Serbuan Ulat Bulu


Saya terhenyak. Salah. Tepatnya nyaris terjungkal, saat saya baca headline Yahoo.com barusan: Serangan ulat bulu meluas

APA?!

ini terakhir kali gambar ini akan dimuat disini!

Ditambah harus melihat bentuk makhluk yang berbulu halus beracun gatal tajam itu! Aaarghhhrr! Ini sepertinya waktu yang baik buat mengungsi ke Afrika atau Kutub Utara deh! #lagak lu cong!#

Gak! Gak! Saya tidak mau berada di wilayah yang kena wabah! (waktu menuliskan ini saja, beberapa tempat di kulit saya sudah memerah dan terasa gatal) Oh, ini penyiksaan!

Saya alergi ulat bulu.

Ralat: Saya BENAR-BENAR alergi yang mendekati garis phobia!

Kalau ada orang phobia pada serangga, pada kondisi atau situasi tertentu saat mereka berhadapan langsung dengan sumber penyakitnya, saya bahkan bisa alergi dan gatal-gatal hanya dengan “mendengar namanya”

#dan gatal-gatal makin menghebat#

Mungkin hal ini dimulai waktu saya masih kecil. Semua orang pasti punya trauma ya kan? Nah, dulu saya hobi main di tanah. Yap! Saya hobi menggelinding, makan dan menjilat tanah :D *becanda brooo!* Ceritanya, tiba-tiba saya merasa sakit menyengat plus gatal hebat di telapak tangan. Saya tidak tahu apa yang menyebabkan sampai saya tunjukkan pada ibu saya: telapak saya ditancapi bulu-bulu (yang terlihat seperti jarum hitam) agak panjang mirip duri kaktus. Ibu saya langsung berseru, “Ya ampuuunn! kamu kena ulat bulu!”

oke, itu satu.

Kali kedua, di telapak tangan yang sama, ada jumlah bulu (lagi) yang meningkat signifikan dengan panjang separuh dari kejadian pertama. Warnanya saya lupa. Tapi lagi-lagi ibu saya berseru, “kamu kena ulat bulu!” Hmmm..sampai disini kalau anda berpikir saya super bego karena bisa kena ulat bulu lagi, mari kita lihat kejadian ketiga:

Saya lupa tepatnya, tapi saya AKHIRNYA sadar bahwa saya sedang memulai permusuhan panjang dengan ulat bulu. Saya kena lagi! Jreeenggg! Ini tidak mengarang atau membual ya, tapi kali ini telapak sayaaa DIPENUHI bulu halus warna abu-abuuu!!! Arrrgh tidaaak!

Waktu yang pertama, Ibu saya masih mencabutinya dengan pinset. Kali ketiga ini, telapak saya disiram minyak tanah! Ampun panasnya!

Sejak itu hanya melihat sosok itu meliuk-liuk sok seksi, berdenyut-denyut dengan bulunya yang lebat dan berkilau itu, saya ingin membakarnya! Ya, saya bisa melakukan pembunuhan hanya pada makhluk satu itu! Padahal dia nantinya jadi kupu-kupu lhooo, kenapa perlu jadi ulat bulu dulu sih??

Akhirnya saya cuma bisa berdoa sekeras-kerasnya: Tolong Tuhan! Jangan biarkan ulat bulu mendekatiku!

 

Jogja, penuh rasa cemas, gatal, dan benci! :(

Jadi, bagaimana menurutmu?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s