Andreas Harsono membakar saya


Haloooo!! Yak, buat anda yang nyasar ke sini karena judul di atas, anda berhak dapat sabun colek karena membuktikan “jebakan Betmen” saya cukup berhasil :D

andreasharsono.blogspot.com/2010/12/buku-agama-saya-adalah-jurnalisme.html

Umm..ya saya tidak gosong, cuma middle saja alias masih setengah matang hehehe. Soalnya tadi saya baru menghadiri sebuah diskusi santai di Perpustakaan Atma Jaya Yogyakarta yang menghadirkan Andreas Harsono, wartawan senior, direktur PANTAU, dan lain-lain (saking banyaknya) untuk membicarakan buku terbarunya A9ama Saya Adalah Jurnalisme

Sebelumnya, saya tidak terlalu mengenal orang ini. Perkenalan pertama dengan namanya justru saya dapatkan dari “channel gosip” seorang teman. Ceritanya, kami sedang mengobrol tentang Arumi Baschin, lalu ke Dhani-Maia yang masih rebutan anak (percayalah, ini nanti ada hubungannya :D) Nah, tiba-tiba teman saya menceletuk,

Eh, sekarang banyak ya yang cerai rebutan anak. Coba deh kamu baca blognya Andreas Harsono. Dia cerita waktu memperjuangkan hak asuh anaknya, Norman. Sedih deh baca ceritanya.”

Yap. Dari ngomongin gosip rebutan anak-orangtua bisa sampai ke nama itu. Itupun saya tidak ngeh kalau yang dimaksud adalah Andreas Harsono yang seorang wartawan senior, yang seorang pendiri ISAI dan direktur Yayasan PANTAU. Hehehehhe! Betapa tidak gaulnya saya :D

Waktu membuka blognya, saya pun sudah membaca sekilas tentang bukunya yang berjudul “A9ama saya adalah jurnalisme” itu tapi saya belum menaruh perhatian penuh. Meski demikian, saya menyukai gaya tulisannya, terasa mengalir, mudah dipahami dan masuk akal. Sepertinya banyak orang yang menghargai dan mengagumi dia. Hal itu tercermin dari nada komentar-komentar yang masuk. Hanya sampai di situ dulu, saya menyimpan link blognya karena masih butuh banyak info tentang bahan jurnalisme.

Hingga…

Dosen saya memberikan info akan ada obrolan santai tentang jurnalisme bersama Andreas Harsono di kampus saya, 9 Maret 2011. Wah kesempatan lihat langsung orangnya nih, pikir saya. Saya selalu menaruh ketertarikan bertemu seseorang yang memiliki gaya tulisan yang enak dibaca. Bagi saya, hal itu mencerminkan kematangan berpikirnya. Yaa siapa tahu saya bisa belajar dari beliau entah sedikit, entah banyak. Begitulah. Saya mendaftar untuk menghadiri acara tersebut sampai sedikit berdebat dengan orang tua mengenai waktu kepulangan saya. Hihihihi..maaf ya pa, ma, ngalah dulu untuk Andreas Harsono :D

Pas hari-H saya malah ketiban sampur jadi notulen. Ah ya gak papa deh, toh saya masih bisa sambil mendengarkan. Setelah pemaparan singkat mengenai bukunya, juga sedikit ulasan dari Mr. D (remember him?) mengenai buku itu, mulailah sesi tanya jawab yang seru. Saya bilang seru karena, baru kali ini lho saya ikut diskusi buku, dan yang tanya sampai empat sesi!Hahahahha! Luar biasa!

Dan..

Jawaban-jawaban beliau benar-benar menyihir dan membakar saya… Kebetulan hari permulaan pantang dan puasa, saat itupun saya juga jadi abu :D

Untuk persoalan agama, seolah judul tersebut dikonotasikan pada sebuah keniscayaan akan suatu kepercayaan, Andreas Harsono (AH) mengatakan, Agama itu bisa juga diartikan dalam bahasa Jawa Ageman (dari bahasa Sanskerta) yang berarti “baju kebesaran”. Jadi, kata dia, ia tidak bicara tentang iman, tapi pakaian. Pakaian kebesaran. “Nah, baju kebesaran saya adalah jurnalisme.” saya menangkap kesan ada kebanggaan yang dalam terhadap cita-cita dasar jurnalisme dalam pernyataan tersebut.

Di saat saya mempertanyakan ulang apakah saya masih mau menjadi wartawan paska mengerjakan skripsi…FYI, saya mengalami dilema luar biasa saat melihat realitas media yang ada saat ini, AH seolah memberi clue jawaban yang saya cari. Wartawan tidak mungkin netral, kata dia. Tapi sebisa mungkin wartawan harus mendekati kebenaran sedekat-dekatnya, berorientasi pada kepentingan masyarakat dan nilai-nilai nurani. Ketika meliput konflik agama, apapun agama atau nilai-nilai yang kita miliki saat itu…lepaskan dan bersikaplah terbuka. Gunakan background kepercayaan yang Anda miliki untuk memperkaya liputan. Kalau ragu akan hasil tulisan, tanya teman: Sudah tidak biaskah saya? Apakah ada yang salah? Itulah gunanya dinamika pluralisme dalam ruang redaksi (newsroom).

Mengenai situasi dilema apakah harus menolong atau memberitakan, ia mengatakan, “kalau menemui situasi seseorang harus ditolong, ya tolonglah. Harus berusaha menolong dengan sungguh-sungguh.” Jika pada akhirnya tidak sanggup menolong, “Jadilah saksi”, pungkasnya. Sama seperti seorang wartawan yang melihat peristiwa kerusuhan etnis di Ketapang. Ia melihat seseorang dikeroyok massa, ia berusaha mengatakan “stop! stop!” namun tak berhasil juga. Massa lebih banyak, dan mereka membawa senjata Akhirnya, ia hanya bisa memotret meskipun para pengejar itu juga menghalanginya. Menyedihkan, tapi hal semacam itu harus dikabarkan.

Saya jadi teringat obrolan dengan seorang teman. Ia pernah melihat tayangan kecelakaan kereta. Dalam gambar liputan tersebut, salah seorang korban terjepit dan sudah kritis. Entah suara darimana, entah si kameramen teve itu atau reporter media lain yang kebetulan berada di tempat yang sama, mengatakan “apa pesan-pesan terakhir anda?

Apa? APA?? Apakah wartawan itu punya otak? Punya hati nurani? Apakah ia sudah berusaha menolong? Apakah ia sudah berusaha mencari bantuan?? Apa dia tidak punya etika?

Ah! Itulah yang membuat saya termangu-mangu mengenai rencana hidup saya. Apakah nantinya atas nama deadline, saya abaikan kedalaman. Atas nama kecepatan, saya abaikan akurasi dan klarifikasi hingga nilai berita saya harus menjadi seperti itu? Apakah nantinya saya akan ikut arus sebab jika tidak berkawan, saya tak dapat bahan. Tapi jika berkawan kelamaan saya akan tidak independen. Apa harus begitu? Apa saya harus mematikan suara hati saya sendiri? Realitas dunia ini kejam teman, tidak mudah mempertahankan pendapat sendiri tanpa ditentang arus utama masyarakat masa kini.

Tapi…apa betul tidak ada jalan terang? Apa betul selamanya kita akan tenggelam dalam pola pikir pragmatis yang (katanya) realistis?Kata Bill Kovach, sang dedengkot Jurnalisme dengan 9 (sembilan) elemen jurnalismenya, seperti yang dipaparkan habis-habisan oleh AH sebagai mahasiswanya, idealisme jurnalisme itu “memang sangat sulit, tapi bisa dilakukan.” Ibarat bintang-bintang di langit yang jadi petunjuk arah, ya inilah pegangan yang jadi pedoman para jurnalis.

Kita tidak bisa berdiri di grey area, kata Mr. D

Ah…tidak bisa setengah-setengah. Harus berani bersikap.

Dan, itulah yang memercikkan air dan pupuk pada keinginan terdalam saya menjadi jurnalis. Saya hanya berharap bahwa saya tidak jatuh pada pola kerja praktis yang merasa kewalahan pada tenggat waktu. Semoga…semoga saja…saya sempat merasakan melakukan pekerjaan ini dalam kapasitas jalur yang sebenarnya. Belum belok kemana-mana. :) #miris juga….#

Saya tidak tahu kemana angin takdir akan membawa arah hidup saya. Tapi saya tidak ingin mati dalam penyesalan, atau kesia-siaan karena mengabaikan keinginan dan kebutuhan untuk sekedar tak hanya menjalani siklus kehidupan…

Bersambung…

(rencananya saya ingin sedikit menyinggung isi bukunya juga) :D

** Ah, ternyata beliau memang blogger aktif yang sangat disiplin. Tidak berapa lama sudah ada tulisan beliau tentang acara itu dan bisa dilihat disini: http://andreasharsono.blogspot.com/2011/03/obrolan-santai-di-atma-jaya.html

16 thoughts on “Andreas Harsono membakar saya

    • Wahhh halo Aliicee..lama juga tak berkunjung ke blogmu. Terima kasih sudah mampir :)
      iyaaa, A.H itu bisa dibilang salah satu panutanku sebab beliau orangnya sangat low-profile. Tidak keberatan membalas email. Mau seberapa lama pun, kalau sempat pasti dibalas sama dia :D benar-benar langkaaa heheheh

  1. menarik ya dunia jurnalistik.. sy nol besar dalam hal ini, tp menurut pendapat sy tulisan mbak Elga juga enak dibaca loh, runtut, singkat namun padat, dan pemilihan kosakata yang indah. hahaha jangan terbang ya mbak :D salam kenal!

    • ah..em…eh…hehehe saya terbungkam merona nih :D belum-belum sudah melayang beneran hahahaha!
      Terima kasih sudah mampir kesini…sampai detik ini saya masih belajar untuk menggali cara-cara menulis yang lebih informatif dan enak dibaca..hehe kadang monoton juga nih kalo cuma segitu2 aja :P

  2. Ehm, maaf, mba. Saya sudah sering mampir, tapi tidak pernah komen. Baru ini yang komen karena menurut saya menarik. Saya juga mengikuti blognya AH. *sok jaim*

  3. “memang sulit tapi bisa dilakukan”

    Tidak ada yang tidak mungkin… Semuanya pasti bisa, cobalah dari skrg…….
    Jgn pernah takut tidak berkawan ketika idealis menjalar dipikiran kita……

    HahahAHahaha……..
    Saya jd teringat akan hal yg sudah saya pikirkan stlah mendapatkan ilmu dari Master_AH

    PERJUANGAN MASIH PANJANG….

    • wah..beruntung sekali mbak bisa berguru langsung padanya. Dia orang yang sangat friendly, humble dan terbuka ya..bikin siapapun merasa tidak sungkan bertanya. Saya benar2 pengen bisa lurus seperti itu :D
      salam kenal, makasih sudah mampir

    • Iya mbak, buku itu sudah cukup lama nangkring di rak perpus kampus saya juga. Tapi entah kenapa saya belum membacanya…heheheh cuma pernah pinjam, didiamkan sampai denda, rugi jadinya. :D Terima kasih sudah mampir, salam kenal…:) habis ini saya akan pinjam lagi buku itu :D

      • komen di atas adalah komen sok-gak-kenal kalau ada yang baru mampir..rencananya sih begitu…tapi…
        DASAR ESTI! BARU SEKARANG ENTE MAMPIR??? hahahahhaha! taklink deh blogmu, biar bisa nagih janji tulisan! :D

Jadi, bagaimana menurutmu?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s