Romansa Kemarau


Sore itu saya menyusuri jalan menuju pulang saat matahari masih separuh di awang-awang. Hembusan anginnya enak. Persis seperti yang saya suka: hangat, lembut, menyenangkan. Saat melewati tanah lapang bekas sebuah bangunan dirubuhkan, sudut mata saya menangkap beberapa anak kecil berkejaran sambil membawa layang-layang. Ya, layang-layang berbentuk segi empat sederhana yang mereka sandang di bahu seperti ransel. Ahh..musim kemarau telah tiba…

Tak seperti musim hujan yang selalu menerbitkan kerinduan yang dibumbu risau, musim kemarau adalah musim kering yang membuat hati lebih bersemangat. Meski di beberapa tempat musim kemarau berarti kekeringan panjang, musim kemarau yang tersisa dalam kenangan saya selalu membawa kehangatan dan kegembiraan. Ada tiga hal yang selalu saya suka di suatu sore musim kemarau: angin hangat, permainan layang-layang dan…capung!

Saya jadi ingin sedikit melantur. Musim kemarau di negeri ini selalu saya imajikan dalam panggung pikiran sebagai musim panas di Jepang. Saya tidak pernah ke sana, tapi komik-komik karya manga-sensei negeri Sakura selalu membuat saya rindu. Saat kemarau hal yang terbayang adalah anak-anak berkaus kutung, bertopi jerami bundar lebar, duduk di beranda sembari mendengar denting kecil genta sambil makan semangka, atau berjalan di antara rerumputan yang menari sembari membawa jala penangkap serangga.

Topi bundar dan jalan rerumputan…sempurna!

denting merdu genta mungil? hmmm…

Capung-capung musim panas pun bertebaran di udara…

Oh! Benar! Capung itu memang makhluk mempesona ya! Gaya terbangnya yang ringan melayang, sayapnya yang tembus pandang, rapuh tapi kuat…selalu menggoda tangan untuk menangkap :D Saya sangat suka capung! Dulu kalau ada suara berisik membentur-bentur dinding dan plafon rumah, saya pasti langsung mencarinya. Sebisa mungkin binatang itu saya tangkap lalu saya lepaskan. Saya suka, well..mungkin ini bisa dibilang kejam, menangkap kedua pasang sayap capung dan membawa-bawa binatang malang itu untuk waktu lama. Saat saya lepaskan di jari, ia enggan terbang. Bukan jinak sepertinya, saya sudah melemahkan kemampuan terbangnya. Maaf ya…

Capung itu binatang yang kalau terbang berputar-putar selalu hinggap di tempat yang sama lho… Kenapa bisa begitu ya? Saya pernah lihat pembahasan tentang capung dan serangga di televisi tapi saya lupa. Mungkin belajar sedikit tentang capung dulu disini. Saya pernah menangkap capung mulai dari yang jenis paling kecil, capung jarum a.k.a kinjeng dom (jawa) sampai capung gajah yang besaaarrr! Ahhh…menyenangkan lho! Tapi ada satu jenis yang selalu saya takuti, capung merah. Soalnya jenis capung yang banyak terbang di musim kemarau itu tak segan menggigit :(

Musim kemarau juga musimnya main layangan. Saya ingat betul bagaimana anak-anak bersaing mainan itu. Mereka mengasah benangnya dengan serbuk kaca yang disebut gelasan lalu mengadunya. Yang kalah diadu tentu putus dan segerombolan anak sudah siap dengan tongkat atau ranting kayu dan berkejaran menangkapnya. Saya tidak ikut tentu saja, malas saja lari-lari hehehe. Soalnya setelah direbut, layangan itu toh akan rusak, minimal sobek kertasnya. Tapi kalau saya pikir sekarang, mungkin yang penting itu bukan layangannya tapi kebanggaan mendapatkan barang terbang melayang itu :D

Nah, saya jadi ingat satu hal yang konyol. Waktu itu kakak laki-laki saya ikut mengejar layangan tapi tidak dapat-dapat. Mungkin ayah saya gemas juga ya. Suatu sore….ayahlah yang turun lapangan mengejar layang-layang. Kontan saja rombongan anak-anak itu kocar-kacir! Apa pasal? Bapak saya kan tidak terlalu menakutkan. Umm..ya dia sedikit besar dan gendut sih… Tapi saya ingat kalau anak-anak itu kocar-kacir sambil berteriak-teriak kalap, “Buto ijoo!!! Ada buto Ijjooo!” Wakakakakaakk! Ayah langsung dimarahi ibu gara-gara ikutan main layangan :D

yap!inilah jobdesc saya kalau main layangan ©Wojciech Gajda

Saya tidak jago bikin layangan, apalagi memainkannya. Kalau main, saya selalu kebagian peran memegangi supaya kakak saya bisa menariknya. Menyebalkan! Diskriminasi perempuan memang sudah mewabah…bahkan pada permainan layangan! Tapi saya tak kurang akal, saya ambil kantung plastik hitam, saya ikat dengan benang panjang, saya tarik sambil lari-larian dan…voila! Jadi layang-layang(an)! :D Tapi, kalau melihat saya yang sekarang super penakut pada hal-hal mistik dan kehantuan, ibu saya geleng-geleng. Pada satu masa kecil, sayalah yang justru sangat semangat kalau diajak main layangan ke…kuburan! :D

sesekali ingin ke tempat seperti ini…

Ahh..musim panas kemarau yang bikin rindu…angin hangat, rumput kering kemerisik di kaki, layang-layang kecil beradu di langit dan…capung-capung bersayap transparan yang selalu menggoda untuk dikejar sambil merasakan cahaya keemasan yang membuat silau pandangan.

Selamat menikmati musim kemarau!

Gambar dipinjam dari:

http://www.appbrain.com/app/patterns-of-summer/jp.co.nec.app.android.g000285

http://www.bookofodds.com/Daily-Life-Activities/Hobbies-Recreation/Articles/A0379-It-s-Spring-Let-s-Go-Fly-a-Kite

http://foxhavenjournal.com/2007/08/26/dragonflies-and-a-little-mimosa/

http://goodbooksforyoungsouls.blogspot.com/2011/04/lets-go-fly-kite.html

http://www.pumushi.com/english

http://www.wallcoo.net/

4 thoughts on “Romansa Kemarau

  1. Membaca tulisan ini saya mmbuat saya teringat kembali masa lalu, bermain layang layang, bermain dengan belalang, capung, jangkrik dsb.
    Bermain layang2 sungguh asik.., mulai dari membuat layang2, membuat gelasan, memberi gelasan pada benang, semua itu adalah ritual wajib bagi kami para layang2 mania. Adalah sebuah kebanggaan tersendiri memiliki layang layang tangguh di angkasa dengan benang gelasan super tajam yang siap menghempaskan layang2 lainnya. Bagi para mania, bermain layang2 berarti lupa waktu, lupa makan, lupa pulang, lupa segalanya haha. hannya ada sorak sorai, tawa ria dari wajah wajah legam yang terbakar matahari hahaha.
    Menangkap Capung..
    Capung adalah satu diantara sekian banyak tanda datangnya musim kemarau, selain kupu2 dan tentu saja mekarnya bunga2 di seluruh wilayah tropis. Ohh nikmatnya menjadi bagian dari suasana itu..
    kala itu kami menyebut capung sebagai algojo, hal ini disebabkan karena adanya ritual unik diantara kami anak2 kampung, bagi yang kalah dalam setiap permainan adu ketangkasan, maka ia akan di pegangi oleh dua anak di sebelah kiri dan kanan, sementara seorang anak akan membawa capung kemudian menempelkan mulut capung tersebut pada pusarnya, ketika capung sudah menempel maka ia akan menggigit dan tidak mau lepas dari pusar tersebut seakan begitu menikmati gigitannya (walaupun sebenarnya itu adalah bentuk pembelaan diri) dan………. sudah bisa di duga apa yang akan terjadi adalah perasaan geli dan sakit. si terhukum akan meronta2 berteriak!!.
    Tidak semua capung bisa menjadi algojo, hannya capung tentara yg cocok, disebut capung tentara karena corak dan warna tubuhnya seperti baju tentara. Ugh kami sungguh kejam (berjuta maaf untuk para capung). Setelah selesai menjadi algojo maka para capung pun kami lepaskan, Para algojo sdh memberi hukuman bagi yang kalah…
    Kini setiap pengalaman2 itu telah menjadikanku mencintai alam…

    • hahahha!jadi lupa kalau pakai topi lebar sambil ngemut es krim tentunyaaa :D musim panas di sana ga sebanding sama suhu musim kemarau di sini kaaan :D huhh haaahhh..#ngelap keringet#

Jadi, bagaimana menurutmu?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s