Mengkaji ulang insiden Kick Andy setelah tulisan menghebohkan


Saya tertarik (lagi) untuk membicarakan hal ini. Saya akan menggunakan otak saya yang sudah disimpan di kulkas seharian, jadi saya jamin tak ada pertunjukan emosi :D

Ada hal menarik dari insiden Kick Andy! yang ramai akhir-akhir ini.

Pertama, saya melihat betapa lucunya orang mengubah sikapnya. Saat membaca tulisan dari sisi ibu Tatty Elmir (TE), banyak yang melayangkan pujian dan dukungan. Tapi begitu klarifikasi dari pak Andi F. Noya (AFN) dikeluarkan, mereka berbalik menuduh si Ibu dengan beragam julukan.

Kedua, saya sendiri membenarkan pendapat Andy yang menyarankan jangan menulis perasaan atas dasar emosi. Setelah saya telaah kembali, tulisan saya tentang hal itu sebelumnya memang terlihat sarat emosi. Setelah saya kaji kembali, ternyata yang membuat saya langsung muntab adalah cuplikan joke-joke yang dilontarkan AFN dalam acara itu. Maka, mungkin saja itu juga yang menyebabkan TE jadi emosi dan menuliskan hal-hal di luar fokus kritiknya.

Dalam klarifikasi poin kedua belas (dari 21 poin!), AFN mengatakan “Dari pengalaman saya sebagai jurnalis selama hampir 30 tahun, tidak mudah membuat narsum (terutama untuk topik yang sensitif atau sulit) merasa rileks untuk menjawab pertanyaan saya.” Di sini saya merasa lucu, candaan yang dimaksudkan untuk merilekskan tersebut dilempar di hadapan banyak orang loh. Saya yakin yang ikut tertawa bukan hanya orang yang ingin ikut “merilekskan” narsum. Lagipula ada “tameng” sebagai jurnalis yang dikemukakan oleh AFN. Ini kalau mau dianalisis pakai teori wacana atau semacamnya, bisa jadi dia menganggap bahwa dengan menonjolkan profesi yang sudah dilakoni puluhan tahun itu, dia mau mengatakan semacam “Hey, saya yang jurnalis lho. Saya lebih tahu cara menghadapi narasumber.” Kira-kira paham arahnya tidak ya? Pemahamannya bebas, saya tidak akan mengarahkan. Yang belum sempat baca klarifikasi panjang tersebut bisa lihat di thread Kaskus ini – lebih seru dengan berbagai tambahan bumbu.

Ketiga, saya bisa melihat (berdasarkan poin satu) ada stereotipe lucu yang bermunculan. Dalam beragam percakapan di media maya (dimana semua orang seolah bebas mengatakan apa saja), Si Ibu kemudian digambarkan cari perhatian, tidak intelek, mengumbar emosi dan tidak berpikir panjang, sementara AFN terlihat logis, sistematis, berpikiran positif dan terbuka seperti yang tergambarkan dalam klarifikasinya (yang 21 poin itu). Seandainya pun memang benar begitu keadaannya (saya ogah terperangkap debat maya mereka), ada kebiasaan yang terbukti dengan begitu: perempuan selalu digambarkan emosian sementara yang lain tidak. Begitu mudah cap “lebay” , “sok penting”, “adu mulut” yang dikonotasikan dengan perempuan. Iya, seolah kami ini sebenarnya tidak punya cukup otak untuk berdebat. Saya bukan mewakili ibu TE atau mendukungnya 100%. Ini cuma murni celotehan tidak penting seorang perempuan kok :D

Keempat, terlepas dari keadaan sebenarnya, saya pribadi menyukai tulisan-tulisan AFN dalam Andy’s Corner. Tapi itu tidak melepaskan dirinya dalam kodrat manusia kan? Dia manusia, bisa salah bisa benar. Bisa terpeleset, bisa belajar. Makanya, sepertinya kita harus mulai belajar bahwa: orang yang kita kagumi, sebagus apapun citra yang dimilikinya…tetap saja manusia. Apalagi imej bentukan media (ini mengapa saya bisa sampai mengidolakan seseorang). Ya lagi-lagi soal utamanya adalah citra. Tidak perlu ngotot membela siapa apalagi atas dasar kekaguman semata. Nyatanya Ariel saja bisa jatuh imejnya :D

Kelima, saya tidak mau ikut-ikutan panjang lebar seperti penjelasan AFN atau terlibat sakit hati Ibu TE. Meski dibilang harus mengkaji dari dua sisi, saya tetap menyatakan sikap ini: saya tidak menghormati segala bentuk “pelecehan” terhadap perempuan. Entah perempuan yang sedang dibicarakan menyanggah dengan mengatakan dirinya tak keberatanlah, entah orang-orang yang mengatakan saya menanggapi ini terlalu seriuslah. Segala bentuk ketidaknyamanan bisa dikategorikan sebagai pelecehan, kalau-kalau anda belum tahu.

Semoga saja, semogaaaa saja hal-hal semacam ini tak diumbar lagi dengan gampangnya oleh siapapun. Kenapa serius begitu sih? Soalnya, entah kenapa saya tidak bisa ikut tertawa pada orang yang mengejek ketidakberanian orang lain dengan kata-kata, “Pakai rok aja kamu, cemen kayak perempuan.

Ah, ngapain juga kayak gitu diributkan? Nambah-nambah masalah pikiran aja –> sekali-sekali pengen juga kayak gini. Khas banget buat yang mikir praktis dan pragmatis :D

5 thoughts on “Mengkaji ulang insiden Kick Andy setelah tulisan menghebohkan

    • idem sebenarnya mas, tapi teman saya yang nonton bilang bahwa gojegan yang AFN lontarkan memang tidak nyaman didengar perempuan. Ini bias opini perempuan ya, tapi inilah masalahnya. Publik selalu “memenangkan” dan “memaklumi” pihak yang melontarkan gurauan semacam itu. :)

    • Menurut saya AFN memang harus diingatkan. Suami kakak sepupu saya pernah menjadi salah satu tim kreatif di program tersebut. Day by day saya jadi tahu tokoh yang semula sempat saya idolakan tersebut.
      Well, apa yang terjadi terhadap ibu Tutty adalah sesuatu yang tidak mengejutkan:)
      Itulah industri hiburan….

Jadi, bagaimana menurutmu?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s