Facial itu sakit teman!


Saya selalu sebal dengan ungkapan “beauty is pain” lalu beserta counter attack quote seperti “the most important is inner beauty“. Well, apa saya harus bilang…persetan? wakakkakakakak!

Masalahnya bukan ingin cantik atau merasa cantik fisik itu tidak penting, tapi saya sendiri sebal melihat wajah saya yang “berantakan” selama mengurusi “itu”. Iya, “itu” yang akan jadi tiket saya menyandang gelar sarjana, stempel untuk melamar kerja, atau karcis untuk naik kereta ke perhentian selanjutnya. Mengerjakan “itu” membuat saya tidak peduli bahwa berat badan saya turun 4 kg dan tidak naik-naik lagi, bahwa kulit saya mendadak kusam dan makin seringnya jerawat nempel di pipi kanan. Iya, cuma pipi kanan yang jadi langganan. Saya sebal setiap kali cuci muka harus merasakan hanya bagian wajah itu yang jadi kasar. Oh, jangan lupakan komedo yang makin merakyat di sekitar hidung. Huh!

Saya berada di simpang jalan.

Maka ketika usaha lemburan membuahkan tanda tangan untuk ujian. Saya bertekad ingin membenahi kerusakan selama proses penggarapan. Saya memutuskan…facial! Kenapa sepertinya ini mengarah pada pembicaraan hidup-mati? Sebab temanku sayang, facial memang urusan jeritan tak tertahankan bahkan bisa jadi pingsan :D Saya berlebihan? Ya.

Tidak. Cuma trauma saja.

Duluuu…sekitar 3 atau 4 tahun lalu, saya coba facial pertama kalinya. Saya sih tahunya facial itu membersihkan wajah, pijatan ringan, dan mungkin..satu dua pencetan. Yang teman-teman saya lupa beritahukan…facial itu proses suakiiit setengah hidup!

Saat saya memutuskan datang ke sebuah klinik kecantikan untuk facial kali pertama, saya diperiksa dulu oleh seorang ahli kulit. Lalu saya dibawa ke ruang facial. Setelah ganti baju, berbaring, wajah saya diseka pembersih dan dipijat. Hmmmh…nyaman, saya nyaris ketiduran. Tapi itu hanya rayuan kematian #terdengar suara khukhukhu yang kejam# tanda mulainya siksaan. Entah dengan apa, tapi bagian hidung saya rasanya seperti disayat dengan benda tajam hanya untuk mengeluarkan komedonya. Saya minta ampun pada eksekutor, minta waktu jeda…atau kalau bisa, batalkan saja. Si eksekutor adalah ibu-ibu paruh baya, dengan sadis menjawab, “Tidak apa-apa mbak, biar bersiiiihhh” #Shaaatttt!# sambil meneruskan menyilet dan menusuk.

Aaarrrrggghhh!!!Auuuucchhhh! Linangan air mata tidak digubris sama sekali, permohonan saya, “Udah mbak, ngga usah..bener deh. Udah donk” cuma suara backsound ironis yang mengiba-iba :(

Saya tidak lupa hari itu. Beserta rasa sakit seperti tersilet pisau di bagian hidung selama 3 minggu. Hasilnya? wajah seperti habis satu ronde dengan Chris John dan saya K.O tanpa perlawanan. Sedap. Mantap. Miris. Ironis.

Jadi, ketika kembali ke saat ini…kenapa saya memutuskan untuk facial lagi? Sebab saya sudah hilang akal bagaimana membenahi wajah yang jerawatnya ngeyel semua sekeras batu! Harus ada yang mengeluarkannya supaya saya bisa membenahi prosedur perawatan (baca: cuci muka) dari awal. Saya tidak lupa rasa sakitnya, bahkan ketika kali ini saya coba klinik yang berbeda..mendadak saya tegang luar biasa begitu proses pembersihan muka selesai. Artinya, wajah saya akan segera ditusuk-tusuk!

Tapi syukurlaaah…kali ini orangnya mengerti kalau saya bilang BERHENTI. Yang dulu itu tidak, saya malah jadi gondok sendiri. Ini kan muka, muka saya! Terserah saya mau bilang terus atau berhenti. Ya toh? Apa lantaran dedikasi mereka tidak mau berhenti? huhuuhuhu saya tidah tahuuuu!

Tapi toh setelah facial saya pun tidak merasa wajah jadi berubah secantik Keira Knightley tuh! Jadi pepatah “beauty is pain” atau “no pain no gain” tidak berlaku buat saya. Yang berlaku adalah “No pain, No Clean!” Hehehehhe, makanya..lain kali yang rajin kalau cuci muka! :D

Cukup sudah. Tidak perlu sebulan sekali, setahun sekali juga sudah cukup sepertinya. Kalau dibilang bisa bikin ketagihan? Wah…perlu dipertanyakan tuh ada yang sukarela mendatangi penyiksaan :D

7 thoughts on “Facial itu sakit teman!

  1. Dsana KEJAM BANGET!!!!!!!
    itu wajah pasti sampe bentol2 kayak di entup tawon :D
    *pengalaman facial pertama dyogya juga dsana*
    entah policy sperti apa yang mreka pegang teguh *cih*

Jadi, bagaimana menurutmu?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s