Mengenang Mei 1998


Di antara sekian banyak fakta sejarah yang tak terungkap, kasus-kasus yang tertutup dengan sendirinya tanpa penyelesaian…mungkin Mei 98 adalah yang paling menakutkan untuk saya…

Maka, setelah 13 tahun berlalu…ini saat untuk mengingatnya agar pikiran tidak lupa. Bahwa peristiwa kala itu benar-benar ada. Salah satu tulisan yang cukup memadai untuk mengenang mei saya dapatkan dari blogger Ndoro Kakung dengan Mei Pecas Ndahe.

Mengapa menakutkan untuk saya? Sebab saya kala itu masih SD dan saya perempuan.

Saya memang tidak berada di Ibukota kala itu, pun tak tinggal di kota lain tempat terjadinya kerusuhan mengerikan. Tapi saya paham apa yang terjadi. Sebab melalui cerita mulut ke mulut kalangan terbatas saya mengetahui…ada banyak perempuan diperkosa dan semua orang ramai-ramai mengaku “pribumi”.

Saat itu media mana pun tidak secara terbuka mengatakan ada perkosaan melainkan hanya kerusuhan dan penjarahan. Tapi saya membaca cerita-cerita tentang apa yang terjadi. Waktu itu situasinya sangatlah mengerikan. Mereka yang beretnis Tionghoa sampai harus membaurkan wajah dengan arang supaya tak terlihat putih. Seorang ayah harus melihat anak dan istrinya diperkosa ramai-ramai lalu dilempar melalui jendela. Sementara yang masih hidup jadi trauma.

Chaos…

Saya gemetar ketakutan saat berusia SD karena mengetahui ada perempuan-perempuan lain di sana yang sangat terluka dan tersiksa. Bagaimana kejiwaan mereka bisa pulih seperti semula? rasanya takkan bisa.

Saya sampai tidak ingin menceritakan detil yang saya baca dan saya dengar… tidak berkemanusiaan untuk dijadikan pemenuhan rasa penasaran. Fakta bahwa kejahatan memang terjadi dan perlu diadili, itu cukup.

Lalu setelah 13 tahun berlalu…adakah yang berubah?

Ada… mereka yang menjadi korban tetap terluka dan trauma

dan ya…tidak ada keadilan yang ditegakkan untuk mereka.

Pelaku adalah massa, gerombolan, sekelompok besar orang yang sulit dilacak dan dihukum atau diadili satu-satu. Mungkin inilah cara kerja iblis sebenarnya…tidak membiarkan kejahatan dipikul sendirian, tapi beramai-ramai agar tak ada pertanggungjawaban. Tak perlu takut, yang lain juga melakukannya. Tak perlu bersalah, toh mereka juga.

Dan lembar hangus itu masih menghitam…berusaha ditutupi dedaunan di tengah makam.

Dengan duka mendalam pada para korban…

Jadi, bagaimana menurutmu?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s