Ketika orang tua semakin tua


Tahun demi tahun berlalu seperti tidak terasa. Tahu-tahu di sinilah kita-yang ternyata- sudah melewati waktu 5, 10, 15, hingga 20 tahun. Kadang pikiran saya masih terhenti pada badan remaja. Sungguh. Herannya saya ketika teman memutuskan menikah, atau malah sudah punya anak dua. Apa sebabnya? Sebab saya  merasa kami masih sama: teman main waktu remaja. Lupa. Bahwa umur kami semakin dewasa.

Dan karena saya lupa bahwa bertahun-tahun telah berlalu, tanpa saya sadari orang tua pun semakin tua…

Ketika saya pulang ke rumah, saya mendapati ayah saya hampir memasuki masa pensiun dalam hitungan bulan. Sementara garis-garis usia makin tercetak jelas pada wajah ibu saya. Satu hal pula, saat seseorang makin menua, kemampuan dan kelebihannya pun mengalami perubahan karena usia.

Ayah saya makin pelupa, ibu saya juga. Namun sepertinya ayah maupun ibu belum bersedia menerima bahwa mereka semakin pelupa. Saya juga. Harusnya ketika orang tua makin pelupa, saya makin sabar menghadapinya. Toh, bukan cuma mereka yang tambah usia bukan?

Hal sepele. Ayah menitipkan kunci motor dan STNK. Saat pulang, saya taruh keduanya di laci lemari ruang tamu. Malamnya kami pergi bersama. Beliau yang membonceng saya. Esok paginya, kehebohan klasik yang ada. Ayah membangunkan saya pagi-pagi, panik mencari STNK. Saya katakan taruh di laci lemari. Tidak ada, katanya. Saya ngotot sudah taruh di situ. Kalau membaca ringkasan sebelumnya, anda pasti tahu: Saat ayah membonceng saya malam itu, ia memakai kunci motornya-yang terletak di atas STNK- jadi sudah pasti ia melihat juga STNK.

Saya dipaksa mencari di saku celana. Saya ngotot tidak tahu. Ibu ikutan marah sebab ia sudah diburu waktu. Ia menyuruh ayah periksa saku celana. Ayah juga ngotot tidak ada. Lalu….ia mencari dalam tasnya. Saya yang bad mood karena dibangunkan padahal tengah bermimpi, kesal dan masuk kamar. Dari dalam kamar saya dengar motor dinyalakan dan mereka berangkat. See? berarti STNK ditemukan dengan sedikit perbantahan. Yang cukup mengesalkan.

Well…saya memang bukan orang yang sangat-sangat sabar. Meski dalam tahun-tahun terakhir saya sudah berusaha menambahkan porsinya. Usaha terakhir yang bisa saya lakukan jika saya yakin saya benar tapi tetap kalah perdebatan adalah diam. Mengesalkan memang.

Sulit rasanya menghadapi orang tua yang makin pelupa jika mereka sendiri tidak sabar menghadapi fase itu. Saya lihat kakek-nenek saya dulu di usia orang tua saya sekarang, mereka tidak terlalu kesulitan menghadapi masa tua. Dan seingat saya, mereka pun tak lantas jadi pelupa. Tapi sepertinya orang tua saya, terutama ayah, menolak untuk mengalami penurunan daya ingat. Beliau ngotot belajar editing video dan segala macam hal ingin dipelajarinya. Tidak salah, itu semangat yang bagus. Asal bukan saya yang mengajari. Saya tidak punya stok kesabaran banyak sekali untuk mengajari dan mengulang-ulang, ya, mengulang-ulang hal yang sama. Sampai saya dengan keras mengatakan: ayah saya harus berani coba-coba. Jangan sedikit-sedikit tanya seolah saya tahu segalanya. Komputer tidak langsung hidup, tanya saya. Printer error, tanya saya. Video kok tidak auto play, tanya juga. Well, satu hal dia lupa: anaknya tidak sekolah di jurusan informatika :D

Kondisi seperti ini benar-benar mengesalkan. Sebab ujung-ujungnya background komunikasi saya yang dipermasalahkan, ujung-ujungnya saya dibilang tidak pengertian.

Tapi saya hanya bisa mencoba. Mencoba menambah lagi stok sabar saya. Kalau orang lain, sepertinya lebih mudah ya bersabar dengan orang tua mereka. Bagi mereka yang tidak dalam posisi saya atau tidak bisa membayangkan rasanya, mungkin akan bilang saya jadi anak kok kurang ajar. Tidak tahu perasaan orang tua. Tidak tahu terima kasih sudah dirawat dan dibesarkan. Tidak punya etika dan bla bla.

Saat saya menulis ini, saya sudah belajar mencoba menahan emosi. Satu hal harus saya ingat lekat-lekat: mereka adalah orang tua yang saya cintai dan memang beranjak tua. Makanya, stok sabar harus terus diisi ulang. Orang makin tua terkadang makin keras kepala. Sebab pemahaman mereka semakin mengkristal dan pendapat mereka jadi pegangan di tengah arus jaman.

Setidaknya, saya harus berusaha jangan sampai bersitegang sama orang tua untuk alasan sederhana.

Ah Pa, andai dirimu sedikit lebih sabar menghadapi waktu (dan aku)!

9 thoughts on “Ketika orang tua semakin tua

  1. “Sampai saya dengan keras mengatakan: ayah saya harus berani coba-coba. Jangan sedikit-sedikit tanya seolah saya tahu segalanya. Komputer tidak langsung hidup, tanya saya. Printer error, tanya saya. Video kok tidak auto play, tanya juga.”

    itu harusnya juga berlaku orang-orang ‘muda’ yang ada dtempat kerjaku. mereka hidup lebih lama di tempat ini dari aku, tapi tanya mulu. lha, slama ini ente ngapain aja dsini?? maen ya??
    dongkol banget. gman nih koq nggak nyala, koq nggak bisa ngeprint, koq nggak kentut (saking mangkelnya) #_#
    padahal nggak bisa nyala, karena emang blom nyalain/dcolokin ke listrik, nggak bisa ngeprint karena usb printer blom dpasang ke laptop, nggak bisa kentut? aku nggak tau knapa.

    maaf, knapa jadi curhat….

    • Hehehhe kayaknya stok sabar kita dikit yaaa :D Gemes aja kok pada ga berani nyoba sendiri. Gak bakal rusak ini :(
      Tapi mungkin memang lebih cepet nanya daripada cari solusi sendiri yaaa

      • emang nggak bakal rusak. tapi klo mreka bikin error sesuatu, pasti trus pergi gitu aja, ntar tinggal aku yang dimarahin.
        gemes???!!!! itu sama sekali bukan kata yang tepat.
        rasanya pengen nampar!!
        beda, ga, klo emang mreka peduli ma apa2 yang mreka nggak tau, kan kliatan… i’m so willing to help klo emang mreka peduli.

  2. saya suka tulisan2nya elga, sangat mencerahan buat saya, teruskan nulisnya biar saya juga meneruskan membacanya hehehe

    • ahahahhahah!benar-benar membuat besar kepala! saya terima apresiasinya dengan senang hati :D
      Iya, menulis sih sudah jadi hobi bahkan mungkin habit tanpa disadari. Ya pokoknya selama saya masih tersambung dengan internet, saya akan terus belajar menulis di sini :)

      cheers!

  3. Orang tua menjadi pelupa biasanya karena mulia mis orientasi, jadi fikirannnya mulai tidak fokus terhadap sesuatu, apalagi sesuatu yang telah berlalu. itu sebabnya jadi sering lupa. ada juga alasan lainnya yaitu karena mereka mulai menyadari eksistensi orang lain (dirimu), sehingga cenderung menyederhanakan masalah dengan bertanya saja, itu jelas lebih mudah dan cepat. itung2 memetik buah dari jerih payahnya menyekolahkan kamu hehehe. Saya malah berharap Bapak Ibunya semakin menjadi2 menjadi pelupa (karena alasan di atas) karena sepertinya anaknya masih KURUS kesabarannya hehe, salam kenal

      • yoiiii hehehe, sbb kita tak berarti apa2 di lingkungan yg sempurna,
        itu akan membuat qt kehilangan peranan.
        qt perlu “ruang” yg menyebalkan utk melatih kesabaran,
        kemapanan dan kesempitan utk melatih rasa syukur,
        kelapangan untuk melatih keihklasan,
        ruang sepi dan hampa utk melatih exsistensi diri,
        kehilangan utk melatih rasa memiliki,
        perpisahan utk melatih rindu, dll
        gitu deh elga hehehehe….

Jadi, bagaimana menurutmu?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s