Jilid kilat, listrik gawat dan jadwal ketat!


Seminggu ini saya melakukan “marathon” tanpa henti. Deadline demi deadline. Ugh!

Mulai dari deadline revisi, saya hanya diberi waktu 2 minggu untuk menata ulang kata-kata yang berantakan, menjawab teori yang dipertanyakan hanya karena saya (jujurnya) tidak tahu lupa dapat kata-kata itu dari mana. Daftar isi yang menyebalkan karena file-nya terus-menerus hang, macet, mogok, mampet, dan membikin saya harus menutup file word lain yang terbuka. Jadinya, file saya punya tambahan judul: BAB I-jilid (Autosave) (recovery) (recovery) (recovery).docx GRRRHHH!

Tidak cukup disana temanku sayang, rupanya alam berkonspirasi dengan PLN untuk menambah level kesulitan SKRIPSWEET DASH yang saya mainkan! Mulai dari listrik padam lebih dari 4x dalam sehari, plus hujan besar dengan kilat menyambar dan suara petir yang-oh-sangat-mengesankan…DHUAR! Satu letusan besar! Sampai-sampai radio tape teman kos saya hidup sendiri dan mengeluarkan bunyi dengung. Sungguh hebat sekali cuaca tahun ini!

Singkat cerita, absennya listrik membuat saya tidak bisa nyicil cetak revisi dengan printer. Memangnya kabel printernya mau dicolokin di mata??? #pake stop kontak# hahahhaha! Nah, setelah itu buntutnya panjaaaang! Batere netbook saya habis, saya ngungsi ke kafe dengan niatan numpang nge-charge batere…eh….listrik kafe mati! Ya ampunnnn! Saya memang lagi sial atau memang badan saya punya partikel-pemadam-listrik?? Jadi, saya telat mepet bertemu dosen. Dari waktu 2 minggu yang diberikan dengan kemurahan hati yang besar itu, saya hanya bertemu si Bapak di awal minggu, cuma untuk tanya-tanya langkah revisi, dan 3 hari sebelum waktu-mati untuk mendapatkan tanda tangannya. Pede sekali!

Waktu membuat revisi, seorang pacarnya teman mengajari saya cara praktis bikin daftar isi. Caranya, semua judul sub bab di skripsi diformat dalam bentuk heading. Nah, yang hebatnya dari Word (siapa sih yang bikin??pinter bener! :D) nanti kalau anda bikin auto-table of content alias Daftar Isi, semua heading tadi akan langsung berbaris rapi membentuk urutan daftar isi, plus halamannya! Menakjubkan! Nah..masalahnya, sistem penulisan kampus saya masih era MS-DOS alias jaman dimana komputer belum ditemukan…lho??katanya MS-DOS?? wakakakakakak!

Jadi, pengaturannya masih dengan instruksi: spasi enam ketuk dari tepi kiri, dsb. Padahal, halaman daftar isi tadi harus dalam kertas bernomor-halaman huruf romawi (i, ii, iii, dst) padahal di era Word 2007, daftar isi berbarengan dengan file utama. Intinya apa sih?? Ya saya harus MEMISAHKAN keduanya dalam file berbeda! Graahhh….dengan kata lain, saya harus mencetak ulang 232 halaman revisi saya HANYA KARENA halaman Daftar Isi-nya bernomor halaman angka! #Twuuiiiiittttt…ketel sudah meniup peluit! umup!# Dua ratus tiga puluh tiga halaman yang saya print selama 5 jam tidak tidur sejak semalam harus saya buang. Penyebabnya? ya karena Daftar Isi yang dikeluarkan membuat semua nomor halaman revisi saya berubah! #Ha! kamekameha!#

Saran itu diberikan pagi hari: “cetak ulang revisinya hari ini juga, jadi saya bisa baca lebih cepat“, begitu kata dosen saya. No problemo dengan itu. That damn electricity is the thing! Begitu sampai di kos, baru mulai mengurutkan daftar isi, lampu mati…lagi! Argh!saya sudah muak!cukup sudah! Hal itu terjadi sampai dua kali, dan begitu nyala lagi…sudah sore! Saya terpaksa mengirim pesan pendek pada dosen saya bahwa saya janji akan kumpulkan sore ini meskipun ia sudah pergi dan kampus sudah tutup. Saya tidak ingin dikira mencari alasan dengan mengatakan listrik mati. Tapi mau apa lagi? lha memang mati!

Karena sudah lelah menghadapi listrik yang tidak juga menyusupi printer, saya putuskan untuk nge-print di luar. Syukurlah teknologi perfotokopian sudah sedemikian maju sehingga saya cukup bawa USB flashdisk berisi file revisi dan mereka bisa mencetaknya dalam sekejap. Lagi-lagi saya angkat topi buat teknologi! Harganya tidak terlalu mahal, sekitar Rp 200 per lembar A4/80gr. BeTi, Beda Tipislah sama fotokopi yang Rp 125 pr lembar. Lagipula, hal bagusnya adalah..mereka cepat! Save the time is more important than money in that kind of situation..

Lalu hal aneh terjadi…

Ketebalan revisi saya menyusut sampai separonya. Penjepit kertas saja bisa masuk dengan mudahnya, padahal waktu pendadaran jepitan itu harus dipaksa mangap. Lha ini yang jelas lebih tebebal akibat revisi kok…Kok bisa? “Oooh..mungkin kalau difotokopi kertas jadi lebih mengembang”, kata Christa. Teori yang ngawur tapi..bisa saja hehehehe! Saya sih cuma lega hasil print-nya rapi dan cepat. Menjelang malam itu juga saya ke kampus dan menaruh di loker dosen saya.

Pagi pun tiba. Saya menghadap dosen, dia membalik-balik revisi saya secara random dan..memberi tanda tangan persetujuan. Aaah..lega. Sekarang tinggal membenahi sedikit lagi. Tapi…sampai di rumah, saya baca-baca lagi bendelan itu dan…LHO?? Halaman 93-203 mana?? Haiyaaahhh! rupanya si petugas siwer atau silap mata karena sudah capek dan mencetak bagian bab tiga di bagian akhirnya saja. Tunggu dulu. Bab tigaaaa lhooo! Bab tigaaa!!! Buat yang tidak pernah mengerjakan skripsi (atau cuma minta dibikinkan), bab tiga itu bagian utama laporan skripsi. Lha itu bab pembahasan! Kok bisa-bisanya lolos scanning dosen saya?? jangan-jangan…ah! Beliau mungkin memang lagi buru-buru atau terlalu baik hati!Atau yang di Atas merasa kasihan lalu menaburi saya dengan sedikit percik keberuntungan…who knows?!

Dari bagian tata usaha saya diberi tahu bahwa waktu saya tidak lebih dari 2 x 24 jam untuk menjilid dan minta tanda tangan resmi dari para dosen penguji. Itu kalau saya mau ikut Yudisium akhir bulan ini. Lewat waktu itu, berarti tanggal kelulusan saya berubah. Ugh, enak aja. Saya pun berhadapan dengan deadline berikutnya: jilid skripsi-tanda tangan dosen- tetek bengek yudisium. Bah!

Skenario yang anda baca sebelumnya terulang lagi: listrik mati-saya tidak bisa revisi. Sudahlah. Kali ini saya cuek dan memanfaatkan batere laptop saja, saya simpan file dalam bentuk PDF dan pergi ke fotokopian. Saat itu sudah sore karena saya harus mencetak pernak-pernik seperti halaman judul, dll sendiri supaya tidak ribet mengaturnya nanti. Kali ini beda, saya harus jilid tiga. Jadi saya harus print dulu, meminta dikopi lagi dua rangkap, saya tambahi dengan halaman yang sudah saya print sendiri, saya atur urutannya, saya pastikan sesuai daftar isi, baru saya serahkan lagi untuk dijilid. Ribet? Pasti! Rempong? ya iyalah dong!

Ternyata Toko Fotokopi ini tidak bisa menjanjikan hasil cepat. Masa saya harus menunggu sampai jam 11am esoknya untuk dapat hasil jilidan?? Saya masih harus memburu dosen, dan macam-macam lagi. Saya tidak bisa menunggu sampai jam segitu. Akhirnya saya bawa bendel mentah itu ke warung fotokopi belakang kampus yang kondang karena murah dan (semoga) cepatnya itu. Setelah saya paksa berjanji, si mas-mas yang masih muda itu mengiyakan untuk selesai jam 9 pagi. Saya lega sekali, jadi saya mulai mengatur urutan di situ. Maksudnya, kalau sudah tinggal jilid rapi, mereka akan kerja lebih cepat bukan?

Nah, datanglah seorang lagi yang mau jilid skripsi. Dia masih membawa bahan mentah yang benar-benar mentah. Maksudnya, dia cuma bawa satu bendel dan meminta tolong petugas fotokopi untuk mengkopi dan mengurutkannya sendiri (wooow, percaya diri betul :D) Lalu datanglah si bos yang mendengar saya mengulang lagi janji untuk mengambil jam 9 pagi. Dengan logat tegal dia berkata,

“Waah..ya ndag bisa pagi mbag (ganti k berat :D), ini aja (menunjuk skripsi si anak tadi) jam 11 kok”

“Lho, dia gak mengejar tanda tangan pak. Saya harus bertemu dosen pagi,” jawab saya

“Ya situ juga datangnya malam…”

“…”

(dengan sengit saya pandangi tulisan “JILID SKRIPSI 2 JAM JADI”)

Ya mau gimana lagi?? Kampus saya memang hobi memberi waktu mati!

 

 

 

Jogja, dengan badan yang sudah lelah ditenggat waktu!

 

 

5 thoughts on “Jilid kilat, listrik gawat dan jadwal ketat!

    • Eh..dan malunya lagiiii…ternyata ya olo ternyata….Word 2007 itu emang canggih! Ada yang namanya Section Break mbak! Nyesel dulu aku ga belajar itu! Ternyata jenis Page Number, heading, Table of Content dan tetek bengek kayak gitu BISAAA DIATUR SEMUANYAAA di satu file Word! Ouch!

      • lho, bukannya yang sblom 2007 juga udah ada section break ya?
        cuman aku sendiri nggak gitu ngerti cara make-nya, hahahha
        bagus. emang via skripswit, kita jadi tau banyak hal yang kita harus tau sblomnya dan akhirnya enggak dpake stelahnya *cuih*

        –omonganku njlimet. ngerti nggak?!– :D

      • ahahahahahha iyaa emang dah adaa..cuma kita ni emang males ngutak-ngatik aja. Kalo butuh doang…sayangnya butuhnya mepet jadi maunya cepet wkwkwkkw
        Yaa..kira2 tau lah mbak #mengernyit sedikit..angguk-angguk# :D :D

Jadi, bagaimana menurutmu?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s