Adik bungsu ibuku


Aku beruntung terlahir sebagai cucu pertama (bersama kakakku) dalam keluarga ibuku. Saat ibu menikah, adik-adiknya (bibi dan pamanku) masih berstatus siswa sekolah. Wajarlah, ibuku menikah di usia yang kalau dihitung dengan perbandingan umur anak sekarang terhitung muda dan labil.

Mungkin karena ibu anak sulung, adik-adiknya juga sempat tinggal bersama keluarga kami. Dalam satu ingatan masa kecil yang samar, aku merasa senang tinggal bersama mereka satu per satu untuk menjagaku.

Pamanku, adik bungsu ibu, adalah orang yang paling kuingat dalam ingatan itu. Ia sosok kakak laki-laki bagiku dan bagi kakakku. Orang yang kalem, tenang, dan bisa menjaga anak kecil. Aku sangat dekat dengannya sampai tidak memanggilnya dengan sebutan Om atau paman, melainkan “Mas”. Bagiku, ia selalu seperti itu.

Pernah satu kali, ia mengajakku pergi belanja ke warung. Sampai di sana ia bertanya, “Dek Iya mau sprit?” hah? sprit itu apa? batinku. Tapi aku tak bertanya. Kebiasaan jelek waktu kecil: tidak tahu tapi enggan bertanya. Saat itu otak kecilku mengasosiasikan nama itu dengan peluit. Kok bisa? Iya…sprit=semprit=peluit. Simpel. :D

Akhirnya Om-ku itu menyodorkan padaku air bergelembung yang dituang dari botol hijau ke dalam plastik. Saat kuminum…ugh! busanya menggelitik kerongkonganku! Ternyata, yang ditawarkannya adalah Sprite! Hahaha, kalau ia ternyata benar membelikanku peluit apakah aku akan senang? :) Satu lagi jajanan favorit yang hobi ia belikan: roti sisir. Sekali lagi teman, asosiasiku langsung membentuk gambaran sisir! Meski aku jadi suka setengah mati pada roti mentega ala warung itu. Ngangeni pokoknya!

Ingatan lain bertindihan di kepalaku. Om-ku berjanji suatu kali, akan membawakanku burger McD yang saat itu iklannya gencar ditampilkan di majalah Bobo. Ia berjanji akan membawanya sepulang dari Surabaya. Tentu saja burger itu sudah dingin waktu kuicipi, dan aku tidak suka. Bagiku rotinya pahit dan ada daun seladanya! Tapi kalau kupikir sekarang, entah berapa uang yang harus ia sisihkan saat itu untuk memenuhi janji pada ponakan yang penasaran.

Lalu…kenapa tiba-tiba aku membicarakan adik bungsu ibuku?

Sebab, ia tak ada lagi sejak dua hari lalu.

Sebab, terakhir yang kulihat hanya gundukan tanah basah bertabur mawar dan kenanga. Sebab tiba-tiba aku merindukannya. Sebab ia adalah sosok dekat yang membuatku cemburu saat ia mengenalkan padaku orang baru yang kemudian hari jadi bibiku.

Sebab, saat melihat adik-adik sepupuku, aku tahu…

Aku terlalu beruntung. Aku mengenal ayah mereka lebih lama. Aku menikmati perhatian ayah mereka lebih lama, sementara mereka hanya sebentar saja. Bahkan mereka tidak sempat mengenal mbah putriku…

Aku terlahir beruntung sebab aku adalah cucu pertama di keluarga ibu. Dan aku beruntung dilimpah kasih sayang dari adik-adik ibuku…

Om-ku, adik bungsu ibu, satu-satunya anak lelaki dalam keluarga inti ibu…sudah tidak ada.

Aku tidak diijinkan atau mengijinkan diriku lepas kendali menahan air mata. Masih ada perasaan adik-adik sepupu yang harus kujaga. Mereka mungkin belum sepenuhnya sadar bahwa sang ayah sudah tak bisa bersama. Mungkin akan ada malam-malam mereka terbangun dengan perasaan demikian sepi dan sendiri…

Aku hanya bisa membawa nama Om-ku dalam doa. Adik bungsu ibu, semoga Ia membukakan pintunya untukmu. Tempat di mana kau bisa melihat anak-anakmu tumbuh dewasa. Kumohon, sertailah mereka dari sana…

Rest in Peace, Yohanes Agus Susanto 1971-2011

Jadi, bagaimana menurutmu?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s