(Cuapan gak penting) Edisi 1: Terharu


Ini adalah edisi menulis bebas. Saya benar-benar ingin merasa bebas saat menulis dan mengabaikan bahwa ada kemungkinan lebih dari 5 orang membaca topik ini. Saya harus mengakui bahwa blog ini mulai bergeser dari jurnal pribadi, menjadi ajang opini. Maka saya pun kemudian semakin berhati-hati agar tidak ambil langkah mati: bikin orang lain marah atau sakit hati.

Nah, saya sedang berusaha kembali ke hasrat semula menulis blog ini: cuap-cuap gak penting. Maunya ya ngobrol ngalor-ngidul. Tidak perlu memusingkan topik tertentu atau mencari kata-kata baku :D

Saya sedang malas jaga imej. Soalnya terakhir saya cek, imej saya kabur entah kemana…blur seperti foto ngawur :D

Oke…itu sedikit penjelasan (sedikit??) supaya hati saya tenang meneruskan proyek ngawur dan tidak penting ini. Saya harus berhenti menganggap sesuatu benar-benar penting supaya hati saya lega tidak bertanggung jawab saat orang lain mengatai hal itu sangat tidak penting :D Ini adalah taktik psikologis saya: menyugesti pikiran saya dengan harapan-harapan yang “rendah”, “tidak muluk” supaya nanti jika hasil yang dicapai melampui perkiraan….Tarraaa!! Saya super bahagia! :D begitulah resep bahagia ala saya. Sangat tidak berdasar dan tidak bisa dipertanggungjawabkan :P

and here we go…

Saya baru-baru ini merasakan sentakan kesadaran rasa baru: haru. Beda dengan haru saat menonton film Korea yang padat air mata ya, ini adalah haru bentuk baru: orisinal dirasakan karena hati terenyuh…opo toh yooo :D

Jadi, selama ini saya sadar sungguh bahwa tidaklah mudah untuk seseorang berteman dengan saya :) Sepanjang ingatan, saya bukanlah orang yang menyenangkan luar dalam untuk dijadikan kawan jangka panjang. Mood saya yang berubah-ubah, sifat saya yang pemarah, dan kata-kata cenderung tajam mengiris perasaan adalah sekian dari daftar sifat yang bakal dihitung dalam proses pertemanan. Jangan tertipu dengan wajah manis dan keramahan saya. Saya bisa dibilang supel dan menyenangkan di awal pertemuan soalnya saya memang suka bertemu orang baru :D Tapi kalau saya tidak merasa nyaman, saya akan menjauh perlahan. Bagi mereka yang entah kenapa, mungkin nasib sial, naik status jadi teman, harus berhadapan lagi dengan sekian sifat-sifat penuh tuntutan. Capek? Pastinya. Saya tidak pernah mempermudah sifat saya. Setiap kali ingin menahan diri, sedetik itu pula saya makin mudah lepas emosi *ke laut aja deh Ga* :D Makanya, hingga detik ini saya tidak pernah menghitung teman yang saya miliki. Sebab saya tidak yakin mereka bisa bertahan dengan saya, dan kadang…saya pun tidak yakin bisa bertahan dengan mereka…

Kenapa sih saya tidak dianugerahi sifat yang lempeng, pemaaf, riang dan hangat setiap saat? Kunci dari pertemanan yang menyenangkan adalah sifat yang mudah…bukan sulit. Dan anehnya saya senang jadi orang sulit :P Mengeluhkan hal-hal sepele sudah jadi rutinitas per jam..sebab itu cara termudah untuk meringankan masalah: lempar saja uneg-uneg, selesai. Untuk yang dilempari? Heheheh maaf ya, sudah jadi tong sampah :D

Tapi ternyata…masih ada juga yang bertahan. Dan saya mengingat beberapa momen yang membuat saya terharu dan menyadari sesuatu: Astagaa…ternyata saya memang memiliki teman (T_T). Asli lho, tidak sewa dari rental atau tidak pakai perdukunan ilmu pelet BPP (Best Pren Poreper)  :D

Yang pertama, sekitar dua tahun yang lalu…seorang teman yang bekerja di Jakarta bersikeras ingin mengirim video via email namun tidak bisa. Saat saya tanyakan video itu tentang apa? ia tak mau menjawabnya. Akhirnya, setelah sekian bulan, dalam pertemuan langsung saat ia datang ke Jogja, ia menyerahkan sekeping CD dan meminta saya memutarnya kalau sudah pulang. Di kamar kos, saya memutar CD tersebut yang ternyata berisi rekaman dari dia dan teman saya yang lain. Kami bertiga dulu sempat berbagi suka duka pertama kali menginjakkan kaki di Ibukota. Saya untuk magang, mereka untuk mencari kerja. Mereka mengucapkan selamat ulang tahun dengan rekaman seadanya dari laptop di kamar minim penerangan dan menyemangati saya untuk segera merampungkan skripsi. Tess…mata saya seketika bocor…astaga, mereka mengingatnya. Dan mereka memberikan semangat membara “ayo Elga, kamu pasti bisa”

Kali kedua, justru mendahului kali pertama (cerita dan ingatan saling tumpang tindih). Saat itu saya mengulang tahun, entah yang ke berapa saya lupa (ngeles biar ga ketauan umurnya). Beberapa teman datang dan “mengerjai” saya. Sekedar informasi tambahan, saya jarang dikerjai atau diberi kejutan terutama terkait ulang tahun :D Bukan apa-apa, ulang tahun saya selalu jatuh pada hari libur atau momen kenaikan kelas jadi tidak memungkinkan bertemu teman-teman :P Ada seorang teman yang belum saya kenal, menelepon saya mengaku-ngaku pengagum rahasia. Haaa..bukannya ge-er, saya malah paranoid “jangan-jangan dia ini orang gila” Pakai ngaku-ngaku anak Kapolda segala :D Bilangnya tahu saya karena sesama penggemar Harry Potter (makin gak masuk akal) hahaha! Tapi setelah situasi makin tidak jelas, beberapa kepala muncul meneriaki ucapan selamat :D Surpriseee!

Dan kali ketiga adalah saat saya mengajak beberapa teman makan-makan. Saya ingin berterima kasih sudah dibantu dan disemangati saat skripsi. Saya sudah banyak merepotkan mereka. Ada yang saya culik untuk menemani wawancara, ada yang saya minta kerja rodi memilah data, ada juga yang saya tumpangi kamar kosnya (ingat kejadian itu kan?) ada juga yang saya paksa jadi tenaga IT pribadi. Saya hutang budi pokoknya :D Ehh…pas saya selesai memesan menu, salah seorang teman mengeluarkan sebuah kotak..katanya untuk saya. Waktu saya buka…taraaa ada selembar syal rajut dan sepasang anting chandelier di dalamnya. Untuk saya? Wow! Saya sungguh terharu…sebab teman-teman saya ini bukan tipe “seperti itu” hehehe. Susah menjelaskannya. Tapi mereka memberikan kado wisuda lhooo….ya ampuuun!

Lalu ketika saya berpikir sampai saat ini…apakah mereka menganggap saya benar-benar seorang teman seperti saya menyayangi mereka sebagai teman? Mungkin kadarnya berbeda, mungkin sama, mungkin tidak bisa diukur. Tapi…hey, I’ve got friends! :D

Mungkin berteman dengan saya terasa sulit, tapi saya sungguh menghargai mereka yang masih ada di sisi saya sampai detik ini. Hei teman, apa kalian tahu aku sungguh menyayangimu? Bertahanlah beberapa tahun lagi..dan beberapa waktu ke depan, kita masih seperti ini…

Terima kasih…

Jadi, bagaimana menurutmu?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s