Bedanya kuliah sama waktu sekolah: menggugat pentingnya IPK


Akhir-akhir ini saya sedang hobi analisa dan suka sesuatu yang berbau-bau serius :D Mungkin ini efek samping dari proses lemburan sekripsi tercinta tiga kali sehari di antara waktu makan, tidur dan mandi. Selebihnya? kali ini saya betul-betul diperbudak si Sukrip itu! Pilihan judul posting kali ini benar-benar terasa ilmiah! Mungkin sebenarnya saya ini pakar wannabe (bukan, bukan pak Wanabe orang Jepang itu, bukan). Sekali-kali boleh lah terdengar serius supaya tampak agak intelek meski tulisan jelek :D hahahhaha! #sesekali ingin pongah#

Jadi, tiba-tiba saya terpikir masalah ipeka (IPK maksudnya sodaraaa) gara-gara kepikiran pertanyaan teman. Suatu kali saya ditanya teman tentang teman yang lain, “Eh, menurutmu dia pinter ga sih?” Nah, berhubung subjek yang ditanyakan itu seangkatan waktu kuliah tapi tidak waktu sekolah, saya jawab dengan normatif diplomatis: “Oohh..kalau dia itu tekun, orangnya rajin.” LHO? Jawaban saya nyambung tidak sih sama pertanyaannya? Mungkin kalau ikut kuis saya sudah gugur di babak pertama, bego sih jawabnya! Ditanya nama jalan dijawab jenis jajanan…Jaka Sembung bawa kendang…Gak nyambung duttt!

Nah, dari situ saya berpikir…mengapa susah menjawab pertanyaan itu? Memangnya orang tidak kelihatan pintar waktu kuliah? Kalau teman sekolah, saya bisa bilang: “Si A pinter di matematika, si B cerdas di pelajaran Bahasa…nilainya selalu sempurna.

Lha kan ada IPK?

Saya rasa, di situlah letak kesulitannya. IPK tidak atau bukan ukuran kepintaran seseorang. Dibandingkan dengan ujian remedi untuk kenaikan kelas waktu sekolah, sebuah mata kuliah bisa diulang berkali-kali kalau perlu sepanjang masa kuliah kalau belum puas sama hasilnya.

Begitulah…

Saya yakin, untuk dapat IPK bagus tidak susah. Sungguh sumpah. Modalnya cuma satu: MAU. Saya sendiri yakin kalau MAU mengulang kuliah agama, saya bisa dapat A. Bayangkan, saya-seorang anak guru agama- cuma dapat C untuk mata kuliah itu. Hahahahha! Tertawalah dengan bahagia! Kenapa saya tidak mau mengulang? Sebab meski nilai agama saya C, saya merasa cukup bermoral dan berbudi pekerti baik plus toleransi antar umat beragama dan jarang dengan sengaja menyinggung SARA. Kurang apa? heheheh…makanya saya merasa TIDAK PERLU memperbaiki nilai itu. Malah tambah biaya. Toh soal-soal yang diberikan sangat textbook alias diktean (mirip jaman SD-hapalan), jadi…percuma menurut saya.

Makanya, begitu kuliah saya tidak bisa membagi jenis mahasiswa menjadi 2: pintar dan tidak pintar. Yang ada justru jenis variasi dan kombinasi: tekun, tekun-pintar, malas, malas-cerdas, ogah-ogahan, cuek-bebek, dan semacamnya. Kalau ada mahasiswa yang menonjol, cuma ada dua alasannya: (1) dia memang berbakat menonjol atau tekun dan niat, yang ke (2) dia cari muka atau bermental artis (Terserah jawab bener atau salah yang penting setor muka dan diperhatikan) :D

Jadi kesimpulannya adalah…Nilai di balik IPK itu relatif. Terserah saja jika seseorang menggaji orang lain atas dasar nilai IPK-nya. Mungkin saja itu berlaku untuk penilaian pertama. Tapi hidup itu adil dan tidak adil. Selalu ada saat dan waktunya sendiri bagi orang-orang yang memang memiliki kualitas diri. Berlian akan tetap bersinar di kubangan empang! Siapa cepat, dia dapaaat! :D

Fiuuhh..lega. Pemanasan selesai, netbook saya sudah merayu-rayu lagi minta dibelai, “Skripsimu sudah kangen tuh.” Sudah ya, saya mau perang lagi dengan senjata pisau analisa dan kapasitas otak yang engga seberapa. Doakan saya yaaa!!

 

Cheers!

Malam minggu yang (tidak terlalu) kelabu sebab ada skripsi kesayangan di sampingku :D

Jadi, bagaimana menurutmu?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s