Berburu rumah


Saya sedang dalam semangat baru: berburu rumah.

Yap. Betul.

R.U.M.A.H

Akhirnya saya akan (semoga jadi, semoga diberkati..amin) mencoba menancapkan akar di tanah Mataram ini. Semua itu diawali dengan langkah sederhana yang tidak murah: Membeli rumah.

Well…bukan saya tepatnya. Untuk sementara, yang akan menalangi plafon cicilannya adalah ortu dan kakak saya. Meskipun, jauh…jauh di dalam hati saya menginginkan sebuah rumah atas nama saya sendiri. Iyalah, siapa yang tidak ingin punya rumah sendiri? Bukan sekedar investasi, tapi juga tempat meletakkan hati dan privasi (Cieeeehhh…) :)

Sore ini saya sudah mulai berkeliling menuju timur yang merupakan area pilihan sesuai rundingan saya dan ibu beberapa waktu lalu. Menelusuri setiap perumahan, mencari segala bentuk kesempatan. Meski menyukai bentuk rumah tertentu, gaya tertentu, dan “impian” tertentu seperti layaknya rumah ideal di majalah-majalah arsitektur, untuk kali ini saya dengan senang hati bersikap terbuka untuk model apapun. Asalkan aksesnya lumayan mudah, terjangkau dan sah Heheheheh!

Hmmm…saya bukan kalangan orang yang memiliki bujet 4M dan minta dibelikan rumah jadi dengan kolam renang seperti yang diceritakan teman saya (M=Mbahmu! hahahhaha!) :D Harta saya tidak turah-turah (berlebih, -jawa). Jadi kriterianya sederhana saja, yang penting sah alias punya hitam di atas putih dan tidak berpotensi menimbulkan prahara di kemudian hari. Bisa dicicil dengan kemampuan orang tua saya saat ini sampai saya mendapat pekerjaan dan bisa mengganti kewajiban cicilan :D

Sayangnya, penghasilan orang tua tidak berbanding lurus dengan nilai rumah di tanah ini. Mau tau berapa kisaran harga rumah terkini? Untuk yang “dekat kampus”, “akses mudah”, dan “dalam kota”, minimal anda harus menyiapkan plafon uang muka 20% dari harga total sejumlah…Rp300 jutaan. Yap. Benar. Kalau anda berpikir angka 300 (Tiga ratus) itu kecil semurah beli kacang rebus…PIKIR LAGI. Kacang Rebus itu harganya Rp 3ribu, malahan sekarang sudah jadi Rp 5ribu. Bukan Tiga Ratus Juta Rupiah. Dengan penghasilan, katakanlah, Rp 2juta sebulan (Bandingkan 2 dan 300 :D), sudah pasti bank manapun akan menolak permohonan KPR anda (kecuali bank plecit tentunya)

Saya bicara seolah paham dunia properti. Well…tidak juga sebetulnya. Hanya saja saya mencoba sebuah program simulasi kredit rumah yang disediakan di salah satu website pengembang perumahan. Dengan harga rumah Rp 300juta, Uang muka 20% dan bunga tahunan 12%, pembayaran untuk 15 tahun adalah…Rp 2juta sekian. Eits! Jangan berkedip senang dulu…plafon minimal persyaratannya adalah…anda harus berpenghasilan tidak kurang dari Rp 9juta per bulan! Wakakakakkakakakakk!

Begitulah dunia investasi properti. Mana ada rumah murah?? Ngimpi! Padahal jarang saja ada orang seumur saya, punya penghasilan 9juta per bulan kecuali segelintir orang berkedudukan tinggi, memiliki usaha sukses atau korupsi. Well, nyatanya Gayus punya rumah dengan aset sekian M bukan? lagi-lagi M=Mbahmu! ahahhahahaha!

Mengapa bangunan persegi beratap genting itu begitu spesialnya sih? Sampai-sampai saya tak peduli lagi dimana letaknya dan bagaimana bentuknya?

Satu alasan pasti yang bisa saya utarakan saat ini hanyalah: tempat pulang. Betul. Saya sudah mengikatkan sebagian hati saya pada kota ini. Beserta segala carut-marut dan ketidakstabilan suasana hati alam yang menyertainya. Mengetahui bahwa saya memiliki “tempat” di kota ini, akan memudahkan langkah saya kemanapun sebab saya tahu pasti saya memiliki tempat kembali.

Mungkin sedikit mirip dengan Davy Jones dalam Pirates of Carrebian yang meninggalkan jantungnya dalam sebuah kotak terkunci di daratan. Hanya agar ia merasa bisa kembali ke sana meski harus menjalani kutukan di laut selamanya. Yah..saya sih bukan Jones, dan saya tidak harus mencabut jantung saya untuk itu. Tapi memiliki sebentuk rumah di kota yang saya cintai membuat saya tidak takut pergi kemanapun.Ya! Kemanapun!

Sebab pada akhirnya, ketika bahu saya terasa terkulai dan kaki sudah lelah melangkah, saya boleh melepaskan penat berat dengan pulang ke sini…

 

2 thoughts on “Berburu rumah

  1. wats! kmaren dulu aku juga cari rumah.
    ortuku kawatir koq aku tinggal dsini mulu, nggak mau pulang.
    hahahaha *kasian mreka*
    tapi spertinya sih nggak jadi, blom tau juga deng :D
    yah, klo mreka pengen punya rumah dsini ya nggak pa2.
    Elga dah dapet daerah mana??

    • sepertinya rencanaku juga dipending sementara kok mbak :( ga ada dokunya hahahha..padahal harga tanah dan rumah di Jogja makin tak terjamah…ya mimpi tinggal mimpi sampai nanti berani dimimpikan lagi :D

Jadi, bagaimana menurutmu?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s