Melankoli ujian pendadaran…


Saya menjalani ujian selama kurang lebih 2 jam dan sudah berjabat tangan alias dinyatakan lulus.

Senang? Girang? Lega? Entahlah.

Saya merasa tidak karuan. Saya justru…merasakan sedikit tusukan kesedihan.

Ada banyak andai-andai yang berkelibat di kepala tatkala semuanya usai. Soal masalah lulus atau tidak, saya rasa persoalan itu tidak sesulit kelihatannya. Berdasarkan pengamatan pribadi, hanya segelintir saja yang tidak beruntung ketika usai ujian masih diharuskan mengulang, atau dinyatakan tidak lulus. Sedikit sekali. Saya sendiri yakin mampu lulus. Lalu apa persoalannya?

Saya…mmm..sungguh-sungguh…benar-benar SUNGGUH menginginkan hasil yang maksimal untuk kerja ini. Saya mencurahkan waktu, tenaga, pikiran dan minat yang besar pada topik penelitian yang saya pilih sendiri. Saya pernah berdiri di garis awal: segala ketidaktahuan dan ketidakpastian. Naik turun emosi selama setahun lebih waktu pengerjaan, segala curahan doa dan perbantahan, setiap kesempatan belajar dan proses pencarian data sebagai pendukung penelitian merupakan sekian bukti nyata yang sungguh saya rasakan hingga ke dasar hati. Saya berusaha agar tidak terdengar berlebihan…tapi kenyataannya, ini seperti proses pencarian dan penghargaan untuk sebuah hal yang bernama…kesungguhan. Benar-benar melelahkan namun juga…mengasyikkan.

Ketika saya menyebut skripsi saya sebagai “skripshit”, sebetulnya saya sedang mencari cara mencintainya dan mengubahnya menjadi “skripsweet” :D

Dan penyesalan itu menyelinap ke dasar hati. Saya merasa tidak mampu menjaga ritme kesungguhan di saat penghabisan. Pada detik-detik terakhir saya hanya mengejar tenggat waktu yang, sebenarnya, tak seorangpun memberikan. Saya memberi kesempatan pada rasa cemas tidak dapat menepati waktu yang sudah saya janjikan. Saya…hanya berandai waktu bisa sedikit diputar balik untuk memberi lebih banyak kesempatan.

Persiapan saya sebelum ujian – saat pengumpulan laporan – punya banyak kelemahan. Laporan yang saya kumpulkan sebagai bahan ujian memiliki banyak celah yang bisa menjatuhkan. Yang sebenarnya, saya sadari, saya ketahui. Tapi saya terlanjur mengejar waktu. Sudah terlambat untuk mundur. Mungkin yang kemudian terlihat adalah…saya tidak berkompeten dalam menjelaskan juga merumuskan hasil penelitian. Padahal saya sudah menempuh banyak hal selama setahun lebih. Dengan melibatkan banyak orang, banyak dukungan, banyak bantuan…dan semua itu bisa terlihat rapuh hanya dalam waktu seratus dua puluh menit yang menentukan.

Titik nadi perjuangan adalah tadi. Apakah saya sudah cukup berjuang? Apa artinya perbantahan dengan banyak celah kelemahan yang saya sendiri sadar, harusnya saya perbaiki.

Banyak orang berusaha membesarkan perasaan…

Sungguh. Saya sungguh bersyukur oleh keberadaan kalian semua yang menguatkan. Mendoakan. Memberi dukungan. Mengobati perasaan dengan kata-kata penghiburan. Tapi, saya merasa patah saat ini. Menyesali mengapa saya tak cukup menyiapkan diri, menyiapkan argumentasi. Menyiapkan jawaban meyakinkan. Menunjukkan bahwa sayalah yang (cukup) menguasai penelitian saya sendiri?

Di saat waktu ujian dimulai saya tidak merasa gugup atau panik. Hanya berharap dapat memberi jawaban yang memuaskan. Presentasi sudah saya siapkan baik-baik. Saya bahkan telah melakukan latihan. Berkali-kali. Menyiapkan data-data pendukung. Dan satu hal, kata siapa ruang 3 x 3 itu tidak menakutkan? Saya benar-benar merasa ditantang habis-habisan. Dengan kata lain…saya kewalahan. Saya sungguh berharap bisa memundurkan waktu yang terlanjur berlalu dan belajar lebih baik lagi. Bagaimana cara saya bisa berperang sementara saya sadar kekurangan amunisi dan persenjataan? Saya tidak bisa merangkum ratusan data yang berhasil saya kumpulkan dalam bentuk rangkaian tulisan. Saya berharap bisa menjelaskan pada waktu ujian. Tapi terlambat. Semuanya tidak beraturan dan saling berbenturan.

Para penguji memberi saya kesempatan waktu untuk revisi. Mungkin saja sedikit berpengaruh pada perbaikan, mungkin tidak. Sangat tidak memberi kepastian.

Saya benci sifat perfeksionis bawaan ini. Benci pada rasa tidak puas yang tidak bisa saya hindari. Saya tak mengharapkan hal sempurna sebenarnya..sungguh. Hanya saja, saya tahu bahwa saya bisa . #Ahhh..seandainya ada mantel waktu Doraemon :P# Mengetahui saya memiliki batas bisa sementara saya tidak bisa mencapainya sungguh menyesakkan. Kata orang, “toh ini hanya skripsi, tidak penting dalam mencari pekerjaan, tidak punya andil dalam kehidupan…” Mungkin benar adanya. Saya saja yang terlalu mempermasalahkan. Tapi entah kenapa ada hal-hal yang sulit dijelaskan. Sesuatu yang mengganjal. Soalnya, ini adalah sesuatu yang menyedot rasa ketertarikan saya yang ingin saya kerjakan segenap hati (pada saat ini). Saya luruh dalam segenap perasaan. Lebur. Adakah yang memahami makna “luruh” seperti yang saya rasakan? Ini seperti memaknai arti “kesungguhan”, “totalitas”, “semangat juang”, dan “batas maksimal”. Setelah semua yang saya lakukan, pada akhirnya saya hanya menginginkan….kepuasan. Meski batas puas itu sebenarnya tak ada dan kesempurnaan itu hanya ada di langit dan milik Tuhan.

Pada dasarnya, saya ingin dan harus mengakui satu hal:  ternyata semua ini bukan hanya tentang kelulusan.

Ini… terasa sebagai sebuah nilai totalitas yang sanggup saya berikan dalam satu waktu.

Apa saya mulai terdengar berlebihan, sombong dan merendahkan? Saya tidak bermaksud demikian. Sungguh.

Sebab saya yakin, setiap orang pasti pernah mengalami momen “kesungguhan” entah apapun yang sedang mereka lakukan. Dan…Ya, inilah momen “kesungguhan” yang saya rasakan. Begitu nyala, hangus membakar semangat dan niat. Membuat saya memiliki sebuah tujuan. Saya ingin tahu ujung jalan ini seperti apa? Membiarkan keliaran rasa penasaran, kesempatan merasakan sebuah proses ilmiah (yang mungkin cuma sekali ini saya lakukan) dan bisa dipertanggungjawabkan. Kesempatan merasakan pengalaman belajar, membaca banyak hal, berpikir bebas dan merasakan pahit-manisnya sebuah proses panjang.

Mungkin….sedikit banyak saya mulai memahami arti “beyond the limit“, mendobrak keterbatasan… Kita takkan sadar apa yang sanggup kita lakukan jika kita terhenti pada batasan. Batasan yang mungkin saja sebenarnya tidak sebegitu beratnya. Ah! Kamu mulai terdengar tidak realistis dan muluk! Berlebihan!

Ahhh, melankoli ini…Mungkin terasa sedikit berlebihan. Seolah saya membicarakan perkara hidup-mati atau idealisme tingkat tinggi. Tapi terkadang, saya merenung…”jika akhirnya pola pikir, sikap dan sifat saya berubah dan nantinya makin membaur dengan hal kebanyakan…apakah boleh saya mengingat saat ini sebagai bentuk penghargaan atas kesungguhan sikap yang sempat saya miliki?” Jika saya tidak begitu, akankah saya dibayangi rasa penasaran akut?

Di luar segala bentuk ketidakpuasan yang saya rasakan, saya bersyukur boleh mengalami. Menjalani jalur panjang ini. Boleh sempat merasakan bentuk “kesungguhan”. Di kemudian hari saya tidak tahu apakah boleh mengalami hal semacam ini lagi. Tapi andai pun tidak…saya pernah merasakan dinamika sebuah perjalanan. Dan saya sangat bersyukur telah sama-sama berjuang dengan teman-teman…yang sama-sama merasakan penasaran dan sudah mencurahkan kesungguhan. Terima kasih sudah menggenggam tanganku dan menopang langkahku. Aku sudah ada di ujung jalanku sendiri. Di depan sudah ada percabangan jalan berliku yang menunggu.

Mau apa lagi? Hidup ini selalu tentang pilihan. Selalu begitu…

 

the long and winding road for me

 

 

Jogja, dengan perasaan yang berkecamuk dan usai sedikit sedu…

 

 

 

 

foto diunduh dari sini

Jadi, bagaimana menurutmu?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s