Ciri khas alias Signature Style


Saya suka nebeng (numpang) nonton siaran tv kabel di rumah teman beberapa kali. Terpesona oleh ratusan acara menarik yang tidak ada di televisi nasional :D Salah satu yang saya suka adalah Shear Genius. Itu adalah semacam acara ajang pencarian bakat di bidang hair stylist, pesertanya harus bisa menunjukkan kemampuan menggunting rambut dan mewarnai sekaligus menata sesuai permintaan juri dalam waktu yang super singkat. Nah, dalam episode kemarin, masing-masing peserta harus menata rambut 2 model sekaligus diri mereka sendiri dan menunjukkan signature style mereka. Sehingga, setiap orang bisa mengenali si hair stylist melalui rancangan atau tatanan rambut yang mereka aplikasikan pada para model. Eh? Memangnya model rambut bisa diberi ciri khas? 

Saya menganggap bahwa pemahaman bebas signature style adalah ciri khas yang ditorehkan individu pada karya mereka (dalam bentuk apapun) agar menunjukkan identitas pribadi mereka yang khas. Saya juga melihat bahwa beberapa blogger membubuhkan semacam “ciri” tertentu pada tulisan mereka. Entah itu tanda baca, pengulangan satu frase judul yang sama atau awal kalimat yang selalu sama.

Apa intinya?

Dengan jumlah manusia di muka bumi yang bisa mengakses media atau dunia maya, jumlahnya jutaan, kita sebagai individu tentu ingin menonjolkan diri dengan cara yang berbeda. Yah, bisa dibilang ingin tampil unik, khas, dan tiada duanya :D

Inginnya sih, begitu orang membaca tulisan saya, mereka langsung tahu bahwa itu saya yang menulisnya. Bukan orang lain, bukan buatan orang yang kebetulan mirip dengan milik saya. Tapi memangnya mudah begitu? Tidak mungkin deh menurut saya :D

Ciri khas atau identitas pribadi atau signature style itu akan mudah dikenali jika kita melakukan hubungan yang sangat intensif terhadap beberapa orang yang kita tuju untuk memahami “kebiasaan” kita itu. Kalau tidak ya percuma. Coba, mana bisa saya bilang begini pada anda yang baru saya temui satu kali, “saya selalu pakai kacamata berangka hitam, membawa tas cokelat buluk dan bersepatu sneakers. Itu ciri khas sayaatau, ” saya selalu membubuhkan tanda tangan singkat di setiap akhir postingan blog saya dan saya selalu menggunakan kata-kata A, B, C, D untuk postingan saya. Itu ciri khas saya

Well? Tentu tidak bisa begitu juga kan? Bisa-bisa saya dianggap “terlalu ngotot” atau “berlebihan” ingin menonjolkan keunikan pribadi saya.

Saya jadi ingat…baru-baru ini saya berbalas pesan pendek dengan adik sepupu yang usianya lebih muda 14 tahun dibanding saya. Dia menggunakan kata-kata dengan huruf besar, didobel bahkan tripel (contohnya: MAAANNNAAA untuk mengatakan “mana”) begitu, plus tanda baca yang meriah dan murah hati (tanda seru saya hitung ada 10 di belakang kalimatnya :P). Begitulah. Sebagai seorang konvensionalis yang menjunjung tinggi kejelasan informasi dan etika berbahasa, tentu saja saya “mengkuliahi” adik saya itu. Saya bilang padanya bahwa dia alay (anak lebay–> berlebihan) :D dan saya terangkan bahwa huruf-huruf besar hanya digunakan untuk menyatakan kemarahan atau rasa jengkel yang tak tertahankan. Saya katakan padanya, jangan sembarangan menggunakan huruf besar atau tanda baca berlebihan. Bagaimanapun pesan pendek ponsel bisa menyebabkan salah paham bukan? Hmm…apa yang terjadi? Dia menuduh saya yang alay dan mengatakan bahwa cara SMS semacam itu sudah jadi ciri khas dia, Wahahahahah! Saya tidak tega untuk bertengkar dengan anak belia yang berusaha terlihat dewasa. Saya paham rasanya berada di usia seperti itu. Saat remaja, anda tak mau bukan dibilang “kamu tuh masih kecil, belum tahu apa-apa.” Maka saya biarkan saja dia menganggap saya alayyy…dan berharap semoga kelak dia bisa belajar lebih banyak hal :D

Saya juga ingat bahwa seorang teman selalu membubuhkan “thanks before” untuk setiap pesan pendek yang dikirimkannya untuk saya, atau teman lain yang selalu menaruh kata “aloha” sebagai kata sapa. Mungkin ini yang bisa dikatakan sebagai contoh self branding atau usaha membangun merek personal.

Koreksi saya kalau saya tidak tepat mengungkapkannya ya… :) Buat saya hal itu tidak salah dan sah-sah saja. Saya sendiri ingin punya merek personal yang khas. Tapi…hati-hati. Seandainya kita terlalu kaku menerapkan hal itu, bisa berbalik jadi bumerang yang akhirnya membuat tampilan kita seperti salah kostum di pesta. Maunya buat satu ciri khas, eeehh ternyata “stempel” atau “slogan” yang kita pakai itu tidak fleksibel dipakai di setiap kesempatan.

Contohnya, ya sepupu dan teman-teman saya itu. Bagaimana anda tahu sepupu saya marah, sedih, bersemangat atau lesu andai dia selalu menggunakan huruf besar dan tanda baca meriah semacam itu? (AKKUUU KKAAAN UDDDAAH BIASSSA AJJAAA!!!#@@#@) :D atau bisa jadi anda merasakan apa yang saya alami saat mengernyitkan dahi membaca pesan yang intinya pemberitahuan dengan akhir kalimat “thanks before”?

Maaf menyela, saat ini kalimat “thanks before” sudah mulai dibenahi menjadi “thanks in advance” untuk menyatakan rasa terima kasih pada seseorang yang mau melakukan satu hal untuk si pengirim pesan. “Thanks before” adalah terjemahan bebas dari bahasa Indonesia “Terima kasih sebelumnya” hehehe… Maka saya beranggapan bahwa saya memang layak mendapat ucapan terima kasih jika saya melakukan sesuatu untuk pengirim pesan. Lha kalau cuma untuk memberitahu atau dia tidak meminta sesuatu, buat apa berterima kasih? :) rasanya malah salah paham jadi basa-basi saja.

Contoh lainnya ya kalau orang pakai baju itu lho. Kan jaman sekarang baju sudah bukan kebutuhan pokok tapi lebih ke persoalan gaya. Banyak perancang busana, kritikus atau model yang menyarankan agar setiap orang memilih sendiri “personal style” mereka agar terlihat bergaya dan “menonjol” bukan? Kalau buat saya sih, hal itu bisa dilakukan kalau ada duitnya :D Bagaimana bisa saya mengemas baju yang berbeda kalau baju itu diproduksi dalam jumlah banyak dan gayanya sudah ditentukan oleh para “fashionista” itu? Lagipula saya tetap harus memperhatikan dimana saya memakai baju berjenis apa bukan?

Bagaimanapun, membangun ciri khas itu memang butuh dilakukan, tapi fleksibilitas juga harus sedikit diupayakan menurut saya. Sebab jangan sampai, dengan niat mempertahankan ciri khas, maksud kita yang sesungguhnya jadi tak tersampaikan atau malah salah dipahami orang lain. Saya pribadi tidak ingin mencoba membubuhkan tanda apapun yang bisa jadi ciri khas. Sebab saya selalu teringat pada kata-kata almarhum dosen Filsafat dan Etika Komunikasi saya, Bp Pappilon Halomoan, bahwa “sebenarnya kita itu tidak unik. Kita sama dengan setiap orang yang ada di muka bumi ini.” Lebih lanjut beliau mengatakan bahwa kalau misalnya kita menyukai cerita dalam novel tertentu, misalnya, “sesungguhnya karena kita mencari kemiripan antara karakter kita dengan karakter si tokoh. Atau kita menyamakan karakter kita dengan tokoh yang kita sukai.” Hmm..itu menjelaskan kenapa saya suka karakter tokoh tertentu di manga-manga Jepang :D mungkin karena saya memproyeksikan diri sendiri pada karakter tersebut.

Apakah anda berani bertaruh tidak ada seorangpun di dunia ini, entah di belahan bumi manapun, yang sedang tidak memikirkan ide, gagasan atau apapun yang sedang anda pikirkan sama persis? Jutaan orang terlahir di menit, detik pada tanggal dan hari yang sama. Meski beda bahasa, budaya dan dibatasi garis negara, apa iya, setiap individu punya ciri khas yang sama sekali tidak dimiliki individu lain sehingga dia tak ada duanya? Tuhan itu Mahakreasi, Dia punya sekian formula yang kalau dicampur-campur akan menghasilkan saya, anda, dan mereka. Tapi nyatanya, yang membedakan kita ini cuma takarannya saja kan? Asalnya tetap sama (ini cuma teori-teorian saja lho ya) :D Kalaupun ada orang yang sangat khas dan dikenal banyak orang akibat ciri pribadi, saya bisa bilang hal itu terjadi karena kita dan banyak orang lainnya, menaruh perhatian yang sama ke dia.

Maka…

Hidup Fleksibilitas! (Asal jangan menyangkut prinsip kebenaran dan etika saja yaaa) :D

Salam hangat,

Jadi, bagaimana menurutmu?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s