 meter waktu sudah menggantung di tali. Di bawah saya terlihat ada pohon besar yang kelihatannya sudah tua dan ternyata begitu sampai di bawah pohon itu memang tinggi sekali. See? Tidak ada yang perlu ditakutkan dengan waktu yang kelamaan. Hahahahhaha! Yang jelas naiknya lebih susah dari proses turunnya. Cukup sudah! :D

Jadi sebenarnya, tidak ada yang perlu ditakutkan dari proses wawancara. Begitu wawancara sudah selesai, serahkan keputusannya pada mereka (pewawancara) dan nasib! Kalau memang rejeki pasti tidak kemana hehehehe. Tapi bisa juga dimasukkan dalam jilidan pengalaman supaya kita makin kaya jawaban dan bisa ngeles kalau lain kali diberi pertanyaan :D Yang penting senyum harus tetap terpasang di wajah sebego apapun kelihatannya ehehhehe…senyum itu menandakan kita punya (atau dipunya-punyain) kepercayaan diri yang tinggi! :)

Cheers! Senyum doonk..itung-itung latihan buat ujian (pendadaran) Amiiiin!

 

kasihan yaa

2 thoughts on “Gugup saat wawancara

  1. “Cheers! Senyum doonk..itung-itung latihan buat ujian (pendadaran) Amiiiin!”

    Amiiinn~~~ :D

    Jadi biar nggak gugup, mending dapet giliran akhir ya… hahahahaha
    klo cuman ngantuk aja, nggak pa2. klo pake laper, itu sangat susah ^^”

Jadi, bagaimana menurutmu?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s